Utusan pemimpin Partai Komunis Tiongkok (PKT) Xi Jinping mengunjungi Venezuela pada 2 Januari, yang mana jelas dimaksudkan untuk memberi “semangat” kepada Presiden Venezuela Nicolás Maduro saat sedang berada di bawah tekanan berat Amerika Serikat. Militer AS mengungkapkan bahwa pada malam yang sama, Presiden Trump memerintahkan serangan malam ke Venezuela.
EtIndonesia. Pada 3 Januari 2026 dini hari, militer AS melancarkan serangan malam ke sejumlah kota di Venezuela dan menangkap pasangan Maduro dari ibu kota Caracas. Seluruh operasi hanya memakan waktu sekitar tiga jam.
Dalam konferensi pers 3 Januari, pihak militer AS menjelaskan bahwa pada 2 Januari pukul 22.46, Presiden Trump mengeluarkan perintah serangan. Militer AS mengerahkan sekitar 150 pesawat dan menyelesaikan operasi militer yang telah direncanakan selama berbulan-bulan hanya dalam hitungan jam.
Banyak pihak di luar negeri secara serempak mengaitkan peristiwa ini dengan pertemuan Maduro dan delegasi PKT pada 2 Januari siang. Sejumlah media melaporkan secara tersirat bahwa hanya “beberapa jam” sebelum ditangkap, Maduro baru saja bertemu dengan utusan khusus PKT.
Pada hari itu, utusan khusus Xi Jinping untuk urusan Amerika Latin, Qiu Xiaoqi, memimpin delegasi mengunjungi Venezuela. Istana Kepresidenan Venezuela secara terbuka mempromosikan pertemuan antara Maduro dan perwakilan PKT yang berlangsung lebih dari tiga jam, serta menekankan apa yang disebut sebagai “persahabatan bersaudara” dan “hubungan kerja sama sepanjang waktu.” Kedua pihak juga menandatangani lebih dari 600 perjanjian.
Dalam beberapa bulan sebelumnya, pemerintahan Trump terus meningkatkan tekanan terhadap Maduro, menuntut agar ia mengakhiri pemerintahan otoriter dan menghentikan pengiriman narkoba ke Amerika Serikat.
Kunjungan PKT ke Venezuela pada saat ini jelas dimaksudkan untuk menunjukkan dukungan dan “bersatu melawan Amerika.” Banyak pengamat politik menilai bahwa kemampuan Maduro untuk bertahan lama di bawah tekanan berat AS berkaitan dengan dukungan diam-diam PKT. Keputusan Trump untuk menangkap Maduro hidup-hidup setelah pertemuannya dengan perwakilan PKT kemungkinan dimaksudkan sebagai peringatan keras kepada PKT.
Dalam konferensi pers 3 Januari, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan bahwa Amerika Serikat telah memberi Maduro terlalu banyak kesempatan, namun ia tetap bersikeras pada jalannya sendiri.
Sebelumnya, media berulang kali melaporkan bahwa pemerintahan Trump dan Maduro pernah melakukan kontak rahasia, membahas berbagai skema untuk menjamin “pengunduran diri yang aman” bagi Maduro, namun semuanya gagal mencapai kesepakatan.
Seorang pembuat konten media independen melaporkan bahwa saat militer AS menangkap Maduro, delegasi Tiongkok belum meninggalkan Caracas. Namun, informasi ini untuk sementara sulit diverifikasi.
Trump sendiri mengatakan dalam wawancara media pada 3 Januari bahwa ketika ia memerintahkan penangkapan hidup terhadap Maduro, ia “tidak mengetahui” bahwa Maduro pada hari itu telah bertemu dengan perwakilan Tiongkok. (Hui)



