Seoul (ANTARA) - Presiden Lee Jae Myung mengatakan bahwa posisi Korea Selatan untuk menghormati prinsip one China policy atau prinsip satu China terkait isu Taiwan tetap tidak berubah.
Lee menyampaikan pernyataan tersebut pada Jumat (2/1) dalam wawancara dengan CCTV China, jelang kunjungan kenegaraannya ke China untuk bertemu Presiden Xi Jinping pada pekan depan.
Ketegangan antara China dan Taiwan kembali meningkat setelah Beijing menggelar latihan militer di sekitar pulau yang memiliki pemerintahan sendiri itu awal pekan ini, menyusul pengumuman Washington mengenai paket persenjataan berskala besar untuk Taipei.
“Saya dapat menyatakan dengan jelas bahwa saya sendiri menghormati prinsip ‘satu China’ dan bahwa perdamaian serta stabilitas sangat penting bagi Asia Timur Laut dan isu-isu di sekitarnya, termasuk masalah lintas-Selat,” kata Lee.
“Terkait isu Taiwan, yang merupakan isu terbesar yang masih tertunda bagi China, tidak ada perubahan dalam posisi (Korea Selatan) untuk menghormati kebijakan satu China,” tambahnya.
Selain itu, Lee menegaskan bahwa prinsip-prinsip kebijakan luar negeri yang disepakati bersama oleh Korea Selatan dan China saat menjalin hubungan diplomatik pada 1992 tetap berlaku dan terus berfungsi sebagai “pedoman inti” bagi hubungan bilateral kedua negara.
Kunjungan Lee ke China selama empat hari dijadwalkan dimulai pada Minggu.
Sebelumnya, dalam percakapan telepon dengan Menteri Luar Negeri Cho Hyun pada Rabu (31/12), Menteri Luar Negeri China Wang Yi mendesak Seoul untuk mengambil pendekatan yang “bertanggung jawab” terhadap sejarah serta mematuhi prinsip satu China dalam isu Taiwan.
Dalam kunjungannya ke China, yang akan disertai delegasi ekonomi berskala besar, Lee mengatakan ia berharap dapat membahas cara-cara untuk memperluas kerja sama ekonomi dengan China, khususnya di bidang teknologi canggih seperti kecerdasan buatan.
Kunjungan tersebut menyusul lawatan pertama Xi ke Korea Selatan dalam 11 tahun terakhir, yang berlangsung di sela-sela KTT Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC) di Gyeongju kurang dari dua bulan lalu, menandai kunjungan timbal balik para pemimpin dalam waktu yang relatif singkat.
Lebih lanjut, Lee mengatakan pemerintahannya akan menempuh pendekatan diplomasi yang pragmatis dengan tetap menjaga aliansi kuat dengan Amerika Serikat sembari mengelola hubungan yang stabil dengan China. Dirinya juga menekankan pentingnya otonomi strategis.
“Kerja sama keamanan dengan Amerika Serikat tidak dapat dihindari. Namun, terlibat konflik dengan China sama sekali tidak akan menguntungkan kepentingan nasional Korea Selatan. Korea Selatan dan China harus secara aktif mencari cara untuk memaksimalkan manfaat bersama,” kata dia.
Untuk mencapai tujuan tersebut, Lee mengatakan ia ingin mengadakan pertemuan rutin dengan Xi, setidaknya sekali dalam setahun, untuk mengkomunikasikan kebutuhan masing-masing dan memperluas kerja sama.
Sumber: Yonhap-OANA
Baca juga: China pamer kekuatan militer lewat latihan besar di sekitar Taiwan
Baca juga: AS desak China tahan diri usai gelar latihan militer di dekat Taiwan
Lee menyampaikan pernyataan tersebut pada Jumat (2/1) dalam wawancara dengan CCTV China, jelang kunjungan kenegaraannya ke China untuk bertemu Presiden Xi Jinping pada pekan depan.
Ketegangan antara China dan Taiwan kembali meningkat setelah Beijing menggelar latihan militer di sekitar pulau yang memiliki pemerintahan sendiri itu awal pekan ini, menyusul pengumuman Washington mengenai paket persenjataan berskala besar untuk Taipei.
“Saya dapat menyatakan dengan jelas bahwa saya sendiri menghormati prinsip ‘satu China’ dan bahwa perdamaian serta stabilitas sangat penting bagi Asia Timur Laut dan isu-isu di sekitarnya, termasuk masalah lintas-Selat,” kata Lee.
“Terkait isu Taiwan, yang merupakan isu terbesar yang masih tertunda bagi China, tidak ada perubahan dalam posisi (Korea Selatan) untuk menghormati kebijakan satu China,” tambahnya.
Selain itu, Lee menegaskan bahwa prinsip-prinsip kebijakan luar negeri yang disepakati bersama oleh Korea Selatan dan China saat menjalin hubungan diplomatik pada 1992 tetap berlaku dan terus berfungsi sebagai “pedoman inti” bagi hubungan bilateral kedua negara.
Kunjungan Lee ke China selama empat hari dijadwalkan dimulai pada Minggu.
Sebelumnya, dalam percakapan telepon dengan Menteri Luar Negeri Cho Hyun pada Rabu (31/12), Menteri Luar Negeri China Wang Yi mendesak Seoul untuk mengambil pendekatan yang “bertanggung jawab” terhadap sejarah serta mematuhi prinsip satu China dalam isu Taiwan.
Dalam kunjungannya ke China, yang akan disertai delegasi ekonomi berskala besar, Lee mengatakan ia berharap dapat membahas cara-cara untuk memperluas kerja sama ekonomi dengan China, khususnya di bidang teknologi canggih seperti kecerdasan buatan.
Kunjungan tersebut menyusul lawatan pertama Xi ke Korea Selatan dalam 11 tahun terakhir, yang berlangsung di sela-sela KTT Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC) di Gyeongju kurang dari dua bulan lalu, menandai kunjungan timbal balik para pemimpin dalam waktu yang relatif singkat.
Lebih lanjut, Lee mengatakan pemerintahannya akan menempuh pendekatan diplomasi yang pragmatis dengan tetap menjaga aliansi kuat dengan Amerika Serikat sembari mengelola hubungan yang stabil dengan China. Dirinya juga menekankan pentingnya otonomi strategis.
“Kerja sama keamanan dengan Amerika Serikat tidak dapat dihindari. Namun, terlibat konflik dengan China sama sekali tidak akan menguntungkan kepentingan nasional Korea Selatan. Korea Selatan dan China harus secara aktif mencari cara untuk memaksimalkan manfaat bersama,” kata dia.
Untuk mencapai tujuan tersebut, Lee mengatakan ia ingin mengadakan pertemuan rutin dengan Xi, setidaknya sekali dalam setahun, untuk mengkomunikasikan kebutuhan masing-masing dan memperluas kerja sama.
Sumber: Yonhap-OANA
Baca juga: China pamer kekuatan militer lewat latihan besar di sekitar Taiwan
Baca juga: AS desak China tahan diri usai gelar latihan militer di dekat Taiwan




