DI dunia penerbangan Indonesia, nama ATR sudah sangat akrab bagi penumpang yang sering bepergian ke kota-kota kecil atau wilayah pelosok. Pesawat ini sering disebut sebagai "pesawat baling-baling" karena menggunakan mesin turboprop yang terlihat jelas di bagian sayapnya.
Apa Itu Pesawat ATR?ATR adalah singkatan dari Avions de Transport Régional (Prancis) atau Aerei da Trasporto Regionale (Italia). Pesawat ini diproduksi oleh perusahaan patungan antara dua raksasa dirgantara Eropa, yaitu Airbus (Prancis) dan Leonardo (Italia). Sejak pertama kali mengudara pada era 1980-an, ATR telah menjadi standar global untuk penerbangan jarak pendek (regional).
Dua Varian Utama: ATR 42 dan ATR 72Secara umum, terdapat dua jenis utama pesawat ATR yang beroperasi di seluruh dunia, termasuk di Indonesia:
Baca juga : Dialami ATR 400 Milik Indonesia Air Transport, Mengapa Pesawat Bisa Hilang Kontak? Mengenal Penyebab dan Prosedur Keselamatan Aviasi
- ATR 42: Angka "42" merujuk pada kapasitas kursi standarnya yang berkisar antara 40 hingga 52 penumpang. Pesawat ini lebih pendek dan sangat ideal untuk rute dengan permintaan penumpang yang lebih sedikit namun membutuhkan performa tinggi di bandara ekstrem.
- ATR 72: Merupakan versi yang lebih panjang dari ATR 42. Kapasitasnya mencapai 72 hingga 78 penumpang. ATR 72-600 adalah varian terbaru yang paling banyak digunakan maskapai saat ini karena teknologi kokpit digitalnya yang canggih.
Ada beberapa alasan mengapa maskapai seperti Wings Air (Lion Air Group), Citilink, hingga Trigana Air sangat mengandalkan armada ini:
- Kemampuan Landasan Pendek (STOL): ATR mampu lepas landas dan mendarat di landasan pacu dengan panjang kurang dari 1.000 meter. Ini sangat krusial untuk bandara di pegunungan Papua atau kepulauan kecil di Maluku.
- Efisiensi Bahan Bakar: Mesin turboprop jauh lebih hemat bahan bakar dibandingkan mesin jet untuk penerbangan jarak pendek (di bawah 500 km). Emisi gas buangnya pun diklaim 45% lebih rendah.
- Aksesibilitas Tinggi: Desain pintu penumpang di bagian belakang dan pintu kargo di depan memudahkan proses bongkar muat di bandara dengan fasilitas pendukung yang minim.
Pesawat ATR kembali menjadi perbincangan menyusul insiden hilangnya kontak pesawat ATR 42 milik Indonesia Air Transport (IAT) di wilayah Maros, Sulawesi Selatan (17/1/2026). Pesawat tersebut diketahui tengah melakukan misi patroli wilayah saat dilaporkan hilang dari radar. Karakteristik ATR yang mampu terbang rendah menjadikannya pilihan utama tidak hanya untuk penumpang sipil, tapi juga untuk pengawasan wilayah kedaulatan.
Hingga saat ini, ATR tetap menjadi solusi strategis dalam mempercepat mobilitas masyarakat di daerah setingkat kabupaten dan kecamatan di seluruh Nusantara.
(P-3)




