Mayoritas Bursa Asia tutup pada perdagangan terakhir tahun lalu di Rabu (31/12). Namun kawasan tersebut tetap berada dalam jalur mencatat kinerja tahunan yang solid, dipimpin oleh penguatan saham-saham teknologi di tengah meningkatnya permintaan kecerdasan buatan (AI).
Dilansir Jumat (2/1), berikut ini adalah catatan pergerakan sejumlah indeks utama dari Bursa Asia. Hampir semua bursa tutup dalam perdagangan kali ini:
- Hang Seng (Hong Kong): Turun 0,87% ke 25.630,54
- CSI 300 (China): Turun 0,46% ke 4.629,94
- Shanghai Composite (China): Naik 0,94% ke 3.968,84
- Nikkei 225 (Jepang): Libur Tahun Baru 2026
- Topix (Jepang): Libur Tahun Baru 2026
- Kospi (Korea Selatan): Libur Tahun Baru 2026
- Kosdaq (Korea Selatan): Libur Tahun Baru 2026
Aktivitas perdagangan dalam kawasan terpantau tipis, dengan sejumlah bursa utama tutup untuk libur dari Tahun Baru 2026.
Antusiasme investor terhadap adopsi teknologi akal imitasi mendorong penguatan saham produsen chip, operator pusat data dan pemasok perangkat keras. Sentimen ini membantu menopang indeks regional meskipun pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan masih tidak merata.
Pasar dengan eksposur besar terhadap ekspor teknologi menjadi salah satu pencetak kinerja terbaik sepanjang tahun lalu. Namun, reli tersebut beberapa kali terganggu oleh lonjakan volatilitas yang dipicu ketegangan perdagangan global.
Dari Amerika Serikat (AS), serangkaian pengumuman tarif sempat mengguncang sentimen pasar pada berbagai periode termasuk akhir tahun, khususnya terhadap saham-saham yang terkait dengan rantai pasok global.
Dari China, sentimen investor mendapat sedikit dukungan setelah data menunjukkan aktivitas pabrik kembali berekspansi pada Desember. Indeks manajer pembelian (PMI) resmi mencatat sektor manufaktur kembali berada di atas level 50. Hal itu mengindikasikan perbaikan moderat permintaan domestik menjelang akhir tahun dari 2025.
Investor menilai data tersebut sebagai sinyal positif yang berhati-hati bagi perekonomian negara terakit, setelah berbulan-bulan menghadapi momentum yang lemah.
Baca Juga: Alexander Ramlie Jual Saham AMMN Senilai Rp419,39 Miliar, Ini Tujuannya
Perhatian investor kini diperkirakan akan kembali tertuju pada prospek laba perusahaan, arah kebijakan bank sentral, serta perkembangan teknologi kecerdasan buatan yang kini menjadi tema utama penentu kinerja pasar saham di 2026.





