Menjelang pergantian tahun 2026, suasana reflektif menyelimuti berbagai daerah di Indonesia. Di tengah duka akibat bencana hidrometeorologi yang melanda sejumlah wilayah di Indonesia, khususnya di Sumatera, masyarakat lintas agama memilih mengawali tahun baru dengan doa bersama.
Di Kota Padang, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat menggelar Zikir, Doa, dan Tabligh Akbar Akhir Tahun 2025 di Masjid Raya Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, Rabu (31/12/2025) malam.
Ribuan jemaah memadati masjid kebanggaan Sumbar itu untuk mengikuti zikir dan doa sebagai refleksi atas perjalanan tahun 2025.
Melalui lantunan doa, harapan dipanjatkan agar masyarakat Sumatera Barat dan daerah lain di Indonesia diberi kekuatan menghadapi banjir, banjir bandang, dan longsor yang terjadi sejak akhir November lalu.
Untuk bencana di Sumatera, berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per Rabu (31/12/2025) sore, total korban jiwa meninggal di tiga provinsi sebanyak 1.154 orang dan jumlah orang hilang 165 orang. Sementara itu, lebih dari 370.000 orang di tiga provinsi, yakni Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, masih harus mengungsi.
Semangat empati juga terasa di Jakarta. Di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), doa bersama lintas agama digelar di sela-sela konser musik di area Istana Anak.
Enam pemuka agama dan satu tokoh penghayat kepercayaan memimpin doa, sementara hujan yang mengguyur tak menyurutkan langkah warga untuk bertahan dan ikut berdoa.
Pengelola TMII menyebut kegiatan tersebut sebagai wujud empati, solidaritas nasional, dan bela rasa bagi korban banjir dan longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Di Semarang, Jawa Tengah, Lapangan Simpang Lima yang biasanya diramaikan pesta kembang api, tahun ini diisi doa lintas agama. Warga duduk bersila mengikuti doa yang dipimpin perwakilan berbagai agama, termasuk doa secara Konghucu, sebagai penanda kebersamaan dalam keberagaman.
Penggalangan dana bagi korban bencana di Sumatera juga diadakan. Donasi yang terkumpul menjadi simbol nyata kepedulian warga kota terhadap sesama.
Sementara itu, di Makassar, Sulawesi Selatan, doa lintas agama digelar di Polrestabes Makassar. Para pemuka agama mendoakan kebersamaan, persatuan, serta keselamatan bagi korban bencana di Sumatera dan daerah lain di Indonesia.
Aparat kepolisian, tokoh agama, dan masyarakat hadir bersama, menegaskan bahwa solidaritas sosial menjadi fondasi penting dalam menghadapi masa sulit.
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir turut mengajak masyarakat Indonesia menyambut tahun baru dengan empati dan kebersamaan.
Dalam Pidato Refleksi Akhir Tahun 2025, ia menekankan bahwa momen pergantian tahun sepatutnya dimaknai sebagai penguatan solidaritas nasional dan ketangguhan sosial di tengah bencana yang melanda Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan sejumlah daerah lain.
Menurut Haedar, bangsa Indonesia memiliki modal spiritual dan sosial yang kuat untuk menghadapi musibah. Pengalaman panjang menghadapi berbagai bencana telah membentuk daya tahan yang perlu terus dirawat melalui persatuan dan kepedulian antarwarga.
“Mari awali kehadiran tahun 2026 dengan semangat baru untuk lebih tangguh dan makin bersatu menghadapi musibah dan menjalani kehidupan,” ujarnya.
Abdul Muhari, Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Rabu (31/12/2025), dalam Konferensi Pers Media Center Tanggap Darurat Bencana 3 Provinsi di Sumatera, menyampaikan, pesan Presiden Prabowo Subianto untuk korban bencana.
”Presiden kembali menegaskan bahwa negara hadir. Negara tidak mengenal libur untuk bisa terus mendampingi saudara-saudara kita di kawasan terdampak bencana,” ucapnya.
Pemerintah dan relawan terus melakukan pencarian dan pertolongan di titik-titik yang sudah diidentifikasi oleh tim SAR gabungan.
Selain kerja keras pencari korban dan pemulihan bencana, dukungan masyarakat melalui doa dan donasi juga penting, untuk meneguhkan empati dan harapan bersama.





