Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) memproyeksikan ekspor minyak sawit Indonesia pada 2026 berpotensi mencapai sekitar 32 juta ton.
Ketua Umum GAPKI Eddy Martono mengatakan, negara tujuan ekspor sawit Indonesia diperkirakan tak banyak berubah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, seperti China, Pakistan, AS, Uni Eropa, dan Bangladesh.
"Kalau negara tuh rasanya enggak terlalu banyak berubah ya. Seperti yang sekarang aja ya, yang paling besar udah masih ke China, kedua India. Kemudian Uni Eropa, kemudian Pakistan, Amerika, Bangladesh, masih seperti itulah mayoritasnya," ucap Eddy ketika dihubungi kumparan, Sabtu (17/1).
Dari sisi volume, Eddy menilai ekspor 2026 sangat bergantung pada kebijakan pemerintah, terutama terkait bauran biodiesel. Jika tidak ada peningkatan mandatori biodiesel, ekspor diperkirakan stabil atau sedikit meningkat dibandingkan 2025.
"Kalau menurut saya besarnya juga memang tergantung dengan harga kita juga. Kalau kita tidak ada kebijakan kenaikan biodiesel menjadi B50, seharusnya ekspor bisa ya mungkin hampir sama dengan 2025. 2025 ini agak naik sedikit, di atas 30 (juta ton) ya," lanjutnya.
Namun, rencana peningkatan bauran biodiesel menjadi B50 berpotensi menekan ekspor sawit. Eddy memperkirakan kebijakan itu bisa mengurangi ekspor hingga sekitar 1,5 juta ton, tergantung waktu implementasinya.
Berkurangnya pasokan sawit dari Indonesia bakal berdampak pada kenaikan harga minyak nabati global, sekaligus menekan daya saing ekspor sawit Indonesia. "Nah ini pasti juga harga minyak nabati juga akan naik. Itu juga akan mengurangi ekspor kita," ujar Eddy.
Sebaliknya, jika tidak ada kebijakan yang membuat harga minyak sawit Indonesia jadi lebih mahal dibandingkan minyak nabati lain, Eddy optimistis ekspor masih berpeluang meningkat.
"Kalau misalnya kita aman-aman aja tidak membuat kebijakan yang membuat harga minyak nabati atau minyak sawit lebih tinggi dari minyak nabati lain, seharusnya sih ya ada kenaikan, walaupun ya mungkin sekitar 32-an [juta ton] lah gitu. Kalau tidak ada kebijakan yang bisa mengurangi ekspor gitu," katanya.
Selain faktor kebijakan domestik, kondisi geopolitik global juga dinilai berpengaruh terhadap kinerja ekspor sawit. Eddy menilai konflik skala besar bisa menekan ekonomi global dan berdampak langsung pada permintaan.
Dia mencontohkan potensi eskalasi konflik di Timur Tengah, termasuk kemungkinan penutupan Selat Hormuz, yang dapat mengganggu perekonomian global dan menurunkan daya beli negara importir.
"Nah ini pasti ada kalau terjadi perang apalagi nanti misalnya ini Iran sama Amerika sama Israel. Kemudian Iran menutup Selat Hormuz. Itu kan semua akan berpengaruh, mereka akhirnya kan ekonomi mereka terganggu itu akan mengurangi pembelian," imbuh Eddy.
Karena itu, GAPKI berharap stabilitas global tetap terjaga agar ekspor sawit Indonesia pada 2026 dapat tumbuh sesuai proyeksi.




