Penulis: Fityan
TVRINews – Shanghai
Meski ketegangan global meningkat, pakar menilai invasi Beijing terhadap Taiwan dalam waktu dekat tetap tidak mungkin terjadi.
Serangan militer Amerika Serikat ke Venezuela di bawah komando Presiden Donald Trump diprediksi akan dimanfaatkan Tiongkok untuk memperkuat klaim teritorialnya, termasuk di Taiwan dan Laut Tiongkok Selatan.
Kendati demikian, sejumlah analis menilai langkah agresif Washington tersebut tidak akan mempercepat jadwal invasi Beijing terhadap Taiwan.
Para ahli berpendapat bahwa pertimbangan Presiden Xi Jinping mengenai Taiwan tetap berfokus pada dinamika domestik dan kapasitas militer Tiongkok, bukan sekadar reaksi terhadap aksi AS di Amerika Latin.
Namun, penangkapan pemimpin Venezuela, Nicolas Maduro, oleh pasukan AS pada Sabtu 3 Januari 2026 lalu dianggap memberikan "amunisi diplomasi" bagi Beijing untuk mendiskreditkan posisi Washington di panggung internasional.
"Amunisi Murah" untuk Kritik Diplomatik
Dalam jangka pendek, Tiongkok diperkirakan akan menggunakan insiden ini untuk menyerang balik argumen AS mengenai tatanan hukum internasional. Selama ini, Washington konsisten menuduh Beijing melanggar hukum internasional di wilayah perairan sengketa.
“Argumen jangka panjang Washington adalah bahwa tindakan Tiongkok melanggar hukum internasional, namun kini mereka sendiri merusak prinsip tersebut,” ujar William Yang, analis dari International Crisis Group. Kepada AFP. “Ini menciptakan banyak peluang dan ‘amunisi murah’ bagi Tiongkok untuk menekan balik AS di masa depan.”
Beijing secara resmi telah mengutuk serangan tersebut dan menyebutnya sebagai pelanggaran hukum internasional yang mengancam keamanan Amerika Latin. Media pemerintah Tiongkok, Xinhua, dalam laporannya menyebut tindakan tersebut sebagai "perilaku hegemonik yang telanjang."
Taiwan Bukan Venezuela
Meski Tiongkok terus meningkatkan tekanan militer di sekitar Taiwan, para pengamat hubungan internasional menyangsikan bahwa Beijing akan meniru langkah pragmatis AS untuk melakukan serangan kilat.
“Mengambil alih Taiwan bergantung pada pengembangan kapabilitas Tiongkok yang saat ini masih terus dibangun, bukan pada apa yang dilakukan Trump di benua yang jauh,” tegas Shi Yinhong, Profesor Hubungan Internasional di Universitas Renmin, Beijing
.
Senada dengan hal tersebut, Neil Thomas dari Asia Society menjelaskan bahwa Xi Jinping lebih mengutamakan stabilitas nasional.
“Beijing ingin terlihat kontras dengan Washington demi menunjukkan klaim sebagai pemimpin yang mendukung perdamaian dan moralitas. Xi lebih peduli pada Tiongkok daripada Venezuela,” jelasnya.
Dari sisi Taipei, Wang Ting-yu, anggota parlemen senior Taiwan dari partai berkuasa, menegaskan perbedaan mendasar antara posisi negaranya dengan Venezuela.
Melalui pernyataan di media sosial, ia menyebut bahwa Tiongkok tidak memiliki sarana yang memadai untuk melakukan hal serupa terhadap Taiwan.
“Tiongkok bukanlah Amerika Serikat, dan Taiwan tentu saja bukan Venezuela. Jika Tiongkok benar-benar bisa melakukannya, mereka sudah melakukannya sejak lama,” tulis Wang.
Dampak Jangka Panjang
Meskipun invasi militer dianggap tidak akan terjadi dalam waktu dekat, situasi ini memperumit posisi Taiwan di kancah global.
Lev Nachman, Profesor Ilmu Politik di Universitas Nasional Taiwan, menilai narasi yang berkembang pasca-serangan Venezuela dapat digunakan Xi Jinping di masa depan untuk menciptakan justifikasi lebih kuat atas tindakan terhadap Taiwan.
Hingga saat ini, baik Kementerian Luar Negeri Tiongkok maupun Kantor Kepresidenan Taiwan belum memberikan komentar resmi lebih lanjut mengenai posisi mereka terkait dinamika terbaru di Amerika Latin tersebut.
Editor: Redaktur TVRINews




