Personal Attack dan Nasib Laki-laki yang Tidak Bercerita

kumparan.com
2 hari lalu
Cover Berita

Berawal dari kutipan yang saya temui di kanal Instagram yang menyebutkan bahwa "Gosip akan mati ketika sampai di telinga orang bijak. Rumor dimulai oleh para pembenci, disebarkan oleh orang bodoh, dan dipercaya oleh mereka yang dungu".

Tanpa saya sadari sebelumnya bahwa statement tersebut memiliki keterkaitan dengan novel 23:59 karya Brian Khrisna. Sebagian besar pembaca akan merasa relate dengan isi karya sastra ini. Laki-laki pemeran utama dalam novel ini mampu menjadi penggerak konflik yang signifikan di sepanjang alur cerita. Tokoh Raga yang menjadi simbol personal attack, seperti apa yang dialami laki-laki di dunia nyata seolah merepresentasikan narasi yang menyebutkan bahwa "laki-laki tidak bercerita".

Pandangan tersebut diperkuat pada tahap resolusi, di mana Raga tidak mengabaikan sosok Ami yang selamai ini mendampingi setiap langkah hidupnya yang bahkan segera rampung. Di saat-saat terakhirnya, ia tidak memandang Ami sebagai objek kesenangan. Setidaknya secara implisit, Raga mengutarakan kesedihannya yang tidak lagi terbendung kepada Ami sebagai simbol perpisahan. Simbol tersebut tidak objektif, itulah yang kemudian memicu beragam tanda tanya dari pembaca: apa alasan sebenarnya Raga meninggalkan Ami?

Uniknya, novel 23:59 menghadirkan pengalaman membaca yang memainkan emosi, mulai dari sedih, marah, lucu, romantis, hingga sedih lagi. Di awal bab, penulis seolah hendak membangkitkan antara rasa amarah dan penasaran di benak pembaca. Keadaan tersebut membuat otak pembaca menerka-nerka sosok Raga: lelaki pengecut atau lebih buruk dari itu? Disamping itu, ada satu momen yang paling disorot terhadap tokoh Raga. Bagaimana bisa ia bertahan dari segala rampus yang ia terima dari orang-orang terdekat Ami, termasuk orang tuanya?

Personal attack tidak hanya menimbulkan kesakitan secara psikis terhadap manusia, tetapi juga dampak beruntun yang mampu menurunkan minat seseorang terhadap sesuatu hingga berkurangnya kemampuan sosialisasi. Novel 23:59 memberikan gambaran pedih kepada kita (khususnya laki-laki) betapa mengerikannya sebuah prasangka dan fitnah yang terucap. Dengan mengangkat isu yang berbasis tekanan sosial, novel 23:59 mengajarkan kita tentang celakanya bagi seseorang yang menghakimi orang lain tanpa tahu keadaan yang sebenarnya. Ironisnya, novel ini sekaligus memberi sindiran kepada kita untuk tidak menyimpulkan sesuatu hanya berdasarkan ucapan orang.

Saya mengingatkan diri sendiri dan para pembaca kumparan bahwa toxic relationship itu nyata adanya. Kemungkinan terburuknya adalah jika itu berasal dari orang yang paling kita cintai. Melalui novel ini, sosok laki-laki digambarkan sebagai korban dari ketidakadilan suatu hubungan yang pada akhirnya mengharuskan laki-laki untuk tidak bercerita.

Ini bukan sekedar karya fiksi, ini adalah kisah nyata.

Terimakasih


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
BMKG Prakirakan Hujan Disertai Petir Mengguyur Kota-Kota Besar Indonesia Hari Ini
• 2 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Merawat Keamanan dari Pulau Terluar, Bhabinkamtibmas Barrang Lompo Perkuat Sinergi Warga
• 3 jam laluharianfajar
thumb
SBN RI Catat Inflow Asing Sepanjang 2025, Sentimen Pasar Membaik
• 8 jam lalubisnis.com
thumb
Pramono Anung Resmikan Pasar Kombongan Kemayoran Usai Mangkrak Empat Tahun
• 17 jam lalupantau.com
thumb
BNPB Sampaikan Perkembangan Pembangunan Huntara dan Penyaluran Datna Tunggu Hunian di Sumbar
• 5 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.