Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menyinggung perdebatan soal persatuan dan demokrasi. Ia menyebut ada pihak yang mengatakan bahwa bersatu bukanlah hal yang demokratis.
Prabowo menegaskan bahwa kritik dan koreksi merupakan bagian penting dari demokrasi. Namun, ia mengingatkan agar perbedaan pandangan tidak disertai dengan fitnah yang justru merusak persatuan.
“Ada yang mengatakan kalau bersatu itu tidak demokratis. Loh, demokratis silakan. Koreksi silakan. Kritik, bagus. Tapi fitnah itu tidak bagus. Semua agama tidak mengizinkan fitnah,” ujar Prabowo dalam pidatonya di acara Natal Nasional 2025 di Tennis Indoor Senayan, Jakarta Pusat, Senin (5/1).
Ia menilai nilai-nilai agama secara tegas melarang kebohongan dan fitnah karena dampaknya yang destruktif bagi kehidupan berbangsa. Prabowo kemudian mencontohkan ajaran lintas agama terkait larangan berbohong dan menyebarkan fitnah.
“Saya yakin, di agama Islam fitnah lebih kejam dari pembunuhan. Di agama Kristen demikian juga. Thou shalt not lie. Kebohongan itu tidak baik. Apalagi kebohongan yang menimbulkan kecurigaan, kebohongan yang menimbulkan perpecahan, kebohongan yang menimbulkan kebencian. Ini bisa menghancurkan negara,” katanya.
Dalam pidato tersebut, Prabowo juga menekankan pentingnya sikap terbuka terhadap kritik. Ia menyebut koreksi sebagai bentuk pengamanan bagi seorang pemimpin.
“Jadi yang harus kita perbaiki sekarang, kalau kritik malah kita harus bersyukur. Kalau saya dikoreksi, saya menganggap bahwa saya dibantu, saya diamankan,” pungkasnya.




