FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Politisi Anas Urbaningrum memberikan pernyataan menarik soal pertumbuhan kredit perbankan yang melambat.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat pertumbuhan kredit perbankan melambat per Oktober 2025. Pada bulan ke-10 tahun ini kredit tumbuh 7,36% secara tahunan menjadi Rp 8.220 triliun.
Pada bulan sebelumnya, kredit tumbuh 7,7% yoy dan pada periode yang sama tahun lalu naik 10,92% yoy.
Berdasarkan penggunaan, kredit investasi naik paling kencang, yaitu 15,72% yoy. Angka ini bahkan lebih tinggi bila dibandingkan dengan Oktober 2024.
Ini yang kemudian disorot oleh Anad Urbaningrum melalui cuitan di media sosial X pribadinya.
Ia mempertanyakan terkait efek dana gelontoran dari Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa angkanya mencapai 200 triliun dan 76 triliun kepada Himbara
“Bagaimana efek dana gelontoran Menkeu 200 triliun dan 76 triliun kepada Himbara?,” tulisnya dikutip Jumat (2/1/2025).
Anas menyebut permintaan kredit jadi sesuatu yang penting untuk saat ini.
Yang harus di jaga adalah gelontoran dana yang jangan sampai menurun. Jika menurun efek ekonominya akan mengkhawatirkan.
“Tetap saja permintaan kredit menjadi faktor penting. Jika gelontoran dana ngendon di laci bank, efek ekonomi yang diharapkan tidak datang. “Ditunggu, nanging ora teko”,” tuturnya.
Belum lagi soal daya beli, yang tentunya jadi faktor penting untuk mengerakkan komsumsi
“Sama pentingnya dengan daya beli untuk memggerakkan konsumsi. Daya beli yang ringkih akan menunda konsumsi, lalu efeknya adalah pertumbuhan yang tertahan,” ujarnya.
Anas Urbaningrum pun punya catatan penting untuk Menkeu Purbaya ke depannya
Diantaranya, tantangan untuk Menkeu agar dana tidak mengalami penurunan yang tentunya menunjang permintaan kredit.
“Jadi, tantangan kebijakan Menkeu adalah : bikin dana tidak ngendon, artinya permintaan kredit naik,” paparnya.
“Permintaan kredit naik meminta iklim usaha yg sehat dan lampu kalkulasi bisnis berwarna hijau. Juga daya beli yang membaik,” jelasnya.
Di tahun 2026 menurut prediksinya bakal dipenuhi dengan tantangan. Karena itu perlu adanya kebijakan yang tepat dan tentu terukur.
“Tahun 2026 penuh tantangan dan peluang. Diperlukan kebijakan yang tepat dan terukur. Bukan sekadar produktif pernyataan segar. Monggo, bisa!,” terangnya.
(Erfyansyah/fajar)


