Nicolas Maduro Ditangkap, AS Pimpin Transisi Ekonomi Venezuela

metrotvnews.com
1 hari lalu
Cover Berita

Caracas: Dunia dikejutkan dengan kabar penangkapan Nicolás Maduro dan istrinya oleh pasukan khusus Amerika Serikat (AS) di Caracas pada Sabtu, 3 Januari 2026. Mantan orang terkuat Venezuela tersebut, kini menghadapi dakwaan berat di New York terkait konspirasi terorisme narkoba dan impor kokain.

Presiden AS Donald Trump mengonfirmasi AS akan mengambil alih kendali pemerintahan Venezuela untuk sementara waktu guna memastikan stabilitas.

"Kami akan menjalankan negara ini sampai kami dapat melakukan transisi yang aman, tepat, dan bijaksana. Kita tidak bisa mengambil risiko pihak lain mengambil alih Venezuela tanpa memikirkan kepentingan rakyatnya," ujar Trump saat memberikan keterangan pers di Mar-a-Lago, Florida.

Tugas membangun kembali Venezuela bukanlah perkara mudah. Fokus utama adalah memulihkan mata uang Bolivar yang telah hancur. Data dari Trading Economics menunjukkan nilai Bolivar anjlok hingga 469 persen hanya dalam satu tahun terakhir.
  Baca juga: Maduro Ditangkap, Trump Sebut Kuba Kehilangan Penopang Keamanan Venezuela   Pembentukan dewan mata uang
Ahli ekonomi, seperti Robert Wright dari Universitas Austin menyarankan pembentukan dewan mata uang (currency board) yang mematok nilai Bolivar terhadap dolar AS. 

"Dewan mata uang terbukti sukses menstabilkan nilai tukar dan dapat secara signifikan menurunkan risiko hiperinflasi di masa depan," jelas Wright kepada FOX Business.

Sebagai catatan, Venezuela pernah mencatat rekor inflasi mengerikan sebesar 344.509,50 persen pada Februari 2019. Kehancuran ekonomi Venezuela disebut sebagai hasil dari kebijakan salah urus selama puluhan tahun. 

Titik krusial dimulai pada 1976 ketika pemerintah menasionalisasi industri minyak dan gas di bawah perusahaan negara, Petróleos de Venezuela (PDVSA).

Kondisi diperparah di era Hugo Chavez. Pada 2001, lewat Undang-Undang Pemberdayaan, pemerintah mulai mengintervensi perusahaan swasta secara total. Puncaknya terjadi pada 2002, saat Chavez memecat lebih dari 18 ribu karyawan terampil PDVSA setelah aksi mogok massal.

Akibatnya, produksi minyak yang mencapai 3,5 juta barel per hari pada 1997 merosot tajam menjadi hanya 1,1 juta barel baru-baru ini.


(Warga Venezuela pascapenangkapan Presiden Nicolas Maduro oleh AS. Foto: Anadolu Agency)
  Kelaparan dan wabah
Dampak dari kebijakan ekonomi tersebut sangat nyata bagi rakyat. Menurut Program Pangan Dunia, Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB), sekitar empat juta orang atau 15 persen dari total populasi sangat membutuhkan bantuan pangan.

Krisis pangan ini telah mencapai tahap ekstrem sejak 2016. Ekonom American Institute for Economic Research (AIER), Pete Earle mencatat, pada 2018, rata-rata warga Venezuela kehilangan berat badan hingga 9 kilogram akibat kekurangan gizi.

Bahkan, sempat dilaporkan adanya pencurian hewan kebun binatang untuk dikonsumsi warga yang kelaparan, sementara wabah malaria kembali menghantui sebagian besar wilayah negara.

Kini, di bawah transisi yang dipimpin AS, prioritas utama adalah memastikan distribusi logistik makanan dan layanan dasar berjalan kembali guna mencegah kekacauan sosial yang lebih dalam. (Surya Mahmuda)


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Shin Min Ah dan Kim Woo Bin Bulan Madu ke Spanyol
• 15 jam laluinsertlive.com
thumb
Alarm Nyaring dari Papua soal Kesehatan Mental Prajurit
• 21 jam lalukompas.id
thumb
Prabowo Peringatkan Bahaya Ketergantungan Impor: Swasembada Pangan Jadi Kunci Hadapi Krisis Global
• 3 jam lalupantau.com
thumb
Update Bencana Sumatera: Korban Tewas Capai 1.178 Orang
• 17 jam laluokezone.com
thumb
Catat Tanggalnya, Ini Waktu Mulai Puasa Sya’ban 2026
• 18 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.