Pekanbaru (ANTARA) - Wakil Menteri Transmigrasi (Wamentrans) Viva Yoga Mauladi menilai nanas moris memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai komoditas unggulan kawasan transmigrasi karena dapat diolah menjadi beragam produk bernilai tambah yang mendukung pertumbuhan ekonomi masyarakat.
Ia mengatakan pengembangan nanas moris tidak hanya terbatas pada komoditas konsumsi segar, tetapi juga memiliki peluang hilirisasi yang luas, mulai dari minuman olahan hingga produk turunan berbasis serat.
“Kita akan membuat perencanaan untuk bisa mengembangkan melalui program rumah produksi nanas moris, karena ternyata nanas moris ini seluruhnya bermanfaat,” kata Viva Yoga saat Festival Nanas 2026 di Balai Pelatihan dan Pemberdayaan Masyarakat Transmigrasi (BPPMT) Pekanbaru, Kabupaten Kampar, Sabtu.
Menurut dia, pemerintah mendorong setiap kawasan transmigrasi memiliki komoditas unggulan yang jelas agar penguatan hilirisasi dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dapat membentuk pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru.
Berdasarkan pantauan langsung di Festival Nanas tersebut, sejumlah pelaku UMKM menampilkan beragam produk olahan berbahan dasar nanas moris.
Produk yang dipamerkan antara lain keripik nanas, kue berbahan nanas, sirup, hingga serabut dan serat dari daun nanas yang diolah sebagai bahan bernilai tambah.
“Nanas moris ini bisa untuk konsumsi, minuman, serat benang, hingga produk turunan lain. Kalau dikembangkan secara komprehensif, ini akan memperkuat ekonomi masyarakat di kawasan transmigrasi,” ujar dia.
Produk olahan nanas yang dijual oleh UMKM dalam Festival Nanas 2026 di Balai Pelatihan dan Pemberdayaan Masyarakat Transmigrasi (BPPMT) Pekanbaru, Kabupaten Kampar, Sabtu (17/1/2026). (ANTARA/Aria Ananda)
Dalam rangkaian kegiatan festival, Viva Yoga meninjau penanaman dan pemetikan nanas moris di demplot BPPMT Pekanbaru, mengunjungi budidaya bioflok ikan nila dan ternak ayam kampung unggul balitbangtan (KUB), serta meninjau stan UMKM olahan nanas sebelum berdialog dengan petani dan pelaku usaha.
“Seluruh produk yang akan kita terapkan di kawasan transmigrasi itu digodok di balai pelatihan, kemudian calon transmigrasi dilatih sesuai dengan produk unggulan di kawasan tujuannya,” ucap dia.
Pada kesempatan yang sama, Viva Yoga bersama Kepala BPPMT Pekanbaru Ahmad Syahir juga meresmikan Pusat Edukasi Nanas Moris BPPMT Pekanbaru yang difungsikan sebagai sarana budidaya, pelatihan, dan pengembangan nanas moris di kawasan transmigrasi.
Pusat edukasi tersebut diharapkan menjadi wadah pembelajaran bagi petani, calon transmigran, dan masyarakat sekitar untuk meningkatkan keterampilan budidaya serta pengolahan nanas moris, sekaligus mendukung penguatan komoditas unggulan berbasis kawasan transmigrasi.
Sementara itu, Ahmad mengatakan Festival Nanas digelar bukan sekadar ajang promosi produk olahan, melainkan momentum strategis untuk memperkuat budidaya, diversifikasi, hilirisasi, dan pengembangan wisata edukasi berbasis nanas.
“Acara ini tidak semata-mata untuk pesta makan nanas dan olahan nanas, tetapi ada amanah besar yang harus kami jalankan, yaitu menjadikan nanas sebagai komoditas unggulan di kawasan-kawasan transmigrasi,” kata Ahmad.
Ia menjelaskan BPPMT Pekanbaru memiliki mandat pelatihan dan pemberdayaan masyarakat transmigrasi di 10 provinsi wilayah Sumatera, Kepulauan Riau, serta Bangka Belitung, dengan dukungan 53 pegawai yang menjalankan program pelatihan dan pendampingan masyarakat.
Wakil Menteri Transmigrasi (Wamentrans) Viva Yoga Mauladi (ketiga kiri) bersama Kepala Balai Pelatihan dan Pemberdayaan Masyarakat Transmigrasi (BPPMT) Pekanbaru Ahmad Syahir (kedua kanan) meresmikan Pusat Edukasi Nanas Moris di BPPMT Pekanbaru, Kabupaten Kampar, Sabtu (17/1/2026). (ANTARA/Aria Ananda)
Ia menambahkan Festival Nanas 2026 turut dihadiri petani nanas, pelaku UMKM, serta kepala desa dari Rimbo Panjang dan Kualu Nenas yang dikenal sebagai sentra penghasil nanas terbesar di Kabupaten Kampar, serta desa eks kawasan transmigrasi yang juga mengembangkan komoditas tersebut.
“Kami akan bersama mereka untuk mengembangkan budidaya, diversifikasi, hilirisasi, dan edukasi wisata nanas,” tutur dia.
Selain penguatan budidaya, BPPMT Pekanbaru juga menyiapkan langkah pengembangan produk turunan nanas, termasuk rencana pengolahan daun nanas menjadi serat yang memiliki nilai ekonomi.
“Pada tahun ini kami menargetkan pengolahan daun nanas menjadi serat benang yang bernilai ekonomi. Untuk itu kami telah melakukan pembelajaran intensif bersama pelaku usaha dan ahli pengolahan daun nanas,” ungkap Ahmad.
Kementerian mengatakan pengembangan komoditas unggulan di kawasan transmigrasi akan disesuaikan dengan kondisi iklim dan karakter wilayah, sehingga setiap kawasan memiliki produk andalan yang berbeda.
Ia menyebutkan hasil demplot dan pelatihan di balai transmigrasi menjadi dasar penerapan program di lapangan, termasuk pengembangan bioflok ikan nila, ternak ayam KUB, serta tanaman hidroponik di kawasan transmigrasi.
Baca juga: Wamentrans: Transmigrasi diarahkan bangun kawasan ekonomi terintegrasi
Baca juga: Wamentrans: Program transmigrasi untuk kesejahteraan masyarakat
Baca juga: Wamentrans usul kapal sitaan dihibahkan bagi nelayan transmigran Batam
Ia mengatakan pengembangan nanas moris tidak hanya terbatas pada komoditas konsumsi segar, tetapi juga memiliki peluang hilirisasi yang luas, mulai dari minuman olahan hingga produk turunan berbasis serat.
“Kita akan membuat perencanaan untuk bisa mengembangkan melalui program rumah produksi nanas moris, karena ternyata nanas moris ini seluruhnya bermanfaat,” kata Viva Yoga saat Festival Nanas 2026 di Balai Pelatihan dan Pemberdayaan Masyarakat Transmigrasi (BPPMT) Pekanbaru, Kabupaten Kampar, Sabtu.
Menurut dia, pemerintah mendorong setiap kawasan transmigrasi memiliki komoditas unggulan yang jelas agar penguatan hilirisasi dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dapat membentuk pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru.
Berdasarkan pantauan langsung di Festival Nanas tersebut, sejumlah pelaku UMKM menampilkan beragam produk olahan berbahan dasar nanas moris.
Produk yang dipamerkan antara lain keripik nanas, kue berbahan nanas, sirup, hingga serabut dan serat dari daun nanas yang diolah sebagai bahan bernilai tambah.
“Nanas moris ini bisa untuk konsumsi, minuman, serat benang, hingga produk turunan lain. Kalau dikembangkan secara komprehensif, ini akan memperkuat ekonomi masyarakat di kawasan transmigrasi,” ujar dia.
Produk olahan nanas yang dijual oleh UMKM dalam Festival Nanas 2026 di Balai Pelatihan dan Pemberdayaan Masyarakat Transmigrasi (BPPMT) Pekanbaru, Kabupaten Kampar, Sabtu (17/1/2026). (ANTARA/Aria Ananda)
Dalam rangkaian kegiatan festival, Viva Yoga meninjau penanaman dan pemetikan nanas moris di demplot BPPMT Pekanbaru, mengunjungi budidaya bioflok ikan nila dan ternak ayam kampung unggul balitbangtan (KUB), serta meninjau stan UMKM olahan nanas sebelum berdialog dengan petani dan pelaku usaha.
“Seluruh produk yang akan kita terapkan di kawasan transmigrasi itu digodok di balai pelatihan, kemudian calon transmigrasi dilatih sesuai dengan produk unggulan di kawasan tujuannya,” ucap dia.
Pada kesempatan yang sama, Viva Yoga bersama Kepala BPPMT Pekanbaru Ahmad Syahir juga meresmikan Pusat Edukasi Nanas Moris BPPMT Pekanbaru yang difungsikan sebagai sarana budidaya, pelatihan, dan pengembangan nanas moris di kawasan transmigrasi.
Pusat edukasi tersebut diharapkan menjadi wadah pembelajaran bagi petani, calon transmigran, dan masyarakat sekitar untuk meningkatkan keterampilan budidaya serta pengolahan nanas moris, sekaligus mendukung penguatan komoditas unggulan berbasis kawasan transmigrasi.
Sementara itu, Ahmad mengatakan Festival Nanas digelar bukan sekadar ajang promosi produk olahan, melainkan momentum strategis untuk memperkuat budidaya, diversifikasi, hilirisasi, dan pengembangan wisata edukasi berbasis nanas.
“Acara ini tidak semata-mata untuk pesta makan nanas dan olahan nanas, tetapi ada amanah besar yang harus kami jalankan, yaitu menjadikan nanas sebagai komoditas unggulan di kawasan-kawasan transmigrasi,” kata Ahmad.
Ia menjelaskan BPPMT Pekanbaru memiliki mandat pelatihan dan pemberdayaan masyarakat transmigrasi di 10 provinsi wilayah Sumatera, Kepulauan Riau, serta Bangka Belitung, dengan dukungan 53 pegawai yang menjalankan program pelatihan dan pendampingan masyarakat.
Wakil Menteri Transmigrasi (Wamentrans) Viva Yoga Mauladi (ketiga kiri) bersama Kepala Balai Pelatihan dan Pemberdayaan Masyarakat Transmigrasi (BPPMT) Pekanbaru Ahmad Syahir (kedua kanan) meresmikan Pusat Edukasi Nanas Moris di BPPMT Pekanbaru, Kabupaten Kampar, Sabtu (17/1/2026). (ANTARA/Aria Ananda)
Ia menambahkan Festival Nanas 2026 turut dihadiri petani nanas, pelaku UMKM, serta kepala desa dari Rimbo Panjang dan Kualu Nenas yang dikenal sebagai sentra penghasil nanas terbesar di Kabupaten Kampar, serta desa eks kawasan transmigrasi yang juga mengembangkan komoditas tersebut.
“Kami akan bersama mereka untuk mengembangkan budidaya, diversifikasi, hilirisasi, dan edukasi wisata nanas,” tutur dia.
Selain penguatan budidaya, BPPMT Pekanbaru juga menyiapkan langkah pengembangan produk turunan nanas, termasuk rencana pengolahan daun nanas menjadi serat yang memiliki nilai ekonomi.
“Pada tahun ini kami menargetkan pengolahan daun nanas menjadi serat benang yang bernilai ekonomi. Untuk itu kami telah melakukan pembelajaran intensif bersama pelaku usaha dan ahli pengolahan daun nanas,” ungkap Ahmad.
Kementerian mengatakan pengembangan komoditas unggulan di kawasan transmigrasi akan disesuaikan dengan kondisi iklim dan karakter wilayah, sehingga setiap kawasan memiliki produk andalan yang berbeda.
Ia menyebutkan hasil demplot dan pelatihan di balai transmigrasi menjadi dasar penerapan program di lapangan, termasuk pengembangan bioflok ikan nila, ternak ayam KUB, serta tanaman hidroponik di kawasan transmigrasi.
Baca juga: Wamentrans: Transmigrasi diarahkan bangun kawasan ekonomi terintegrasi
Baca juga: Wamentrans: Program transmigrasi untuk kesejahteraan masyarakat
Baca juga: Wamentrans usul kapal sitaan dihibahkan bagi nelayan transmigran Batam




