JAKARTA, KOMPAS.TV - Mantan kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati meminta pemerintah melakukan pemetaan ulang daerah rawan bencana di Indonesia.
Menurutnya, pemetaan ulang perlu dilakukan mengingat adanya perubahan iklim dan kerusakan lingkungan.
Dwikorita menekankan, luasnya kerusakan lingkungan meningkatkan urgensi pemetaan ulang daerah rawan bencana.
Pasalnya, kerusakan lingkungan memperpendek periode ulang dan skala kerusakan banjir bandang.
"Pemetaan ulang di berbagai wilayah Indonesia, terutama di wilayah rawan, wilayah yang geologinya aktif, seperti Pegunungan Bukit Barisan, Jawa, Bali, di Sulawesi, Maluku, sebagian Papua," kata Dwikorita dalam program "Sapa Indonesia Pagi" KompasTV, Senin (1/1/2026).
"Itu perlu pemetaan ulang zona rentan dan zona bahaya gerakan tanah plus zona rentan dan zona bahaya banjir bandang," imbuhnya.
Baca Juga: BNPB Catat 380.360 Orang Masih Mengungsi akibat Bencana Sumatera, Terbanyak di Aceh
Lebih lanjut, pakar kebencanaan UGM ini menyatakan, pemetaan ulang harus memperhatikan kondisi lahan dan data empiris di masing-masing daerah.
Mengenai pembangunan hunian untuk korban banjir Sumatera, Dwikorita menekakan pentingnya pemetaan ulang kawasan rawan.
Karena kondisi di Sumatera dinilai sudah berubah karena kerusakan lingkungan.
Penulis : Ikhsan Abdul Hakim Editor : Deni-Muliya
Sumber : Kompas TV
- daerah rawan bencana
- pemetaan ulang
- banjir sumatera
- dwikorita karnawati
- kerusakan lingkungan




