Rupiah Beredar Mendekati Orbit Rp 17.000 per Dolar AS

kompas.id
4 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS – Rupiah memasuki keseimbangan baru. Depresiasi yang terjadi sejak akhir 2025 terus berlanjut di awal 2026. Dalam dua pekan pertama Januari, kurs beredar mendekati orbit Rp 17.000 per dolar AS.

Nilai tukar rupiah sebagai salah satu asumsi dasar APBN 2025 dipatok Rp 16.000 per dolar AS. Berdasarkan data Kementerian Keuangan, realisasinya sepanjang tahun rata-rata Rp 16.475 per dolar AS. Menjelang akhir 2025, nilai tukar rupiah bahkan terus tertekan hingga menembus level Rp 16.700 per dollar AS.

Memasuki pekan I-II Januari 2026, rupiah kian tertekan pada rentang Rp 16.785 hingga Rp 16.880. Target pemerintah dalam asumsi dasar APBN 2026 adalah Rp 16.500 per dolar AS. Asumsi ini adalah asumsi rata-rata sepanjang 2026.

Dalam dua pekan pertama Januari, kurs beredar mendekati orbit Rp 17.000 per dolar AS.

Guru Besar Universitas Airlangga, Rahma Gafmi, berpendapat, kondisi nilai tukar rupiah hingga pekan kedua triwulan I-2026 telah menembus level Rp 16.800 per dollar AS. Salah satunya disebabkan oleh tekanan dari sisi eksternal.

“Rupiah bisa semakin terdepresiasi ke level Rp 20.000 terhadap dolar. Itu outlook jangka pendek. Outlook jangka panjang juga suram akibat China Shock dalam global ekonomi selama 30 tahun terakhir yang memengaruhi sentimen investor terhadap pasar negara berkembang,” katanya saat dihubungi dari Jakarta, Sabtu, (17/1/2026).

Baca JugaEmpat Faktor Eksternal Penyebab Depresiasi Rupiah di Awal 2026

Mengutip data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), nilai tukar rupiah pada perdagangan 15 Januari 2026 ditutup di level Rp 16.880 per dolar AS. Angka ini melemah 0,92 persen dibanding posisi awal tahun yang ditutup di level Rp 16.725 per dolar AS.

Berdasarkan data transaksi 12-14 Januari 2026, investor asing mencatatkan jual neto senilai Rp 7,71 triliun di pasar keuangan domestik. Ini terdiri dari jual neto senilai Rp 8,15 triliun di pasar surat berharga negara (SBN) dan Rp 2,64 triliun di Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), serta beli neto senilai Rp 3,08 triliun di pasar saham.

Sejumlah ekonom memperkirakan, nilai tukar rupiah beroperasi di orbit Rp 17.000 per dolar AS. Managing Director, Chief India Economist and Macro Strategist, ASEAN Economist HSBC, Pranjul Bhandari, memproyeksikan, rupiah mungkin akan berada di sekitar Rp 17.000 per dolar AS pada akhir 2026.

Ekonom Bright Institute, Yanuar Rizky menyebut, keseimbangan baru atau batas bawah rupiah saat ini berada pada level Rp 16.600 per dollar AS. Ke depan, ia memperkirakan, rupiah berisiko kembali tertekan pada periode Februari-Maret 2026, periode Mei-Juni 2026, serta November-Desember 2026.

Depresiasi rupiah dalam beberapa pekan terakhir terutama disebabkan faktor eksternal. Namun kondisi domestik juga ikut berkontribusi pada kedalaman depresiasi.

Menurut Rahma, defisit transaksi berjalan yang terus melebar akibat tingginya impor bahan baku dan barang modal turut menekan nilai tukar rupiah.

Akibatnya, ini (pelemahan rupiah) nanti akan memicu imported inflation (inflasi barang impor). Tak terelakkan konsumen yang menanggung akibat lonjakan harga-harga itu.

“Akibatnya, ini (pelemahan rupiah) nanti akan memicu imported inflation (inflasi barang impor). Tak terelakkan, konsumen akan menanggung lonjakan harga-harga itu,” ujarnya.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, tingkat inflasi nasional per Desember 2025 sebesar 2,92 persen secara tahunan atau lebih tinggi dibanding Desember 2024 sebesar 2,26 persen. Meski demikian, tingkat inflasi tersebut masih berada dalam target inflasi 2025 yang ditetapkan Bank Indonesia (BI) pada rentang 2,5 persen-3,5 persen.

Kelas menengah bawah

Rahma menuturkan, lonjakan harga-harga akibat inflasi barang impor pada gilirannya dapat menekan daya beli masyarakat. Tekanan tersebut terutama akan dialami oleh masyarakat kelas menengah ke bawah yang saat ini daya belinya tengah tergerus.

Hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) oleh BPS menunjukkan, jumlah kelas menengah turun 9,48 juta orang, dari 57,33 juta orang pada 2019 menjadi 47,85 juta orang pada 2024. Laju penurunan ini lebih tinggi dibandingkan periode 2018-2023 sebanyak 8,5 juta orang.

Baca JugaYakin Ekonomi 2026 Cerah, Tahan Diri atau Mau Belanja? 

Dihubungi secara terpisah, Wakil Ketua Umum Bidang Otonomi Daerah Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin), Sarman Simanjorang, berharap pelemahan nulai tukar rupiah tidak terjadi berkepanjangan seiring dengan langkah mitigasi dan intervensi yang dilakukan oleh BI.

“Pelaku usaha berharap agar tren ini tidak berlangsung lama dan dapat normal kembali, karena kalau berkepanjangan akan memengaruhi industri yang sebagian bahan bakunya berbasis impor,” katanya.

Depresiasi rupiah yang telah menembus Rp.16.800 per dolar AS, ia melanjutkan, terutama dipengaruhi faktor eksternal akibat kondisi geopolitik yang kian memanas. Pelemahan ini berisiko menaikkan ongkos produksi dari dunia usaha dalam negeri.

Di sisi lain, fiskal pemerintah dan swasta yang memiliki pinjaman dari luar negeri juga akan tertekan seiring dengan perkembangan kurs rupiah. Bagi pelaku usaha yang bergerak di bidang eksportir kondisi tersebut memang menguntungkan. Namun, pereknomian secara umum akan tertekan.

Kita meminta agar pemerintah melalui otoritas moneter dapat mengambil langkah taktis dan strategis untuk memitigasi, agar pelemahan rupiah ini dapat segera dipulihkan dan diturunkan.

Sarman berpendapat, kondisi itu dapat mengakibatkan penyesuaian harga di tingkat konsumen oleh para pelaku usaha. Dengan demikian, pelemahan rupiah yang terus terjadi dalam jangka panjang dapat menekan daya beli masyarakat.

“Kita meminta agar pemerintah melalui otoritas moneter dapat mengambil langkah taktis dan strategis untuk memitigasi, agar pelemahan rupiah ini dapat segera dipulihkan dan diturunkan,” ujarnya.

Operasi pasar

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin G Hutapea, mengatakan, pergerakan mata uang global pada awal 2026, termasuk rupiah, cenderung dipengaruhi oleh meningkatnya tekanan di pasar keuangan dunia.

“Bank Indonesia akan terus berada di pasar untuk memastikan nilai tukar rupiah bergerak sesuai dengan nilai fundamental dan mekanisme pasar yang sehat,” katanya secara tertulis pada Rabu (14/1/2026).

Baca JugaPerekonomian RI 2026 Butuh Dukungan Kebijakan Fiskal-Moneter

Dalam hal ini, menurut dia, BI akan terus mengoptimalkan instrumen operasi moneter propasar guna memperkuat efektivitas transmisi kebijakan moneter dan menjaga kecukupan likuiditas. Dengan demikian, inflasi tetap terjangkar sesuai target serta stabilitas nilai tukar pun terjaga.

Operasi moneter tersebut dilakukan, antara lain melalui intervensi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar off-shore di kawasan Asia, Eropa, dan Amerika. BI juga akan mengintervensi pasar domestik melalui transaksi spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan pembelian SBN di pasar sekunder.

Erwin menilai, ketahanan eksternal tetap terjaga dan memadai sebagai buffer dalam menghadapi tekanan pasar keuangan global. Ini tecermin dari posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Desember 2025 yang tercatat senilai 156,5 miliar dolar AS atau setara dengan 6,4 bulan impor.

Di sisi lain, aliran modal asing di pasar keuangan domestik, terutama ke instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan pasar saham secara neto mencapai Rp 11,11 triliun pada Januari 2026. Perkembangna ini turut mendukung terkendalinya stabilitas nilai tukar.

“Bank Indonesia konsisten menjaga stabilitas nilai tukar sehingga dapat menjaga stabilitas dan mendukung pertumbuhan ekonomi,” ujar Erwin.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Timnas Vietnam ke Semifinal Piala Asia U-23 2026, Kim Sang-sik Puji Fisik dan Mental Pemain
• 4 jam laluviva.co.id
thumb
Myanmar Tolak Tuduhan Genosida Etnis Rohingya di Sidang Mahkamah Internasional
• 10 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Gerbong Daerah Solid Deklarasikan Andar Amin Harahap Maju Ketua Golkar Sumut
• 4 jam lalutvonenews.com
thumb
Gubernur Sulsel Kerahkan Tim Gabungan untuk Pencarian Pesawat ATR-400 Hilang Kontak di Maros
• 2 jam lalufajar.co.id
thumb
Teknologi AI-Big Data Mampu Hubungkan Energi dan Gaya Hidup Digital Masyarakat Modern
• 20 jam lalumediaindonesia.com
Berhasil disimpan.