Bisnis.com, JAKARTA —Minat korporasi untuk menerbitkan surat utang atau obligasi sebagai instrumen penggalangan dana di pasar modal mulai menggeliat pada awal 2026.
Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat penerbitan obligasi korporasi sepanjang 1-15 Januari 2026 mencapai 9 emisi dari 7 penerbit efek bersifat utang dan sukuk (EBUS). Total dana yang dihimpun sebesar Rp5,85 triliun.
Pada 14 Januari 2026, PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA) resmi mencatatkan Obligasi Berkelanjutan V Tahap I Tahun 2025 senilai Rp1,5 triliun. Obligasi TPIA tersebut mendapatkan peringkat idAA- dari Pefindo dengan PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. bertindak sebagai wali amanat.
Sebelumnya, BEI melakukan pencatatan terhadap Obligasi Berkelanjutan I Energi Mega Persada Tahap I Tahun 2025 oleh PT Energi Mega Persada Tbk. (ENRG) senilai Rp500 miliar, Obligasi Berkelanjutan V Summarecon Agung Tahap I Tahun 2025 oleh PT Summarecon Agung Tbk. (SMRA) senilai Rp351,96 miliar.
BEI juga mencatat penerbitan dua jenis surat utang PT Eagle High Plantations Tbk. (BWPT) pada 7 Januari 2026. Pertama, Obligasi Berkelanjutan I Eagle High Plantations Tahap III Tahun 2025 senilai Rp210 miliar. Kedua, Sukuk Mudharabah Berkelanjutan I Eagle High Plantations Tahap II Tahun 2025 senilai Rp290 miliar.
Hingga akhir pekan ini, BEI mencatat terdapat 10 emisi dari 5 penerbit EBUS yang masih berada dalam pipeline obligasi.
Pipeline itu berisi penerbit dari perusahaan sektor energi sebanyak 3 perusahaan, perusahaan sektor industrial 1 perusahaan, dan perusahaan sektor infrastruktur 1 perusahaan.





