Pasar Obligasi Ritel 2026 Diproyeksi Kuat, Intip Proyeksi Kuponnya!

bisnis.com
2 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Permintaan pasar untuk surat berharga negara (SBN) ritel pada 2026 diproyeksikan akan kuat didorong oleh pertumbuhan investor di pasar modal dan tren penurunan suku bunga acuan yang berlanjut.

Mengacu data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan, realisasi dari penerbitan SBN ritel sepanjang 2025 mencapai Rp153 triliun. Realisasi itu meningkat dibandingkan realisasi 2024 senilai Rp148 triliun.

DJPPR sendiri telah menerbitkan tujuh seri SBN ritel pada 2025. Mayoritas penerbitan tersebut mampu diserap pasar dengan sepenuhnya. Bahkan beberapa diantaranya mencatatkan kelebihan permintaan. 

Berdasarkan data yang dihimpun Bisnis, hanya dua seri yang tidak ludes di pasaran, yaitu SBR014 dan SR023. SBR014 yang diterbitkan pada periode 14 Juli–7 Agustus 2025 dan menargetkan dana terhimpun hingga Rp15 triliun, hanya mampu membukukan penjualan senilai Rp14,91 triliun. Artinya, produk ini hanya laris di pasaran sebesar 99,4%. 

googletag.cmd.push(function() { googletag.display("div-gpt-ad-parallax"); });

Sementara itu, SR023 yang diterbitkan setelahnya pada periode 22 Agustus–15 September 2025, hanya membukukan penjualan Rp18,73 triliun dari target dana terhimpun Rp20 triliun. Artinya, penjualan SR023 hanya mencapai 93,65% dari target awal pemerintah. 

Namun, kondisi berbalik pada dua penerbitan SBN ritel terakhir. Obligasi Ritel Indonesia seri ORI028 yang diterbitkan pada periode 29 September–23 Oktober 2025 nyatanya mampu membukukan penjualan hingga Rp15,5 triliun atau mencerminkan 103,33% dari target penjualan pemerintah senilai Rp15 triliun. 

Baca Juga

  • Penerbitan Obligasi Korporasi 2025 Tembus Rp215,6 Triliun, Tertinggi 6 Tahun
  • Chandra Asri (TPIA) Terbitkan Obligasi Rp1,5 Triliun, Tawarkan Kupon 6,5%-7,5%
  • Summarecon (SMRA) Emisi Obligasi Rp500 Miliar, Tawarkan Kupon 5,85%-6,50%

Begitu juga dengan ST015 yang mampu membukukan penjualan melebihi target awal. Penawaran ST015 bahkan mengalami beberapa kali penambahan kuota penjualan. Pada awal penawaran, pemerintah menargetkan dana Rp10 triliun, kemudian ditingkatkan menjadi Rp12 triliun, dan kembali naik menjadi Rp15 triliun. 

Dengan kata lain, dari tujuh penerbitan SBN ritel sepanjang 2025, 71,42% hasil penerbitan masih mencatatkan penjualan yang positif. Hanya dua dari tujuh yang tidak mencapai target penjualan pemerintah.

Investment Analyst Infovesta Kapital Advisori, Fajar Dwi Alfian menilai pada 2026 permintaan pasar untuk SBN ritel diperkirakan masih kuat, seiring dengan pertumbuhan jumlah investor pasar modal yang terus terjadi. 

“Selain itu, tren masih berlangsungnya pemangkasan suku bunga pada 2026 juga bisa menjadi daya tarik bagi investor,” kata Fajar kepada Bisnis pada Jumat (2/1/2026).

Dia memperkirakan arah kebijakan suku bunga Bank Indonesia (BI) akan turun sebanyak satu hingga dua kali. Efek terhadap pasar obligasi adalah penurunan yield obligasi meskipun terbatas. Untuk imbal hasil atau yield SBN tenor 10 tahun kemudian diperkirakan akan turun hingga ke level 5,8% hingga 5,9%.

Adapun terkait proyeksi kupon yang ditawarkan SBN ritel pada tahun ini, mengacu tahun lalu, kupon yang ditawarkan SBN ritel berkisar 5,65% hingga 6,75% dengan rata-rata suku bunga BI sebesar 5,25%. Maka untuk 2026 diperkirakan BI rate masih akan turun meskipun terbatas yakni di level rata-rata 4,50%, kupon SBN ritel yang akan ditawarkan kemudian berkisar 5,25% hingga 5,65%.

“Kami menyarankan investor dapat menerapkan strategi active duration management dengan memanfaatkan momentum positif maupun negatif di pasar SBN untuk sinyal entry dan exit dengan melakukan trading,” ujar Fajar.

Sementara, Portfolio Manager/Analyst Batavia Prosperindo Aset Manajemen Putri Nur Astiwi menilai permintaan pasar atas penerbitan SBN ritel pada 2026 diperkirakan masih ada, tetapi lebih moderat.

“Untuk BI rate, arah kebijakan 2026 masih berpotensi turun terbatas atau lebih sempit dari 2025, karena fokus keseimbangan growth–stabilitas. Meski begitu, pasar obligasi tetap didukung likuiditas domestik yang ample,” kata Putri, Jumat (2/1/2026).

Untuk proyeksi kupon SBN ritel, menurutnya kisaran kupon pada 2026 kemungkinan mengikuti tren suku bunga. Jika BI rate masih mempunyai ruang penurunan, kupon cenderung lebih rendah atau minimal tidak lebih tinggi dibanding rata-rata penerbitan 2025. 


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Kalimat Khas Diucapkan Orang yang Mudah Disukai
• 6 jam lalubeautynesia.id
thumb
Pakar Soroti Rekomendasi Etik KY terhadap Hakim Perkara Tom Lembong
• 4 jam laluokezone.com
thumb
Kasus Silfester Coreng Wajah Institusi Adhyaksa
• 11 jam lalufajar.co.id
thumb
Awal Tahun 2026, Banjir Rob Rendam Jalan R.E Martadinata
• 3 jam laludetik.com
thumb
Harga Bitcoin Catat Kerugian Tahunan Pertama Sejak 2022
• 15 jam laluwartaekonomi.co.id
Berhasil disimpan.