REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Partisipasi Danantara dalam World Economic Forum (WEF) 2026 dinilai akan membuka ruang bagi Indonesia untuk menawarkan arah penguatan industri manufaktur berkelanjutan dan berbasis nilai tambah. Forum global tersebut dipandang sebagai momentum membangun kredibilitas, bukan sekadar mencari pembiayaan.
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet mengatakan, partisipasi Danantara sejalan dengan agenda investasi hijau dan transisi energi global. “Kehadiran Danantara di WEF menjadi momentum penting, bukan hanya soal tampil di forum internasional, tetapi membangun cerita dan kredibilitas sebagai sovereign wealth fund baru di mata investor global,” kata Yusuf, Sabtu (17/1/2026).
- Danantara Pastikan Pabrik Modul–Pack Baterai EV Karawang Siap Beroperasi
- Danantara Kaji Pembentukan BUMN Tekstil, Ini Potensinya
- Ambisi Danantara Mengawal Puncak Pertumbuhan Ekonomi 2026
Menurut Yusuf, pada tahap awal yang dinilai investor bukan semata besaran dana, melainkan arah strategi, kualitas tata kelola, serta konsistensi kebijakan pemerintah yang menopang Danantara. Aspek-aspek tersebut menjadi prasyarat untuk menarik minat investasi jangka panjang.
Yusuf menilai peran Danantara di WEF semestinya tidak berhenti pada presentasi proyek. “Yang lebih penting adalah membangun kepercayaan, menjelaskan posisi Indonesia sebagai mitra jangka panjang, dan menunjukkan bahwa hilirisasi tidak hanya mengejar pertumbuhan, tetapi juga keberlanjutan,” katanya.
.rec-desc {padding: 7px !important;}Ia menambahkan, hasil WEF kemungkinan tidak langsung berbentuk realisasi investasi besar. “Secara realistis, dampaknya lebih pada komitmen awal, terbentuknya jaringan strategis, dan meningkatnya kepercayaan investor,” ujar Yusuf.
Selain itu, Yusuf menekankan pentingnya upaya Danantara meluruskan sejumlah isu yang kerap menjadi sorotan investor global, seperti transparansi, profesionalisme pengelolaan, dan kepastian regulasi. Menurutnya, investor internasional sangat sensitif terhadap sinyal kebijakan.
WEF 2026 dijadwalkan berlangsung di Davos pada 19–23 Januari 2026 dan rencananya dihadiri Presiden Prabowo Subianto, sejumlah menteri bidang ekonomi, serta Danantara Indonesia.
Managing Director Global Relations and Governance Danantara Indonesia Mohamad Al-Arief mengatakan Danantara akan menawarkan kerja sama investasi di sektor-sektor strategis, antara lain transisi energi, ketahanan pangan, dan pengembangan industri bernilai tambah.
“Fokus kami pada kerja sama yang membuka peluang penciptaan lapangan kerja di dalam negeri,” kata Al-Arief. Menurutnya, kehadiran Indonesia di WEF tahun ini diharapkan memperlihatkan keterkaitan yang lebih kuat antara kebijakan, investasi strategis, dan dunia usaha.



:strip_icc()/kly-media-production/medias/5475287/original/059802500_1768562929-persija_paruh_musim-2.jpg)