Istanbul (ANTARA) - Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan dirinya akan berbicara dengan Presiden AS Donald Trump pada Senin terkait perang yang berlangsung antara Rusia dan Ukraina serta situasi di Gaza.
Saat berbicara kepada wartawan di Istanbul pada Jumat, Erdogan mengatakan pembicaraan yang dijadwalkan pada Senin sore itu akan fokus pada perkembangan utama di tingkat regional.
"Kami akan kembali melakukan panggilan telepon dengan Presiden Trump pada Senin," katanya, seraya menambahkan bahwa mereka akan membahas perkembangan yang terjadi antara Rusia dan Ukraina serta situasi di Palestina.
Baca juga: Trump ancam AS turun tangan Jika Iran tindak brutal demonstran
"Palestina tidak sendiri"
Erdogan juga mengomentari demonstrasi besar pro-Palestina yang diadakan di Jembatan Galata Istanbul pada Hari Tahun Baru, dan memuji aksi tersebut sebagai pesan solidaritas publik yang cukup kuat.
"Saat memasuki tahun baru, kita semua menyaksikan momen bersejarah di Jembatan Galata. Hal itu menunjukkan dengan jelas bahwa Palestina tidak sendirian," katanya.
Dia menggarisbawahi bahwa Turki akan terus mendukung Gaza dan rakyat Palestina, baik di tingkat nasional maupun dalam koordinasi dengan dunia Islam yang lebih luas.
"Kami tidak meninggalkan Gaza atau Palestina, dan kami tidak akan pernah meninggalkannya," imbuh Erdogan.
Baca juga: Sebanyak 42 jurnalis Palestina ditangkap Israel sepanjang 2025
Krisis kemanusiaan di Gaza
Sembari mengutuk serangan Israel yang terus berlanjut di Gaza, Erdogan mengatakan krisis kemanusiaan di Gaza, khususnya anak-anak yang hidup dalam kondisi sulit, tidak akan dibiarkan begitu saja.
"Penderitaan anak-anak yang tinggal di tenda-tenda darurat di tengah angin, hujan, dan lumpur tidak akan dibiarkan begitu saja, dan (Perdana Menteri Israel Benjamin) Netanyahu tidak akan lolos dari pertanggungjawaban," katanya.
Erdogan mencatat bahwa upaya bantuan kemanusiaan terus dibatasi, termasuk hambatan dalam pengiriman bahan bangunan untuk hunian sementara ke Gaza.
Terlepas dari tantangan yang ada, Erdogan mengatakan Turki akan terus menempuh semua jalur yang memungkinkan untuk mendukung warga Palestina dan meringankan penderitaan mereka.
Diplomasi perang Ukraina
Terkait perang yang terjadi antara Rusia dan Ukraina, Erdogan mengatakan bahwa Turki tetap menjalin kontak erat dengan semua pihak, termasuk Rusia, Ukraina, dan mitra Barat.
Dia juga mengatakan bahwa pertemuan puncak koalisi negara-negara yang bersedia terlibat akan diadakan di Paris minggu depan, dan kehadirannya akan diwakilkan kepada Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan.
Erdogan menambahkan bahwa keterlibatan diplomatik akan berlanjut melalui pembicaraan internasional mendatang, termasuk percakapan teleponnya dengan Trump pada Senin.
Baca juga: Spanyol: Situasi kemanusiaan Gaza sangat mengenaskan
Baca juga: Ukraina siapkan pertemuan penasihat keamanan Eropa, AS pada 3 Januari
Saat berbicara kepada wartawan di Istanbul pada Jumat, Erdogan mengatakan pembicaraan yang dijadwalkan pada Senin sore itu akan fokus pada perkembangan utama di tingkat regional.
"Kami akan kembali melakukan panggilan telepon dengan Presiden Trump pada Senin," katanya, seraya menambahkan bahwa mereka akan membahas perkembangan yang terjadi antara Rusia dan Ukraina serta situasi di Palestina.
Baca juga: Trump ancam AS turun tangan Jika Iran tindak brutal demonstran
"Palestina tidak sendiri"
Erdogan juga mengomentari demonstrasi besar pro-Palestina yang diadakan di Jembatan Galata Istanbul pada Hari Tahun Baru, dan memuji aksi tersebut sebagai pesan solidaritas publik yang cukup kuat.
"Saat memasuki tahun baru, kita semua menyaksikan momen bersejarah di Jembatan Galata. Hal itu menunjukkan dengan jelas bahwa Palestina tidak sendirian," katanya.
Dia menggarisbawahi bahwa Turki akan terus mendukung Gaza dan rakyat Palestina, baik di tingkat nasional maupun dalam koordinasi dengan dunia Islam yang lebih luas.
"Kami tidak meninggalkan Gaza atau Palestina, dan kami tidak akan pernah meninggalkannya," imbuh Erdogan.
Baca juga: Sebanyak 42 jurnalis Palestina ditangkap Israel sepanjang 2025
Krisis kemanusiaan di Gaza
Sembari mengutuk serangan Israel yang terus berlanjut di Gaza, Erdogan mengatakan krisis kemanusiaan di Gaza, khususnya anak-anak yang hidup dalam kondisi sulit, tidak akan dibiarkan begitu saja.
"Penderitaan anak-anak yang tinggal di tenda-tenda darurat di tengah angin, hujan, dan lumpur tidak akan dibiarkan begitu saja, dan (Perdana Menteri Israel Benjamin) Netanyahu tidak akan lolos dari pertanggungjawaban," katanya.
Erdogan mencatat bahwa upaya bantuan kemanusiaan terus dibatasi, termasuk hambatan dalam pengiriman bahan bangunan untuk hunian sementara ke Gaza.
Terlepas dari tantangan yang ada, Erdogan mengatakan Turki akan terus menempuh semua jalur yang memungkinkan untuk mendukung warga Palestina dan meringankan penderitaan mereka.
Diplomasi perang Ukraina
Terkait perang yang terjadi antara Rusia dan Ukraina, Erdogan mengatakan bahwa Turki tetap menjalin kontak erat dengan semua pihak, termasuk Rusia, Ukraina, dan mitra Barat.
Dia juga mengatakan bahwa pertemuan puncak koalisi negara-negara yang bersedia terlibat akan diadakan di Paris minggu depan, dan kehadirannya akan diwakilkan kepada Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan.
Erdogan menambahkan bahwa keterlibatan diplomatik akan berlanjut melalui pembicaraan internasional mendatang, termasuk percakapan teleponnya dengan Trump pada Senin.
Baca juga: Spanyol: Situasi kemanusiaan Gaza sangat mengenaskan
Baca juga: Ukraina siapkan pertemuan penasihat keamanan Eropa, AS pada 3 Januari




