Motor listrik kerap dipersepsikan hanya cocok untuk penggunaan dalam kota dengan jarak tempuh dekat. Namun, anggapan tersebut dipatahkan oleh Agus Santosa bersama komunitas Polytron EV Rider (PEVR) dengan melakoni perjalanan jauh belum lama ini.
Penjelajahan tersebut dilakukan sepenuhnya melalui jalur darat dengan total durasi sekitar 12 hari pulang-pergi. Rombongan lebih dari 10 motor berangkat dari Jakarta, singgah di sejumlah destinasi seperti Guci, Yogyakarta, dan Bromo. Kemudian menyeberang ke Bali, lalu melanjutkan perjalanan ke Mandalika sebelum kembali ke Jakarta.
“Kalau berangkat dari Jakarta sampai Bali itu empat hari. Sampai Bali kita nginep semalam, habis itu lanjut lagi ke Mandalika. Total perjalanan pulang-pergi sekitar 12 hari, karena pulangnya juga lewat darat dan sempat mampir ke beberapa kota,” kata Agus di sela-sela kumparan On The Road beberapa waktu lalu.
Menariknya, seluruh motor yang digunakan dalam touring tersebut masih mengandalkan spesifikasi standar pabrikan tanpa baterai tambahan.
“Semua motor kemarin itu masih standar, baterainya juga standar. Kami cuma bawa satu baterai cadangan buat jaga-jaga saja. Itu pun dipakai karena ada satu motor yang baterainya memang sudah agak drop, jadi kami antisipasi biar perjalanan tetap lanjut,” ujarnya.
Dalam perjalanan, rombongan memanfaatkan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) untuk mengisi daya, sekaligus beristirahat.
Pola berkendara pun disesuaikan dengan karakter motor listrik, yakni berhenti setiap 80 hingga 100 kilometer dengan sisa baterai sekitar 20 persen akan berhenti untuk melakukan pengecasan.
“Kami patokannya jarak, bukan waktu. Jadi tiap 80 sampai 100 kilometer pasti berhenti, sekalian istirahat dan ngecas. Kalau pakai fast charging, biasanya satu jam sampai 1,5 jam sudah cukup,” jelas Agus.
Menurut Agus, touring jarak jauh dengan motor listrik justru memberikan pengalaman berkendara yang berbeda dibanding motor bensin. Khususnya interval pemberhentian dengan jarak yang tidak terlalu jauh.
“Yang paling terasa itu enggak capek. Walaupun jam tidur kurang, badan masih enak. Bahkan istri saya yang dulu ogah naik motor jauh-jauh, sekarang justru senang ikut touring pakai motor listrik,” ungkapnya.
Pengalaman tersebut, lanjut Agus, menjadi bukti bahwa motor listrik tidak hanya layak digunakan untuk mobilitas harian di perkotaan, tetapi juga mampu diajak bertualang jarak jauh, selama perencanaan rute dan titik pengisian daya dilakukan dengan matang.
“Selama kita tahu jarak tempuh dan di mana saja bisa ngecas, sebenarnya aman. Tinggal atur ritme perjalanan saja. Kita sudah buktiin sendiri kalau motor listrik bisa dipakai touring jauh,” pungkasnya.
Bukan hanya bersama komunitas PEVR, Agus juga kerap melakukan perjalanan jauh seorang diri. Setelah sukses melahap ratusan hingga ribuan kilometer bersama motor listrik Polytron, ia semakin percaya diri untuk menggunakannya dalam jangka waktu lebih lama.




