Miskonsepsi susu untuk MBG, memaknai gizi dalam kebijakan publik

antaranews.com
2 jam lalu
Cover Berita
Jakarta (ANTARA) - Riuhnya perbincangan tentang susu dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) beberapa waktu terakhir sesungguhnya membuka ruang refleksi yang lebih luas tentang bagaimana bangsa ini berupaya memahami makna gizi dalam kebijakan.

Di media sosial khususnya X, perhatian publik tertuju pada sebuah produk berlabel susu UHT yang disebut dalam komposisinya mengandung 86 persen air dan hanya sekitar satu persen bahan susu.

Angka-angka itu segera memicu pertanyaan, bukan hanya soal kelayakan produk tersebut untuk disebut sebagai susu, tetapi juga tentang sejauh mana produk ini benar-benar berkontribusi terhadap kebutuhan nutrisi anak-anak yang berada dalam fase pertumbuhan penting.

Di tengah arus informasi yang sering kali serba cepat dan mengundang emosi, tentu perlu penopang nalar yang menenangkan. Ini untuk mengingatkan bahwa sebuah produk memang bisa saja lolos dari sisi regulasi, tetapi belum tentu setara dari sisi nilai gizi.

Secara hukum, minuman dengan kandungan air dominan dan sedikit bahan susu dapat dikategorikan legal. Namun secara nutrisi, perbedaannya dengan susu cair murni sangat signifikan.

Maka kemudian publik diajak membedakan antara legalitas produk dan kualitas gizi yang sesungguhnya dibutuhkan oleh tubuh anak.

Pada prinsipnya jika kandungan susunya sangat kecil, maka kontribusi protein, kalsium, dan mikronutrien alaminya pun rendah, kecuali jika ditambahkan melalui fortifikasi.

Padahal, anak usia sekolah memerlukan asupan protein yang cukup untuk membangun massa otot, serta kalsium dan vitamin untuk menopang pertumbuhan tulang yang optimal.

Dalam fase ini, setiap komponen makanan memiliki peran strategis, bukan sekadar mengenyangkan, tetapi membentuk fondasi kesehatan jangka panjang.


Miskonsepsi Susu

Polemik ini juga mengingatkan publik pada episode lain dalam pelaksanaan program yang sama, ketika kental manis sempat ditemukan dalam menu.

Meski bentuk dan kemasannya berbeda, substansinya serupa, yakni adanya miskonsepsi bahwa semua produk berlabel susu otomatis bernilai gizi tinggi.

Maka penggunaan kental manis sebagai minuman bagi anak tidak memberikan manfaat gizi yang sebanding, bahkan berpotensi membentuk preferensi rasa manis sejak dini.

Kandungan utama kental manis adalah gula, sementara protein dan kalsiumnya relatif rendah dibandingkan susu cair atau susu bubuk. Karena itu, kental manis seharusnya diposisikan sebagai bahan tambahan pangan, bukan pengganti susu.

Di sinilah letak persoalan yang lebih mendasar. Program Makan Bergizi Gratis tidak hanya soal distribusi makanan, tetapi juga soal pesan yang disampaikan kepada generasi muda tentang apa itu makan sehat.

Ketika anak-anak terbiasa mengaitkan kata “susu” dengan rasa manis yang dominan atau minuman dengan kandungan gizi minimal, maka persepsi mereka tentang nutrisi dapat bergeser.

Dalam jangka panjang, hal ini berpotensi mempengaruhi pola konsumsi dan pilihan makanan mereka di masa depan.

Polemik tidak harus selalu berujung pada saling menyalahkan. Masyarakat justru perlu menekankan bahwa perdebatan ini seharusnya menjadi momentum untuk memperbaiki kualitas implementasi program.

Tujuan utama MBG adalah memastikan anak-anak sekolah mendapatkan asupan nutrisi yang cukup selama masa tumbuh kembang.

Dengan perspektif ini, keberadaan susu dalam menu, bukan sekadar pemenuhan daftar komponen, melainkan tentang kualitas dan relevansinya dengan kebutuhan gizi anak.

Susu yang ideal adalah yang mengandung protein cukup, kaya kalsium dan vitamin D, dengan gula tambahan minimal, serta aman dan sesuai usia. Pernyataan ini menggarisbawahi bahwa kualitas nutrisi tidak bisa digantikan oleh sekadar label atau kemasan.


Keputusan tepat

Informasi yang jujur dan transparan tentang komposisi produk menjadi kunci agar orang tua, guru, dan pengelola program dapat membuat keputusan yang tepat.

Lebih jauh, perbincangan ini juga menyentuh aspek literasi gizi masyarakat. Di era informasi yang melimpah, tidak semua orang memiliki akses atau kemampuan untuk menafsirkan label nutrisi dengan benar.

Program sebesar MBG memiliki potensi, bukan hanya untuk memberi makan, tetapi juga untuk mendidik. Setiap menu yang disajikan bisa menjadi sarana pembelajaran tentang keseimbangan gizi, fungsi protein, peran kalsium, dan pentingnya membatasi asupan gula.

Dengan pendekatan ini, anak-anak tidak hanya menerima makanan, tetapi juga pengetahuan yang akan mereka bawa sepanjang hidup.

Di sisi lain, penting pula untuk memahami kompleksitas pelaksanaan program skala nasional. Penyediaan pangan untuk jutaan anak tentu melibatkan pertimbangan logistik, biaya, dan ketersediaan produk di berbagai daerah.

Tantangan tersebut tidak seharusnya mengaburkan tujuan utama, yaitu memastikan kualitas nutrisi yang memadai.

Justru di sinilah inovasi dan kolaborasi diperlukan, baik dengan ahli gizi, produsen pangan, maupun lembaga pengawas, untuk menemukan solusi yang seimbang antara keterjangkauan dan kualitas.

Polemik susu dalam MBG pada akhirnya mengajarkan satu hal penting bahwa gizi bukan sekadar angka dalam tabel atau klaim pada kemasan.

Ia adalah investasi jangka panjang bagi kualitas sumber daya manusia. Ketika anak-anak mendapatkan asupan yang tepat, mereka tidak hanya tumbuh lebih sehat, tetapi juga memiliki peluang lebih besar untuk belajar dengan baik, beraktivitas dengan optimal, dan berkembang secara menyeluruh.

Dengan menjadikan perdebatan ini sebagai ruang pembelajaran bersama, publik, pemerintah, dan para ahli dapat bergerak menuju pemahaman yang lebih matang tentang pentingnya kualitas dalam setiap kebijakan pangan.

Program Makan Bergizi Gratis atau MBG, jika dikelola dengan pendekatan yang tepat, dapat menjadi lebih dari sekadar program sosial. Ia dapat menjadi simbol komitmen bersama untuk membangun generasi yang sehat, cerdas, dan berdaya, dimulai dari segelas susu yang benar-benar memenuhi makna gizi di dalamnya.


*) Esti Nurwanti adalah ahli gizi dan Founder Gizi Nusantara




Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Pesawat Indonesia Air Transport Rute Yogyakarta-Makassar Hilang Kontak di Sulsel, Tim Rescue Diterjunkan
• 3 jam lalutvonenews.com
thumb
Manchester City sepakat membeli Marc Guehi
• 15 jam laluantaranews.com
thumb
Fokus Program dan Anggaran 2026 Ditjen Bina Adwil: Inovasi dan Rehabilitasi Pascabencana
• 12 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Disebut Tak Masuk Logika, Pemda Sedot Rp 1 Miliar Per Hari Cuma Buat Makan Minum
• 10 jam lalukompas.com
thumb
Melihat Kondisi Trotoar Rasuna Said, Tak Rata dan Menyisakan Bekas Tiang Monorel
• 7 jam lalukompas.com
Berhasil disimpan.