Bencana di Sumatera Turut Pengaruhi Inflasi Nasional 2025

kompas.id
1 hari lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS – Tingkat inflasi nasional pada 2025 sebesar 2,92 persen secara tahunan. Tingkat inflasi tersebut, terutama pada Desember 2025, turut dipicu inflasi di tiga daerah yang terdampak bencana di Sumatera, yakni Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Badan Pusat Statistik (BPS), Senin (5/1/2026), merilis, per Desember 2025, tingkat inflasi nasional sebesar 0,64 persen secara bulanan dan 2,92 persen secara tahunan. Tingkat inflasi tahunan pada 2025 itu lebih tinggi dari 2024 yang sebesar 2,26 persen. Namun, tingkat inflasi itu masih di rentang target inflasi 2025 yang ditetapkan pemerintah dan Bank Indonesia, yakni 2,5 persen-3,5 persen.

Tingkat inflasi tahunan pada 2025 itu lebih tinggi dari 2024 yang sebesar 2,26 persen.

Komoditas yang dominan memicu inflasi tahunan itu adalah emas dan perhiasan dengan andil sebesar 0,79 persen, cabai merah sebesar 0,19 persen, daging ayam ras sebesar 0,14 persen. Sementara, ikan segar, cabai rawit, dan beras, masing-masing sebesar 0,15 persen andilnya.

Sepanjang Januari-Desember 2025, emas dan perhiasan mengalami inflasi sebelas kali. Adapun cabai merah lima kali, ikan segar delapan kali, cabai rawit lima kali, beras delapan kali, dan daging ayam ras tujuh kali.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini, mengatakan, tingkat inflasi bulanan secara nasional pada Desember 2025 juga turut dipicu kenaikan harga komoditas di tiga daerah yang terdampak bencana di Sumatera. Ketiga daerah itu adalah Aceh, Sumatera Utara (Sumut), dan Sumatera Barat.

Pada Desember 2025, Aceh, Sumut, dan Sumbar mengalami inflasi bulanan masing-masing sebesar 3,6 persen, 1,66 persen, dan 1,48 persen. Sebulan sebelumnya, Aceh, Sumut, dan Sumbar mengalami deflasi masing-masing sebesar 0,67 persen, 0,42 persen, dan 0,24 persen.

Menurut Pudji, secara umum, inflasi itu dipicu kenaikan harga komoditas kelompok makanan, minuman, dan tembakau akibat dampak bencana banjir dan longsor pada akhir November 2025. Komoditas yang dominan menyebabkan inflasi di Aceh adalah beras dengan andil 0,8 persen. Bahan bakar rumah tangga dan minyak goreng, masing-masing memberikan andil sebesar 0,26 persen dan 0,26 persen.

Secara umum, inflasi itu dipicu kenaikan harga komoditas kelompok makanan, minuman, dan tembakau akibat dampak bencana banjir dan longsor pada akhir November 2025.

Di Sumut, komoditasnya berupa cabai rawit dengan andil 0,41 persen, bawang merah dengan andil 0,24 persen, dan kelapa dengan andil 0,14 persen. adapun di Sumbar, komoditas yang berandil besar terhadap inflasi adalah bawang merah (0,22 persen), cabai rawit (0,18 persen), dan beras (0,14) persen.

“Ketiga provinsi tersebut termasuk dalam kelompok provinsi dengan tingkat inflasi tertinggi. Aceh, bahkan mengalami inflasi tahunan tertinggi pada 2025,” katanya.

BPS mencatat, pada 2025, terdapat empat daerah di Sumatera yang mengalami inflasi tahunan yang tinggi atau jauh di atas tingkat inflasi nasional. Aceh menempati peringkat ke-1 dengan tingkat inflasi tahunan sebesar 6,71 persen. Berturut-turut menyusul adalah Sumbar sebesar 5,15 persen, Riau sebesar 4,88 persen, dan Sumut sebesar 4,66 persen.

Serial Artikel

Bencana di Sumatera Berpotensi Besar Ganggu Ketahanan Pangan Daerah

Kemendag tengah mendata pasar-pasar rakyat yang terdampak bencana di Sumatera. Namun, Kemendag tidak memiliki dana untuk memperbaiki pasar yang rusak akibat bencana.

Baca Artikel
Stok beras awal 2026

Sementara itu, Badan Pangan Nasional (Bapanas) menyebutkan, stok beras nasional pada awal 2026 mencapai 12,53 juta ton. Stok beras itu cukup untuk memenuhi konsumsi masyarakat hingga Ramadhan-Lebaran 2026, bahkan hingga Mei 2026.

Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, menuturkan, stok beras nasional sebanyak 12,53 juta ton itu sudah termasuk cadangan beras pemerintah (CBP) yang dikelola Perum Bulog sebesar 3,25 juta ton. Selain di Bulog, stok beras nasional tersebar di tingkat rumah tangga produsen dan konsumen, penggilingan, pedagang, serta hotel, restoran, dan katering.

“Stok beras nasional pada awal 2026 itu meningkat pesat dalam dua tahun terakhir. Peningkatannya mencapai 203,05 persen terhadap stok awal 2024 yang saat itu sebanyak 4,13 juta ton dan 49,12 persen dari stok awal 2025 yang sebesar 8,4 juta ton,” tuturnya melalui siaran pers.

Stok beras nasional pada awal 2026 masih mencukupi hingga Ramadhan-Lebaran (Februari-Maret 2026), bahkan hingga Mei 2025.

Baca Juga"Kage Bunshin no Jutsu" Bulog

Kepala Bapanas dan juga Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menegaskan, stok beras nasional pada awal 2026 sangat tinggi. Stok tersebut masih mencukupi hingga Ramadhan-Lebaran (Februari-Maret 2026).

Bahkan dengan kebutuhan konsumsi beras bulanan sebanyak 2,6 juta ton, stok beras nasional tersebut dapat memenuhi kebutuhan masyarkat hingga lima bulan atau Mei 2025. Sementara produksi beras nasional sepanjang 2026 dan stok beras nasional pada akhir 2026 diperkirakan masing-masing sebesar 34,77 juta tondan 16,19 juta ton.

”Berdasarkan kondisi stok itulah pemerintah memutuskan untuk tidak mengimpor beras untuk keperluan konsumsi dan industri. Stok beras nasional masih aman. Begitu juga dengan CBP di Bulog yang lebih dari 3 juta ton atau tertinggi sepanjang sejarah,” kata Amran.

Baca JugaKarpet Merah Petani 2026


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Umumkan Hamil di Jepang, Via Vallen Tidak Sabar Anaknya Lahir
• 18 jam lalugenpi.co
thumb
Atasi Krisis Tenaga Kerja, Rumah Sakit Jepang Rekrut Perawat Indonesia
• 47 menit laluharianfajar
thumb
AC Milan Dapat Kabar Baik dari Liverpool, Si Anak Hilang Italia Berpotensi Balik ke Serie A dan San Siro Jadi Salah Satu Destinasi
• 16 jam lalutvonenews.com
thumb
Narasemesta Jadi Pilar Keberlanjutan Asuransi Jasindo di 2025
• 1 jam lalurepublika.co.id
thumb
KPK ungkap pasal dipakai saat akan tahan Aswad Sulaiman pada 2023
• 17 jam laluantaranews.com
Berhasil disimpan.