FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Pegiat media sosial, Herwin Sudikta, angkat suara terkait langkah Sekretariat Negara yang menghapus unggahan ucapan Presiden Prabowo Subianto terkait “Selamat Tahun Baru 2021”.
Hal tersebut mendadak ramai diperbincangkan karena orang nomor satu di Indonesia itu salah ucap tahun kemudian suaranya dihilangkan.
Dikatakan Herwin, insiden tersebut seharusnya bisa disikapi secara lebih terbuka.
Menurutnya, kepemimpinan justru diuji ketika terjadi kekeliruan, bukan saat semuanya berjalan sempurna.
“Kepemimpinan diuji bukan saat sempurna, tapi saat salah dan berani mengaku salah,” ujar Herwin kepada fajar.co.id, Minggu (4/1/2026).
Ia menegaskan, kesalahan penyebutan tahun bukanlah persoalan besar yang patut dibesar-besarkan.
Namun, langkah penghapusan unggahan dianggap memunculkan persoalan baru.
“Salah ucap tahun sebenarnya bukan dosa besar,” lanjutnya.
Herwin mempertanyakan keputusan Istana yang memilih menghapus konten tersebut, alih-alih mendorong Presiden untuk melakukan koreksi secara terbuka disertai permintaan maaf kepada publik.
“Yang jadi masalah, Istana lebih memilih menghapus suara Presiden daripada mengarahkan Presiden untuk mengoreksi dan meminta maaf,” sesalnya.
Ia juga melontarkan sindiran menohok terkait praktik penghapusan tersebut.
Menurut Herwin, jika suara Presiden saja bisa dihapus, maka muncul kekhawatiran lebih besar terhadap suara masyarakat.
“Atau memang sudah menjadi kebiasaan menghilangkan suara?,” kuncinya.
(Muhsin/fajar)



