EtIndonesia. Pesta malam Tahun Baru di bar kawasan resor ski Crans-Montana, Swiss, berakhir tragis setelah terjadi kebakaran yang menewaskan 47 orang dan melukai lebih dari 100 orang dengan tingkat luka yang bervariasi. Pemerintah Swiss menetapkan masa berkabung nasional selama lima hari. Para penyelidik pada Jumat (2 Januari) mulai melakukan proses identifikasi jenazah korban—pekerjaan berat yang diperkirakan memakan waktu beberapa hari.
Menurut pihak berwenang, kebakaran terjadi sekitar pukul 01.30 dini hari waktu setempat. Kantor berita Reuters melaporkan, sebagian besar pengunjung yang berpesta di bar bernama Le Constellation adalah kaum muda, dan banyak di antaranya mengalami luka bakar parah.
Kesaksian sejumlah penyintas serta video yang beredar di media sosial menunjukkan bahwa langit-langit ruang bawah tanah bar kemungkinan terbakar akibat lilin kembang api (sparkler) yang diletakkan terlalu dekat. Api dilaporkan menyebar dengan sangat cepat.
Polisi telah menutup lokasi kejadian dan menyatakan bahwa sebagian jenazah masih berada di dalam bar. Pihak berwenang berjanji akan bekerja tanpa henti, siang dan malam, untuk memastikan seluruh korban dapat diidentifikasi.
Pada malam sebelumnya (1 Januari), ratusan orang berkumpul di sekitar lokasi kejadian untuk mengheningkan cipta. Di area peringatan darurat di jalan menuju bar, puluhan orang meletakkan bunga dan lilin; sebagian menangis, sementara yang lain saling berpelukan dalam diam.
Keluarga korban yang dinyatakan hilang dengan cemas mencari bantuan, berharap memperoleh kabar tentang orang-orang tercinta. Sejumlah kedutaan besar asing juga segera melakukan verifikasi untuk memastikan apakah ada warga negara mereka di antara para korban.
Penyebab pasti kebakaran masih dalam penyelidikan. Otoritas Swiss menyatakan bahwa insiden ini tampaknya merupakan kecelakaan, bukan tindakan penyerangan.
Saksi Mata: Evakuasi Picu Desak-desakanAxel Clavier, penyintas berusia 16 tahun asal Paris, Prancis, mengatakan kepada Associated Press bahwa setelah kebakaran terjadi, suasana di dalam bar “sangat kacau”. Salah satu temannya telah meninggal dunia, sementara dua hingga tiga orang lainnya masih hilang.
Clavier mengaku tidak melihat langsung penyebab kebakaran, tetapi ia melihat pelayan membawa botol sampanye dengan lilin kembang api yang menyala.
Ia menceritakan, setelah api menyebar, dirinya hampir kehabisan napas. Awalnya ia bersembunyi di balik meja, lalu berlari ke atas dan berusaha memecahkan jendela akrilik dengan meja. Setelah jendela itu terlepas, ia berhasil melarikan diri. Dalam prosesnya, ia kehilangan jaket, sepatu, ponsel, dan kartu bank. Namun, ia mengatakan bahwa yang terpenting adalah ia masih hidup—“yang lain hanyalah harta benda.”
Dua perempuan lain mengatakan kepada stasiun televisi Prancis BFMTV bahwa mereka melihat seorang bartender pria mengangkat seorang bartender perempuan di pundaknya, sementara bartender perempuan itu memegang botol minuman yang ditancapi lilin. Api kemudian menyebar dan menyebabkan langit-langit kayu runtuh.
Salah satu perempuan tersebut menggambarkan bahwa semua orang panik ingin menyelamatkan diri. Dari klub malam di ruang bawah tanah, orang-orang berdesakan menaiki tangga sempit dan melewati pintu yang kecil, sehingga terjadi dorong-dorongan.
Seorang saksi mata pria lainnya mengatakan kepada BFMTV bahwa orang-orang memecahkan jendela demi melarikan diri. Beberapa korban mengalami luka serius. Orang tua yang panik bergegas ke lokasi dengan mobil untuk memastikan apakah anak-anak mereka terjebak. Ia menyaksikan sekitar 20 orang berjuang keluar dari asap tebal dan kobaran api dari seberang jalan. Ia juga menggambarkan proses pelarian itu seperti adegan film horor. (Hui)




