Pantau - Perum Bulog menyiagakan stok beras darurat sebanyak 20 hingga 50 ton di titik-titik strategis seperti bandara, pelabuhan, dan gudang utama di wilayah terdampak bencana di Sumatra.
Kebijakan ini diumumkan langsung oleh Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, sebagai langkah tanggap terhadap bencana banjir dan longsor yang melanda Provinsi Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara.
Pimpinan wilayah dan cabang Bulog diwajibkan untuk menyiapkan stok tersebut guna menjamin respons cepat terhadap kebutuhan pangan di wilayah yang terisolasi atau mengalami gangguan akses darat.
Distribusi beras akan diutamakan melalui jalur udara dan laut apabila jalur darat tidak dapat dilalui akibat bencana.
“Beras itu harus siap diterbangkan ke daerah-daerah yang membutuhkan. Jika ada kontingensi, langsung didorong, termasuk dari gudang yang siaga 24 jam,” ungkapnya.
Titik Distribusi PrioritasStok beras darurat masing-masing sebanyak 20–50 ton akan disiagakan di bandara dan pelabuhan sebagai titik pengiriman utama menuju lokasi terdampak.
Selain itu, seluruh gudang Bulog di wilayah bencana ditetapkan dalam status siaga 24 jam untuk memastikan kesiapan logistik dan mempercepat proses pengiriman bantuan pangan.
Bulog juga menginstruksikan evaluasi berkala terhadap stok yang tersedia dan efektivitas distribusi di lapangan.
Kebijakan Berlaku Sampai Kondisi PulihKebijakan ini akan berlangsung hingga kondisi wilayah terdampak pulih sepenuhnya dan aktivitas masyarakat kembali normal.
Bulog memastikan bahwa sistem distribusi pangan darurat dilakukan secara terpadu dan bersinergi dengan berbagai pihak sebagai bagian dari sistem ketahanan pangan nasional di situasi krisis.




/https%3A%2F%2Fasset.kgnewsroom.com%2Fphoto%2Fpre%2F2019%2F05%2F04%2F18463020-1b0f-4ddf-8912-dfa5b68fc9f6_jpg.jpg)