Akademisi sarankan MBG di sekolah 1-2 hari saja, sisanya bawa bekal

antaranews.com
2 hari lalu
Cover Berita
Jakarta (ANTARA) - Akademisi Universitas Gadjah Mada (UGM) Digna Niken Purwaningrum menyarankan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk sekolah dilaksanakan selama satu atau dua hari saja, tetapi dengan menu seimbang, sedangkan untuk hari selanjutnya siswa bisa membawa bekal dari rumah.

"MBG ini kan selama diberikan lima hari dalam seminggu, bagaimana kalau sebetulnya tidak perlu lima hari? Bagaimana kalau 1-2 hari saja, tetapi penuh menunya dengan gizi seimbang dan berbobot," kata Dosen Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK KMK) UGM itu dalam siniar Badan Gizi Nasional (BGN) yang diikuti di Jakarta, Senin.

Ia menyampaikan hal tersebut untuk mencegah ketergantungan masyarakat terhadap bantuan yang diberikan pemerintah, sekaligus memberikan edukasi kepada anak-anak agar lebih mandiri dan tidak bergantung pada MBG saja untuk memenuhi kebutuhan gizinya.

Baca juga: Akademisi sebut MBG mampu angkat beban ekonomi keluarga

"Hari yang lain bisa dilakukan edukasi untuk kemandirian. Anak bisa membawa bekal yang dimasak mandiri dari rumah, itu akan mengurangi efek ketergantungan tadi, dan dari awal mereka sudah terkonsep bahwa MBG ini tidak bisa selamanya mereka bergantung pada program ini," ujar Digna.

Ia juga menyarankan agar tiap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) diberikan pendampingan untuk merealisasikan berbagai menu yang telah dirancang dengan gizi seimbang.

Baca juga: Akademisi: Optimalkan posyandu untuk MBG sasaran ibu hamil dan balita

"Beberapa SPPG memang membutuhkan pendampingan supaya bisa merealisasikan menu-menu tersebut. Rencananya sudah baik, tetapi dalam realisasinya, tentu ada perbedaan standar harga di lapangan, karena kita terkadang mengalami inflasi bahan pangan yang tidak sesuai dengan rencana kita, dan itu sangat mungkin terjadi," paparnya.

Digna juga menegaskan MBG sangat ditentukan oleh komitmen memberikan makan yang bergizi seimbang di level keluarga, karena keberlanjutan sangat ditentukan komitmen keluarga.

"Kalau dampak panjang, monitoring berkelanjutan perlu dilaksanakan, itu bisa dilakukan beberapa pihak, misalnya terkait dengan program-program kesehatan, nanti bisa bekerja sama dengan teman-teman di Dinas Kesehatan karena ada beberapa program yang saling membantu MBG ini," tuturnya.

Baca juga: Akademisi sebut pentingnya buka wacana publik yang transparan soal MBG


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Bank Sentral Peringatkan Daya Saing Ekonomi Thailand Menurun
• 8 jam laluidxchannel.com
thumb
Retret Berulang dan Konsekuensi Kabinet Gemuk Prabowo
• 17 jam lalukompas.id
thumb
Aceh Utara butuh 73 ribu perlengkapan sekolah
• 7 jam laluantaranews.com
thumb
Trump Bakal Reimburse Perusahaan AS yang Ambil Alih Industri Minyak Venezuela
• 17 jam lalukumparan.com
thumb
Alasan Utama Andhara Early Cerai dari Bugi Ramadhana, Singgung Prinsip Hidup
• 14 jam laluinsertlive.com
Berhasil disimpan.