Apa yang Paling Membuat Khawatir di Tahun 2025?

kompas.id
8 jam lalu
Cover Berita

Apa yang bisa Anda pelajari dari artikel ini?

  1. Apa yang paling membuat khawatir di tahun 2025?
  2. Bagaimana kisah mereka yang ekonominya luluh lantak?
  3. Seperti apa kualitas lapangan kerja selama setahun terakhir?
  4. Mengapa sampai ada pekerja yang frustrasi?
  5. Apakah warga sudah merasakan pertumbuhan ekonomi?
Apa yang paling membuat khawatir di tahun 2025?

Selama 2025, sebanyak 44 persen berita utama di Harian ”Kompas” bersentimen negatif, 33 persen netral, dan 23 persen positif. Topik ekonomi (24,2 persen), politik (20,1 persen), dan internasional (16,2 persen) paling banyak muncul. Sementara topik lain, seperti hukum, bencana, sosial, pendidikan, olahraga, seni budaya, dan gaya hidup, di bawah 10 persen.

Di luar topik kriminalitas dan bencana yang secara alamiah bernada negatif, sejumlah topik memperlihatkan porsi sentimen negatif yang lebih besar dibandingkan sentimen positif dan netral. Topik lingkungan, hukum, dan ekonomi, porsi sentimen negatifnya lebih dari 50 persen.

Sentimen negatif yang banyak diperoleh berita topik ekonomi bukan sesuatu yang mengherankan, menurut pandangan warga Berbah, Sleman, Yogyakarta, Handriva Fauzi (33). Menurutnya, kondisi ekonomi dirasakan kian menekan kehidupan.

”Sekarang apa saja saya kerjakan asal dapat uang,” kata Handriva, mahasiswa S-2 yang menyambi sebagai penyortir barang untuk menghidup keluarga, Jumat (26/12/2025).

Hal serupa ia dengar dan saksikan dari sekitar. Orang-orang cenderung menahan belanja. Pengeluaran diusahakan sehemat mungkin, sebatas untuk kebutuhan pokok harian.

Baca Juga2025, Selamat Tinggal Tahun yang Berat
Bagaimana kisah mereka yang ekonominya luluh lantak?

Jika tahun 2025 harus diringkas dalam satu kalimat, Rizky Idrus Setiadi (31), guru sekolah menengah kejuruan (SMK) di Takengon, Aceh, akan menjawab: ”Tahun ketangguhan di tengah ujian”. Bukan ujian di ruang kelas, melainkan ujian hidup ketika profesi, usaha, dan lingkungan tempat tinggalnya diuji bersamaan oleh bencana.

Pria yang juga menjalani hari-harinya sebagai pengusaha travel dan penjual hasil kebun kopi ini benar-benar dihajar musibah yang meluluhlantakkan kampung halaman dan ladang pekerjaannya.

Jika tidak ada hujan dan longsor besar akhir November 2025, bisnis kopi yang ia kerjakan seharusnya untung, di tengah ancaman cuaca ekstrem. Kini, harga jual buah kopi arabika gayo yang belum dikuliti tembus Rp 270.000 per kaleng dari rerata harga sebelumnya di kisaran Rp 130.000-Rp 230.000.

Masa libur akhir tahun yang menjadi momen pelaku bisnis perjalanan mendulang wisatawan juga pupus. Ia pun seharusnya masih bisa mengajar dengan normal jika bencana tidak datang.

”Mengelola tiga tanggung jawab sekaligus sudah cukup menantang, ditambah lagi dengan bencana alam di Aceh yang berdampak langsung pada emosional dan operasional usaha saya,” tuturnya kepada Kompas, Selasa (30/12/2025)

Baca JugaTetap Berdiri Tegak di Tahun Penuh Guncangan
Seperti apa kualitas lapangan kerja selama setahun terakhir?

Laporan terbaru Bank Dunia mengungkapkan, kenaikan penyerapan tenaga kerja sepanjang setahun terakhir lebih banyak disumbang sektor berupah rendah dan informal, dengan kaum muda menjadi kelompok yang paling terdorong masuk ke pekerjaan bernilai tambah rendah.

Kondisi ini menjadi peringatan bahwa ketahanan ekonomi belum sepenuhnya sejalan dengan peningkatan kesejahteraan sekaligus menegaskan pentingnya agenda reformasi untuk menciptakan lapangan kerja yang lebih berkualitas.

Bank Dunia melihat pengangguran di Indonesia telah turun. Penyerapan tenaga kerja di Indonesia naik 1,3 persen dari Agustus 2024 hingga Agustus 2025, tetapi lapangan pekerjaan yang tercipta untuk mereka cenderung datang dari sektor-sektor dengan nilai tambah rendah, seperti jasa bernilai tambah rendah dan pertanian. 

Baca JugaBank Dunia Soroti Penciptaan Lapangan Kerja di Indonesia Bernilai Tambah Rendah
Mengapa sampai ada pekerja yang frustrasi?

Jumlah penduduk yang tidak bekerja dan tidak mencari kerja karena putus asa atau frustrasi naik 11 persen, dari 1,68 juta orang pada Februari 2024 menjadi 1,87 juta orang pada Februari 2025. Situasi ini menunjukkan ada kelompok penduduk bekerja yang kehilangan kepercayaan terhadap peluang pasar kerja yang tersedia. 

Demikian salah satu persoalan yang diangkat dalam laporan studi Labor Market Brief Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) yang diterbitkan pada 28 November 2025. LPEM FEB UI mengolah data dari Survei Angkatan Kerja Nasional Badan Pusat Statistik (Sakernas BPS). 

Muhammad Hanri, salah satu peneliti dalam riset itu, Rabu (3/12/2025) di Jakarta, mengatakan, adanya kelompok penduduk yang tidak bekerja dan tidak mencari kerja karena putus asa perlu diperhatikan. Kelompok ini, yang juga biasa disebut discouraged workers, mungkin tidak menimbulkan tekanan langsung pada statistik pengangguran, tetapi mereka mencerminkan underutilization yang tidak terlihat. 

Baca JugaStudi LPEM FEB UI: Pekerja Frustrasi Naik 11 Persen dalam Setahun Terakhir
Apakah warga sudah merasakan pertumbuhan ekonomi?

Perekonomian Indonesia pada triwulan III-2025 tumbuh sebesar 5,04 persen. Meski demikian, angka tersebut belum dirasakan langsung oleh masyarakat. Tingginya pertumbuhan di sektor industri pengolahan, perdagangan, pertanian, serta kinerja ekspor belum dibarengi dengan perbaikan konsumsi rumah tangga.

Badan Pusat Statistik (BPS), pada Rabu (5/11/2025), melaporkan, produk domestik bruto (PDB) nasional pada triwulan III-2025 tumbuh 5,04 persen secara tahunan. Kendati kembali tercatat di atas 5 persen, torehan ini lebih rendah dibandingkan dengan triwulan II-2025 yang tumbuh 5,12 persen.

Berdasarkan lapangan usahanya, pertumbuhan tersebut ditopang oleh industri pengolahan, perdagangan, serta pertanian dengan kontribusi total sebesar 46,69 persen terhadap PDB. Bahkan, pertumbuhan industri pengolahan dan perdagangan melampaui pertumbuhan ekonomi, masing-masing 5,54 persen dan 5,49 persen.

Kondisi tersebut berbanding terbalik dengan konsumsi rumah tangga. Sebagai mesin utama pertumbuhan dengan kontribusi 53,14 persen terhadap PDB, pertumbuhan konsumsi rumah tangga pada triwulan III-2025 berada di bawah pertumbuhan ekonomi, yakni 4,89 persen.

Sejak triwulan III-2024, pertumbuhan konsumsi rumah tangga terus berada di bawah 5 persen dan bahkan kini menjadi paling rendah, setidaknya sepanjang 14 tahun terakhir.

Baca JugaPertumbuhan Ekonomi Belum Menetes ke Bawah

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Warga Asal Bandung Pilih Rayakan Tahun Baru 2026 di Bundaran HI: Asik Banget, Meriah!
• 17 jam lalutvonenews.com
thumb
Peredaran Narkoba untuk Malam Tahun Baru Digagalkan Polisi, Modus Baru Digunakan Pengedar
• 23 jam lalumerahputih.com
thumb
Verrell Bramasta Perjuangkan Nasib Warga, Venna Melinda Ingatkan Ketulusan
• 11 jam lalugenpi.co
thumb
IGI Aceh Gotong Royong Bersih-Bersih Sekolah Terdampak Bencana | SAPA MALAM
• 1 jam lalukompas.tv
thumb
Xi Jinping Tegaskan Penyatuan Taiwan Tak Terbendung, Soroti Kemajuan Ekonomi dan Teknologi China
• 7 jam lalupantau.com
Berhasil disimpan.