Ledakan bertubi-tubi terdengar di ibu kota Venezuela, Caracas, pada Sabtu (3/1). Serangan udara tersebut menyasar pangkalan militer dan gedung pemerintahan Venezuela.
Amerika Serikat (AS) menyatakan bertanggung jawab dalam serangan tersebut.
Venezuela mengeklaim, serangan udara yang dilakukan AS bertujuan untuk merebut sumber daya strategis negara tersebut.
"Tujuan serangan ini tidak lain adalah untuk merebut sumber daya strategis Venezuela, terutama minyak dan mineral, sebagai upaya untuk secara paksa menghancurkan kemerdekaan politik bangsa," demikian seperti dikutip dari keterangan pers Kedutaan Besar Venezuela di Indonesia, Sabtu (3/1).
Namun Venezuela memastikan upaya tersebut tak akan berhasil.
"Setelah lebih dari 200 tahun merdeka, rakyat dan pemerintah sah Venezuela tetap teguh mempertahankan kedaulatan serta hak yang tidak dapat dicabut untuk menentukan nasibnya sendiri," tegas pernyataan tersebut.
Menurut laporan AP, setidaknya tujuh ledakan terdengar di ibu kota Venezuela, Caracas. Pesawat tempur AS juga terlihat terbang rendah sejak pukul 02.00 dini hari.
Aktivitas militer AS meningkat di Venezuela, menargetkan kapal-kapal yang diduga terlibat menyelundupkan narkoba di kawasan Laut Karibia dan Samudra Pasifik bagian timur.
Presiden Venezuela Nicolas Maduro pada Kamis (1/1) lalu menyatakan pihaknya terbuka melakukan negosiasi dengan AS setelah menghadapi tekanan militer terkait tuduhan jaringan perdagangan narkoba.



