Profil Henry Pribadi, Konglomerat Indonesia yang Cucunya Meninggal Saat Main Ski

grid.id
3 jam lalu
Cover Berita

Grid.ID- Profil Henry Pribadi kembali menjadi sorotan publik setelah kabar duka menyelimuti keluarga besar pendiri Napan Group tersebut. Cucu Henry Pribadi, Rylan Henry Pribadi, meninggal dunia pada usia 17 tahun akibat kecelakaan saat bermain ski di Jepang.

Mengutip Kompas.com, peristiwa tragis itu terjadi pada 7 Januari 2026 dan pertama kali diberitakan oleh media asing, Dailymail. Kepergian Rylan memicu gelombang ucapan belasungkawa dari berbagai tokoh nasional.

Sejumlah figur publik menyampaikan empati dan duka mendalam kepada keluarga besar Pribadi. Di tengah kabar tersebut, perhatian publik tertuju pada profil Henry Pribadi sebagai salah satu konglomerat besar Indonesia.

Ucapan duka cita salah satunya datang dari Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto. Melalui akun Instagram pribadinya, Airlangga menyampaikan belasungkawa atas wafatnya Rylan Henry Pribadi, putra dari Reza Pribadi sekaligus cucu Henry Pribadi.

Ketua Umum Kadin Indonesia, Anindya Bakrie, juga menyampaikan duka mendalam dan mengenang Rylan sebagai sosok muda yang berprestasi, berkarakter, dan penuh potensi. Dukungan moral tersebut menunjukkan kuatnya jejaring sosial dan bisnis keluarga Pribadi di tingkat nasional.

Profil Henry Pribadi 

Profil Henry Pribadi mencerminkan perjalanan panjang seorang pengusaha yang pernah berada di puncak kejayaan konglomerasi nasional. Henry Setiawan Pribadi lahir di Kudus, Jawa Tengah, pada 1948 dengan nama Tionghoa Liem Oen Hauw.

Dikutip dari Bangkas Pos, Sabtu (17/1/2026), ia dikenal sebagai pendiri Napan Group, sebuah kelompok usaha besar yang berjaya pada era 1980–1990-an. Bersama dua saudaranya, Andry Pribadi dan Wilson Pribadi, Henry merintis usaha keluarga tersebut sejak Maret 1972. Dari usaha dagang sederhana, Napan Group berkembang menjadi konglomerasi besar di Indonesia.

Jejak Bisnis 

Napan Group disebut sebagai salah satu simbol konglomerasi nasional sebelum krisis moneter. Grup ini melakukan diversifikasi ke berbagai sektor strategis, mulai dari manufaktur, petrokimia, perkebunan, properti, perbankan, telekomunikasi, hingga media.

Pada masa puncaknya di era 1990-an, Napan Group memiliki puluhan anak usaha dan mencatatkan pendapatan lebih dari Rp1 triliun pada 1996. Keberhasilan tersebut menempatkan Henry Pribadi sebagai salah satu pengusaha paling berpengaruh di Tanah Air.

Namun, krisis moneter 1997–1998 menjadi titik balik besar dalam profil Henry Pribadi. Napan Group tercatat sebagai salah satu obligor besar Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) dengan kewajiban mencapai sekitar Rp2,98 triliun. Melalui proses restrukturisasi, pelepasan aset, dan negosiasi panjang, grup ini mampu bertahan meski skala bisnisnya menyusut signifikan.

Mengutip berbagai sumber, termasuk Wikipedia per Sabtu (17/1/2026), sejumlah unit usaha Napan Group masih aktif hingga kini. Tercatat beberapa perusahaan penting yang tetap beroperasi, seperti PT Argha Karya Prima Industry di sektor kemasan plastik, PT Sumatera Prima Fiberboard di bidang papan kayu MDF, serta PT Lumbung Nasional Flour Mill yang menjadi salah satu kilang terigu terbesar di Indonesia. Selain itu, terdapat bisnis di sektor properti, komunikasi, pengolahan karet alam, hingga perhotelan seperti Grand Candi Hotel Semarang.

 

Kehidupan Pribadi

Dalam kehidupan pribadi, profil Henry Pribadi juga menyoroti peran keluarga dalam keberlanjutan bisnis. Salah satu anaknya, Reza Pribadi, dikenal aktif di dunia usaha dan terlibat dalam berbagai sektor, termasuk investasi dan pertambangan, baik di dalam maupun luar negeri. Meski keluarga Pribadi relatif jarang tampil di ruang publik, regenerasi bisnis disebut tetap berjalan melalui struktur kepemilikan dan jaringan usaha keluarga.

Kekayaan Henry Pribadi

Pasca krisis moneter dan restrukturisasi, kekayaan Henry Pribadi memang tidak lagi sebesar masa keemasan Napan Group. Namun demikian, profil Henry Pribadi menunjukkan bahwa ia tetap masuk jajaran pengusaha papan atas Indonesia.

Pada 2019, estimasi kekayaannya mencapai sekitar US$ 515 juta atau setara Rp7–8 triliun, bergantung pada nilai tukar. Angka tersebut berasal dari kepemilikan saham, aset properti, serta investasi keluarga.

Profil Henry Pribadi kini kembali diperbincangkan publik bukan hanya karena jejak bisnisnya, tetapi juga karena duka mendalam yang menimpa keluarganya. Kepergian sang cucu menjadi pengingat sisi personal di balik sosok konglomerat yang selama puluhan tahun dikenal sebagai figur penting dalam dunia usaha Indonesia. (*)

 

Artikel Asli


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Pengguna KRL Keberatan dengan Rencana Penutupan Pintu Selatan Stasiun Bekasi
• 22 jam lalukompas.com
thumb
Ekonomi Vietnam: Pertumbuhan Tinggi, Tapi Tidak Bebas Risiko
• 7 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Pilkada Lewat DPRD Hancurkan Demokrasi Lokal
• 22 jam lalumediaindonesia.com
thumb
BSN Gandeng Nasyiatul Aisyiyah Hingga RS PKU Muhammadiyah Gelar Khitanan Massal, Peserta Terima Uang Tabungan
• 21 menit laluharianfajar
thumb
Partai Gema Bangsa Resmi Berdiri, Dukung Prabowo Maju Pilpres 2029
• 3 jam laluidntimes.com
Berhasil disimpan.