Tahun 2026, orang tua perlu arahkan remaja, tak hanya pilih cita-cita

antaranews.com
12 jam lalu
Cover Berita
Jakarta (ANTARA) - Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) periode 2017-2022 Prof. Susanto berpendapat mulai tahun ini, orang tua perlu mengarahkan remaja, bukan hanya untuk memilih cita-cita, tetapi menyiapkan kapasitas diri mereka seiring dunia kerja yang kian berubah.

"Tahun 2026 semakin dinamis sekaligus penuh tantangan, bahkan ketidakpastian. Karena dunia terus berubah, banyak pekerjaan yang hilang sekaligus muncul pekerjaan baru yang tak terpikirkan sebelumnya," ujar Guru Besar Universitas Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur'an (PTIQ) Jakarta itu di Jakarta, Jumat.

Menurut Susanto, bagi anak yang telah memasuki usia 15 tahun, masa ini bukan lagi sekadar masa mencari jati diri, melainkan fase pembentukan fondasi karier jangka panjang.

Apalagi, dunia kerja kini semakin dipengaruhi oleh kecerdasan buatan, ekonomi kreatif, dan kolaborasi global.

Dia pun menyampaikan karier masa depan tidak lagi berpusat pada jabatan, tetapi pada nilai dan kontribusi.

Maka dari itu, kata dia, remaja perlu dilatih untuk bertanya, "Isu apa yang membuat saya peduli?", "Masalah apa yang ingin saya bantu selesaikan?, atau "Dalam peran seperti apa saya ingin bermanfaat?"

"Pendekatan ini membuat pilihan pendidikan dan karier lebih bermakna, berkelanjutan, bahkan menjanjikan," ujar Susanto.

Baca juga: BNNK Jaksel edukasi remaja soal anti narkoba lewat program "Ransel"

Selain itu, sambung dia, mengingat saat ini ijazah tanpa keterampilan tidaklah cukup, maka anak yang telah memasuki usia 15 tahun sebaiknya mulai mengasah kemampuan cepat dalam mempelajari hal baru, berpikir sistematis dan analitis, berkomunikasi lintas media (lisan, tulisan, digital), literasi teknologi dan kecerdasan buatan (AI) dasar, serta kolaborasi dan kepemimpinan diri.

Lebih lanjut, dia mengingatkan pentingnya menjadikan sekolah sebagai laboratorium karier maupun ruang eksperimen untuk melatih kepemimpinan dan mengasah kemampuan dalam menyelesaikan masalah.

Hal lain yang juga disarankan, yakni bergeser dari pengguna pasif menjadi pencipta aktif, misalnya dengan menulis opini, membuat video edukatif, merancang desain sederhana, membangun portofolio digital sesuai minat, atau mengikuti kelas daring yang terarah, bukan sekadar tren.

"Karier unggul dibangun dari kesadaran diri. Remaja perlu dibiasakan mengevaluasi apa yang berhasil, dan tidak mengidentifikasi kekuatan dan area pengembangan, menyusun tujuan jangka pendek yang realistis, dan refleksi rutin mencegah salah arah di masa depan," tutur Susanto.

Dia pun meminta agar orang tua dan guru mendampingi anak. Dia menilai pendampingan terbaik bukan dengan mengarahkan secara kaku, tetapi dengan mengajukan pertanyaan yang memantik dorongan untuk berpikir, memberi ruang mencoba dan gagal, serta menjadi teladan dalam sikap belajar sepanjang hayat.

"Kolaborasi ini menciptakan remaja yang mandiri dan percaya diri. Karier cemerlang tidak dibangun secara instan. Ia tumbuh dari kebiasaan belajar, keberanian mencoba, dan kemampuan beradaptasi yang dimulai sejak dini," ungkap Susanto.

Baca juga: Marak tawuran di Cengkareng, Jakbar gelar "Ngopi Cetar"

Baca juga: Wali Kota Jaksel edukasi remaja di Tebet untuk hindari tawuran



Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
OJK Dorong Penguatan Integritas Pasar Modal dan Bursa Karbon pada 2026
• 5 jam lalurepublika.co.id
thumb
Yang Baru di KUHAP Baru: Pengakuan Bersalah
• 8 jam lalukumparan.com
thumb
Mulai 2026 Pemprov Bali Akan Cek Tabungan Wisatawan Mancanegara
• 10 jam lalukompas.tv
thumb
Kecam Keras Aksi Teror ke Aktivis dan Influencer, Amnesty International: Usut dan Tangkap Pelaku!
• 23 jam lalukompas.tv
thumb
Duka Selimuti Awal 2026, 380 Ribu Korban Bencana Sumatra Berstatus sebagai Pengungsi
• 11 jam lalumerahputih.com
Berhasil disimpan.