Pantau - Ratusan demonstran berkumpul di depan Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS) di Madrid, Spanyol, pada Minggu (4/1), untuk memprotes operasi militer AS di Venezuela yang berujung pada penangkapan Presiden Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores.
Demonstrasi Dikecam sebagai Pelanggaran Kedaulatan VenezuelaDalam aksi tersebut, para peserta menyampaikan kepada RIA Novosti bahwa langkah militer AS merupakan pelanggaran berat terhadap hukum internasional dan campur tangan dalam urusan dalam negeri negara berdaulat.
“Apa yang terjadi di negara kami merupakan pelanggaran berat terhadap hukum internasional dan campur tangan urusan dalam negeri negara berdaulat. Serangan AS akan meninggalkan luka yang jauh lebih dalam dibandingkan masalah yang mereka klaim ingin perbaiki,” ujar Orlando Salas, warga Venezuela yang telah tinggal di Spanyol selama enam tahun.
Demonstrasi juga dihadiri oleh perwakilan kekuatan politik sayap kiri di Spanyol, termasuk pemimpin partai Podemos, Ione Belarra, yang mendesak pemerintah Spanyol dan Uni Eropa untuk meninjau kembali hubungan diplomatik dengan Washington dan menyikapi peristiwa ini secara tegas.
Di sekitar kawasan Kedutaan Besar AS, pengamanan diperketat oleh Kepolisian Nasional dan Garda Sipil, mengingat estimasi kehadiran mencapai beberapa ratus demonstran.
Para peserta aksi mengibarkan bendera, meneriakkan slogan, serta menyuarakan penolakan terhadap kebijakan luar negeri AS, terutama di kawasan Amerika Latin.
“Ini bukan soal mendukung tokoh politik tertentu, melainkan soal penolakan terhadap tindakan kekerasan dan penangkapan lintas wilayah. Kami menentang tekanan militer dan mendukung hak setiap bangsa untuk menentukan masa depannya sendiri tanpa campur tangan pihak luar,” kata Eric Briceno, warga Kuba yang ikut serta dalam aksi tersebut.
Briceno juga menyampaikan bahwa kemarahan publik tidak hanya tertuju pada krisis di Venezuela, tetapi juga terhadap peran AS dan NATO di Amerika Latin, dan memperingatkan bahwa langkah Washington dapat menjadi preseden berbahaya bagi negara-negara lain di kawasan tersebut.
Ketegangan Internasional Meningkat, Venezuela dan Rusia Ajukan KeberatanSebelumnya, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa AS telah melancarkan serangan besar ke Venezuela pada Sabtu (3/1), yang menyebabkan penangkapan Presiden Maduro dan Cilia Flores, serta pemindahan keduanya ke luar negeri.
Sejumlah media mengabarkan terjadinya ledakan di Caracas, yang dikaitkan dengan keterlibatan unit elite Delta Force AS.
The New York Times, mengutip pejabat senior Venezuela, melaporkan bahwa sedikitnya 40 orang tewas, termasuk personel militer dan warga sipil.
Otoritas Venezuela menyatakan bahwa mereka tidak mengetahui keberadaan Maduro dan telah menuntut bukti bahwa ia masih hidup.
Menanggapi hal tersebut, Trump membagikan foto yang diklaim menunjukkan Maduro berada di atas kapal perang USS Iwo Jima, sementara media AS menyiarkan pendaratan pesawat di Negara Bagian New York yang disebut membawa Maduro dan istrinya, dikawal oleh puluhan aparat penegak hukum.
Sejumlah anggota Kongres AS mengecam operasi tersebut sebagai tindakan ilegal, namun pemerintahan AS menegaskan bahwa Maduro akan diadili di pengadilan federal AS atas dugaan perdagangan narkoba dan kerja sama dengan kelompok teroris.
Sebagai tanggapan, Kementerian Luar Negeri Venezuela menyatakan akan mengajukan keberatan ke organisasi internasional dan telah meminta pertemuan darurat Dewan Keamanan PBB, yang dijadwalkan pada 5 Januari.
Dukungan terhadap Venezuela juga datang dari Kementerian Luar Negeri Rusia, yang menyatakan solidaritas, dan menyebut pemindahan paksa Maduro dan istrinya sebagai bentuk agresi AS.
Moskow menyerukan pembebasan Maduro dan Cilia Flores, serta menuntut langkah-langkah untuk mencegah eskalasi lebih lanjut di sekitar Venezuela.
Informasi ini dikonfirmasi melalui laporan dari Sputnik-OANA.
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5380907/original/068444200_1760438140-men9.jpg)


