Swiss dilanda salah satu tragedi terburuk dalam sejarahnya, setelah kebakaran hebat melanda sebuah bar di kota resor ski Crans-Montana pada malam pergantian Tahun Baru, Rabu (31/12/2025) lalu. Insiden itu menyebabkan sekitar 40 orang tewas dan 115 lainnya mengalami luka-luka. Sebagian besar dalam kondisi serius.
Frederic Gisler Komandan Polisi Kanton Valais, mengatakan angka tersebut masih bersifat sementara karena proses identifikasi korban masih berlangsung.
“Pada saat saya berbicara, kami mencatat sekitar 40 orang meninggal dunia dan kurang lebih 115 orang terluka, sebagian besar mengalami luka berat,” ujar Gisler dalam konferensi pers bersama, Kamis (1/1/2026) waktu setempat, yang dikutip kantor berita Anadolu.
Ia mengatakan bahwa Crans-Montana merupakan destinasi wisata internasional. Hal ini memungkinkan adanya warga negara asing yang termasuk di antara para korban jiwa.
Sementara itu, Guy Parmelin Presiden Swiss yang baru menjabat menyebut insiden tersebut sebagai “salah satu tragedi terburuk yang pernah dialami Swiss.”
“Di balik angka-angka ini ada wajah, nama, keluarga, dan masa depan yang terhenti secara tragis,” ujar Parmelin.
Pemerintah Swiss, lanjutnya, menyampaikan belasungkawa terdalam kepada keluarga dan kerabat para korban. Parmelin menegaskan pemerintah federal bekerja erat dengan otoritas setempat untuk memastikan proses identifikasi korban dan penyelidikan pidana berjalan profesional dan menyeluruh.
Ia juga menekankan tanggung jawab Swiss terhadap para wisatawan asing yang datang untuk menghabiskan libur Natal dan Tahun Baru. Sebagai bentuk duka nasional, Parmelin juga mengumumkan bendera di Gedung Federal Swiss akan dikibarkan setengah tiang selama lima hari.
Sementara itu, Mathias Reynard Presiden Dewan Negara Valais mengakui proses identifikasi korban membutuhkan waktu dan menyebut penantian ini sebagai “momen yang secara manusiawi sangat berat” bagi keluarga korban. Ia juga memuji dedikasi dan profesionalisme para petugas darurat serta tenaga medis.
Dalam penanganan kejadian tersebut, sekitar 150 personel penyelamat, 42 ambulans, 13 helikopter, dan tiga truk penanggulangan bencana dikerahkan. Para korban luka dirawat di sejumlah rumah sakit di Sion, Sierre, Martigny, Geneva, Lausanne, Fribourg, Bern, dan Zurich, sementara beberapa pasien dipindahkan ke unit khusus luka bakar.
Swiss juga menerima tawaran bantuan internasional. Sejumlah negara seperti Prancis, Jerman, dan Italia menyatakan kesiapan menerima pasien dengan luka bakar berat.
Terkait penyelidikan penyebab kebakaran, Beatrice Pilloud Jaksa Agung Valais mengatakan proses penyidikan resmi telah dibuka. Ahli forensik dari Zurich telah dilibatkan, dengan prioritas utama mengidentifikasi korban dan memulangkan jenazah kepada keluarga secepat mungkin.
“Masih banyak hal yang harus diklarifikasi. Beberapa hipotesis sedang dikaji, dengan dugaan sementara berupa kebakaran besar yang memicu ledakan,” jelas Pilloud.
Ucapan belasungkawa juga datang dari berbagai pemimpin Eropa. Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen, Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Kaja Kallas, hingga Perdana Menteri Belanda Dick Schoof menyatakan solidaritas penuh kepada Swiss.
Komisaris Eropa untuk Kesiapsiagaan dan Manajemen Krisis Hadja Lahbib menyebut Mekanisme Perlindungan Sipil Uni Eropa telah diaktifkan untuk membantu otoritas Swiss dalam penanganan medis. “Eropa berdiri dalam solidaritas penuh dengan Swiss,” tulis von der Leyen.
Hingga kini, proses evakuasi, perawatan korban, dan penyelidikan masih terus berlangsung. (bil/ipg)




