Jakarta: Harga emas (XAU/USD) kembali menjadi sorotan pada perdagangan hari ini seiring meningkatnya optimisme pasar terhadap kelanjutan tren bullish. Pergerakan emas saat ini masih berada dalam bias positif, didukung oleh sentimen komunitas trader serta faktor fundamental global yang terus menguatkan daya tarik logam mulia sebagai aset safe-haven.
Berdasarkan analisis Dupoin Futures Indonesia, Andy Nugraha, melihat peluang lanjutan kenaikan harga emas apabila tekanan tren bullish mampu dipertahankan. Dalam skenario utama, emas diproyeksikan berpotensi bergerak naik menuju area USD4.600 pada pekan depan.
"Level tersebut dipandang sebagai target psikologis penting yang berpeluang diuji apabila minat beli tetap kuat dan harga mampu bertahan di atas area support kunci," kata dia dalam keterangan tertulisnya, Sabtu, 3 Januari 2026.
Namun demikian, Andy juga mengingatkan adanya skenario alternatif yang perlu diwaspadai pelaku pasar. Apabila harga mengalami reversal dan menembus key point di level USD4.139, maka tekanan jual berpotensi meningkat dan membuka ruang penurunan lanjutan menuju area USD4.025 dalam jangka waktu satu minggu ke depan.
Baca Juga :
Harga Emas UBS Turun Banyak Hari Ini, Gimana Galeri24 di Pegadaian?
(Ilustrasi. Foto: Freepik)
Menurut data sentimen komunitas trader, sekitar 61 persen pelaku pasar saat ini berada di posisi long atau bullish pada XAU/USD, sementara 39 persen lainnya mengambil posisi short. Kondisi ini mencerminkan dominasi optimisme di kalangan trader ritel, meskipun porsi posisi short yang masih cukup besar berpotensi memicu volatilitas tinggi apabila terjadi breakout harga.
"Komposisi sentimen tersebut menunjukkan pasar masih memiliki ruang pergerakan signifikan dalam waktu dekat, baik ke arah lanjutan penguatan maupun koreksi tajam jika terjadi perubahan sentimen secara cepat," ujarnya.
Secara fundamental, tren bullish emas masih didukung oleh latar belakang makroekonomi global yang penuh ketidakpastian. Harga emas sebelumnya berhasil mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah, didorong oleh meningkatnya permintaan safe-haven di tengah kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi global dan arah kebijakan moneter Amerika Serikat.
"Sentimen penghindaran risiko tetap kuat, terutama ketika pasar menilai potensi perlambatan ekonomi dan ketidakpastian geopolitik yang belum menunjukkan tanda mereda," jelas dia.
Ekspektasi terhadap kebijakan Federal Reserve juga menjadi faktor kunci yang menopang harga emas. Spekulasi bahwa bank sentral AS masih berpeluang memangkas suku bunga pada tahun 2026 terus menjadi katalis positif, meskipun data ekonomi AS yang relatif kuat berpotensi menunda atau mengurangi peluang pelonggaran tersebut.
Dalam kondisi suku bunga yang lebih rendah, emas menjadi lebih menarik karena menurunnya biaya peluang untuk memegang aset yang tidak memberikan imbal hasil. Di sisi lain, meskipun sempat mengalami fase profit-taking di akhir tahun, harga emas mampu bangkit kembali dari level terendah dua minggu terakhir.
Hal ini menunjukkan bahwa minat beli masih solid, terutama dari investor yang memanfaatkan koreksi harga sebagai peluang akumulasi. Ditambah dengan meningkatnya ketegangan global yang kembali mendorong permintaan aset lindung nilai, emas dinilai masih memiliki fondasi kuat untuk mempertahankan tren positifnya.
"Dengan kombinasi sentimen pasar, faktor teknikal, serta dukungan fundamental yang solid, pergerakan emas ke depan akan sangat ditentukan oleh kemampuan harga mempertahankan level kunci. Selama harga bertahan di atas area support utama, peluang menuju level yang lebih tinggi tetap terbuka, meskipun volatilitas diperkirakan akan tetap tinggi dalam jangka pendek," ungkapnya.



