Eks Kepala BMKG Minta Pemerintah Susun Pemetaan Ulang Daerah Rawan Bencana di Indonesia

kompas.tv
7 jam lalu
Cover Berita
Foto udara memperlihatkan jalan yang terputus di kawasan Batu Busuk, Pauh, Padang, Sumatera Barat, Selasa (16/12/2025).  (Sumber: ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra)

JAKARTA, KOMPAS.TV - Mantan kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati meminta pemerintah melakukan pemetaan ulang daerah rawan bencana di Indonesia.

Menurutnya, pemetaan ulang perlu dilakukan mengingat adanya perubahan iklim dan kerusakan lingkungan.

Dwikorita menekankan, luasnya kerusakan lingkungan meningkatkan urgensi pemetaan ulang daerah rawan bencana.

Pasalnya, kerusakan lingkungan memperpendek periode ulang dan skala kerusakan banjir bandang.

"Pemetaan ulang di berbagai wilayah Indonesia, terutama di wilayah rawan, wilayah yang geologinya aktif, seperti Pegunungan Bukit Barisan, Jawa, Bali, di Sulawesi, Maluku, sebagian Papua," kata Dwikorita dalam program "Sapa Indonesia Pagi" KompasTV, Senin (1/1/2026).

"Itu perlu pemetaan ulang zona rentan dan zona bahaya gerakan tanah plus zona rentan dan zona bahaya banjir bandang," imbuhnya.

Baca Juga: BNPB Catat 380.360 Orang Masih Mengungsi akibat Bencana Sumatera, Terbanyak di Aceh

Lebih lanjut, pakar kebencanaan UGM ini menyatakan, pemetaan ulang harus memperhatikan kondisi lahan dan data empiris di masing-masing daerah.

Mengenai pembangunan hunian untuk korban banjir Sumatera, Dwikorita menekakan pentingnya pemetaan ulang kawasan rawan.

Karena kondisi di Sumatera dinilai sudah berubah karena kerusakan lingkungan.

Penulis : Ikhsan Abdul Hakim Editor : Deni-Muliya

1
2
Show All

Sumber : Kompas TV

Tag
  • daerah rawan bencana
  • pemetaan ulang
  • banjir sumatera
  • dwikorita karnawati
  • kerusakan lingkungan
Selengkapnya


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
85 Persen Sekolah Terdampak Bencana Sumatra Siap Operasi 5 Januari 2026
• 19 jam laluidntimes.com
thumb
Bulog: Penyerapan 4,5 juta ton GKP di 2025 tertinggi sepanjang sejarah
• 1 jam laluantaranews.com
thumb
Purbaya Akui Dampak Injeksi ke Himbara Belum Optimal sebab Fiskal-Moneter Sempat Tidak Sinkron
• 16 jam lalubisnis.com
thumb
Pondok Pesantren Darul Mukhlisin Bersih dari Tumpukan Kayu
• 1 jam lalutvrinews.com
thumb
Ratusan Bantuan Alsintan Diterima Petani Kuningan Sepanjang 2025
• 21 jam lalumediaindonesia.com
Berhasil disimpan.