Menurutmu, Apa Faktor Paling Penting dalam Kesuksesan Karier?

erabaru.net
3 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Kecerdasan tidak akan pernah mampu menutupi kekosongan moral. Moralitas adalah fondasi kekuatan suatu bangsa—lalu mengapa banyak negara maju di Eropa tetap kuat dan makmur?

Beberapa hari yang lalu, dalam sebuah acara wawancara di televisi, hadir seorang pengusaha muda yang cukup terkenal saat ini. 

Menjelang akhir acara, seperti biasa, pembawa acara mengajukan pertanyaan terakhir: “Menurut Anda, kualitas apa yang paling menentukan kesuksesan dalam berkarier?”

Setelah merenung sejenak, dia tidak langsung menjawab. Dengan tenang, dia justru menceritakan sebuah kisah berikut ini:

Dua belas tahun yang lalu, seorang pemuda baru saja lulus kuliah dan pergi ke Prancis untuk melanjutkan studi sambil bekerja paruh waktu.

Seiring waktu, dia menyadari bahwa sistem transportasi umum di sana menggunakan sistem pembelian tiket mandiri. Artinya, penumpang membeli tiket sendiri sesuai tujuan. Stasiun-stasiunnya hampir semuanya terbuka—tidak ada gerbang pemeriksaan, tidak ada petugas tiket, bahkan pemeriksaan acak pun sangat jarang dilakukan.

Dia melihat hal ini sebagai sebuah “celah” dalam sistem pengelolaan—setidaknya menurut cara berpikirnya.

Dengan kecerdasannya, dia menghitung peluangnya secara matematis: kemungkinan tertangkap karena naik tanpa tiket hanya sekitar tiga dari sepuluh ribu.

Dia merasa bangga dengan “penemuan” ini. Sejak saat itu, dia pun sering naik kendaraan umum tanpa membeli tiket. Dia bahkan menemukan alasan untuk menenangkan dirinya sendiri: “Aku kan masih mahasiswa miskin. Bisa hemat sedikit, ya hemat saja.”

Empat tahun berlalu. Dengan ijazah dari universitas ternama dan prestasi akademik yang sangat baik, kepercayaan dirinya melonjak. Dia mulai sering melamar pekerjaan ke berbagai perusahaan multinasional di Paris, dengan penuh keyakinan menawarkan dirinya—karena dia tahu perusahaan-perusahaan itu tengah gencar mengembangkan pasar Asia Pasifik.

Awalnya, perusahaan-perusahaan tersebut menyambutnya dengan sangat antusias. Namun beberapa hari kemudian, semuanya menolak dengan alasan yang sopan.

Kegagalan demi kegagalan membuatnya marah. Dia yakin bahwa perusahaan-perusahaan itu bersikap diskriminatif dan tidak mau menerima orang Tiongkok.

Pada akhirnya, dia mendatangi kantor manajer HRD salah satu perusahaan dan menuntut penjelasan yang masuk akal mengapa dirinya tidak diterima.

Namun, jawaban yang dia dapatkan benar-benar di luar dugaannya.

Berikut adalah potongan dialog yang sangat menggugah: “Pak, kami sama sekali tidak mendiskriminasi Anda. Justru sebaliknya, kami sangat menghargai Anda.

Perusahaan kami sedang mengembangkan pasar Tiongkok dan membutuhkan talenta lokal yang unggul. Karena itu, sejak awal kami sangat tertarik pada latar belakang pendidikan dan kemampuan akademik Anda. Terus terang, dari sisi kemampuan kerja, Anda adalah kandidat yang kami cari.”

“Kalau begitu, mengapa perusahaan tidak mau menerima talenta terbaik?”

“Karena kami memeriksa catatan kredit Anda, dan menemukan bahwa Anda pernah tiga kali tertangkap melakukan pelanggaran naik bus tanpa tiket.”

“Saya tidak menyangkal hal itu. Tapi hanya karena masalah kecil seperti ini, kalian menolak seseorang yang telah berkali-kali menerbitkan artikel ilmiah?”

“Masalah kecil? Kami tidak menganggapnya sepele. Kami mencatat bahwa pelanggaran pertama terjadi pada minggu pertama Anda tiba di negara kami. Saat itu, petugas percaya pada penjelasan Anda karena Anda mengaku belum memahami sistem tiket mandiri, sehingga hanya diminta membeli tiket tambahan. Namun setelah itu, Anda masih dua kali kembali melanggar.”

“Saat itu kebetulan saya tidak punya uang receh.”

“Tidak, Pak. Saya tidak setuju dengan penjelasan tersebut. Anda justru meremehkan kecerdasan saya. Saya yakin sebelum tertangkap, Anda sudah ratusan kali naik tanpa tiket.”

“Bukankah itu tidak sampai pada kejahatan besar? Mengapa harus dipermasalahkan sedemikian rupa? Bukankah saya bisa berubah ke depannya?”

“Tidak, Pak. Peristiwa ini membuktikan dua hal:

Pertama, Anda tidak menghormati aturan. Lebih dari itu, Anda pandai menemukan celah dalam aturan dan sengaja memanfaatkannya.

Kedua, Anda tidak dapat dipercaya. Sementara banyak pekerjaan di perusahaan kami hanya bisa dijalankan berdasarkan kepercayaan. Jika Anda bertanggung jawab atas pengembangan pasar di suatu wilayah, perusahaan akan memberi Anda wewenang yang besar. Demi efisiensi biaya, kami tidak mungkin membangun sistem pengawasan yang rumit—sama seperti sistem transportasi umum kami.

Karena itu, kami tidak bisa mempekerjakan Anda. Bahkan dapat saya pastikan, di negara ini—bahkan di seluruh Uni Eropa—Anda mungkin tidak akan menemukan perusahaan yang bersedia mempekerjakan Anda.”

Barulah saat itu dia tersadar sepenuhnya dan diliputi penyesalan yang mendalam. Namun kalimat terakhir dari pihak perusahaanlah yang benar-benar mengguncang hatinya:

“Moralitas sering kali mampu menutupi kekurangan kecerdasan. Namun kecerdasan tidak akan pernah mampu mengisi kekosongan moral.”

Renungan Redaksi

Tidak memasang aturan secara ketat bukan berarti tidak ada aturan.

 “Jangan lakukan kepada orang lain apa yang tidak ingin kamu terima”—itulah aturan paling dasar.

Tidak adanya pengawasan bukan berarti tidak ada penjagaan. Hati manusia adalah penjaga terbaik. Segala yang kamu lakukan akan tersimpan dalam ingatan orang lain.

Hari ini terbiasa mencari celah, esok hari akan terbiasa mengejar keuntungan semata, dan akhirnya lupa pada moral.

Integritas adalah modal terbesar dalam hidup. Dia juga menjadi ukuran utama bagi orang lain untuk menilai apakah kita layak dipercaya dan diberi tanggung jawab. (jhn/yn)


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
BNPB: Mayoritas Bencana Banjir dan Longsor Terjadi Sepekan Terakhir
• 14 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Waspada! Hujan Lebat hingga Banjir Rob di Banten 17–22 Januari
• 10 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Komisi IX Kecam Kasus Perundungan PPDS Unsri: Negara Tak Boleh Kalah Lawan Budaya Kekerasan
• 22 jam laluliputan6.com
thumb
Perbandingan Harga Emas Hari Ini, 17 Januari 2026: Galeri24, Antam, atau UBS, Mana Paling Untung?
• 7 jam lalumerahputih.com
thumb
BeauPicks: Makeup Starter Kit! Ini 6 Produk Wajib Buat Kamu yang Baru Mulai Belajar Makeup
• 20 menit lalubeautynesia.id
Berhasil disimpan.