EtIndonesia. Sepanjang 3 hingga 4 Januari 2026, sejumlah akun pemantau militer berbasis intelijen sumber terbuka (open-source intelligence/OSINT) melaporkan pergerakan intens dan terkoordinasi kekuatan angkut udara militer Amerika Serikat. Pola penerbangan yang terdeteksi dinilai tidak biasa dan memicu spekulasi luas mengenai kemungkinan operasi lanjutan berskala besar.
Salah satu unit yang kembali menjadi sorotan adalah Resimen Penerbangan Operasi Khusus ke-160 Angkatan Darat AS, yang dikenal dengan julukan “Night Stalkers”—unit elite yang kerap mengangkut pasukan Delta Force dalam misi berisiko tinggi. Unit ini sebelumnya diketahui terlibat langsung dalam operasi penangkapan Nicolás Maduro di Venezuela pada 3 Januari 2026.
Data penerbangan menunjukkan bahwa sebagian armada tersebut berangkat dari wilayah daratan Amerika Serikat, kemudian transit di Pangkalan Udara RAF Fairford, Inggris, sebelum bergerak menuju kawasan Timur Tengah. Sejumlah analis militer menilai, sebagian penerbangan ini berpotensi dilanjutkan ke wilayah yang lebih dekat dengan Iran.
Pergerakan tersebut melibatkan kombinasi aset khas operasi khusus, antara lain:
- Helikopter UH-60 Black Hawk untuk penyebaran cepat pasukan elite,
- Helikopter CH-47 Chinook untuk angkutan berat dan logistik,
- Pesawat tiltrotor V-22 Osprey yang mampu lepas landas vertikal sekaligus terbang jarak jauh dengan kecepatan tinggi.
Selain itu, pesawat pengisian bahan bakar di udara juga terpantau aktif, mengindikasikan dukungan bagi penerbangan jarak jauh non-stop. Hingga 5 Januari 2026, Pentagon belum mengeluarkan penjelasan resmi mengenai tujuan spesifik pergerakan tersebut.
“Pizza Index” Pentagon Kembali Naik Tajam
Pada malam 4 Januari 2026, akun X (Twitter) NYPRIPOR, yang dikenal memantau indikator tidak resmi kesiapsiagaan militer AS melalui “Pizza Index Pentagon”, mengunggah temuan mencolok.
Menurut data yang dia kumpulkan, penjualan di gerai Papa John’s Pizza di sekitar Pentagon melonjak hingga 1.250% hanya dalam satu malam. Sebagai perbandingan, pada malam operasi penyerbuan AS ke Venezuela (3 Januari), lonjakan penjualan tercatat sekitar 700%.
Berdasarkan pola historis, akun tersebut menyimpulkan bahwa lonjakan ekstrem ini sering berkorelasi dengan persiapan operasi militer besar. Dia menilai, “sesuatu yang signifikan kemungkinan besar sedang atau akan segera terjadi.”
Kuba Akui Korban Jiwa, Trump: “Mereka Sudah Rapuh”
Pada 4 Januari 2026, di atas pesawat Air Force One, Presiden AS, Donald Trump mengungkapkan kepada wartawan bahwa sejumlah personel Kuba yang bertugas mengamankan Nicolás Maduro tewas dalam operasi penangkapan di Caracas.
Sehari kemudian, 5 Januari 2026, Pemerintah Kuba secara resmi mengonfirmasi kematian 32 warganya dalam insiden tersebut.
Menanggapi hal ini, Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat tidak perlu mengambil tindakan tambahan terhadap Kuba, karena menurutnya rezim Havana “sudah berada di ambang keruntuhan dengan sendirinya.”
Pengamat geopolitik akun X Tombstone Tech menilai bahwa perekonomian Kuba hampir sepenuhnya bergantung pada Venezuela, khususnya pasokan minyak bersubsidi. Dengan terputusnya jalur kehidupan ekonomi tersebut pasca penangkapan Maduro, kerapuhan struktural rezim komunis Kuba kini terbuka lebar.
Efek Tak Terduga di Selat Taiwan
Dampak penangkapan Maduro ternyata meluas hingga Asia Timur. Kementerian Pertahanan Taiwan mencatat bahwa dalam 24 jam setelah operasi AS pada 3 Januari 2026, tidak satu pun pesawat militer Tiongkok terdeteksi di sekitar Selat Taiwan.
Fenomena “nol pesawat” ini dinilai sangat langka, mengingat aktivitas militer udara Tiongkok biasanya berlangsung hampir setiap hari. Aktivitas baru kembali terdeteksi pada 5 Januari 2026, setelah jeda singkat yang memicu perhatian luas para analis keamanan regional.
Ironi Global: Maduro dan Efek “Promosi” Nike
Di luar geopolitik, penangkapan Maduro juga memunculkan ironi yang menyedot perhatian media global. Dalam foto dan video penangkapannya, Maduro terlihat mengenakan jaket olahraga abu-abu bermerek Nike.
Berdasarkan penelusuran daring, jaket tersebut dijual dengan harga sekitar 218 euro, tergolong pakaian olahraga kelas menengah-atas. Sejumlah media asing melaporkan bahwa produk serupa mendadak laris di beberapa negara, bahkan banyak ukuran yang habis di situs resmi Nike.
Media internasional pun berseloroh mengenai “daya promosi tak disengaja” dari seorang diktator yang sepanjang hidupnya bersikap anti-Amerika, namun ditangkap justru sambil mengenakan merek Amerika—sebuah ironi tajam yang disebut sebagai sindiran paling pahit bagi dirinya sendiri.
Pemerintahan Sementara Venezuela Berbalik Lunak
Situasi politik Venezuela berubah drastis pasca penangkapan Maduro. Pada 5 Januari 2026, Presiden Sementara Venezuela, Rodríguez, mengeluarkan pernyataan resmi yang mengundang Amerika Serikat untuk bersama-sama menyusun agenda kerja sama bilateral.
Menurut laporan Reuters, Rodríguez menyatakan harapan agar Venezuela dapat membangun hubungan berdasarkan hukum internasional, saling menghormati, dan bebas dari ancaman eksternal—sebuah pernyataan yang sangat kontras dengan sikap kerasnya beberapa hari sebelumnya.
Beberapa jam setelah operasi militer AS di Caracas pada 3 Januari, Rodríguez sempat mengecam keras tindakan AS dan menuntut pemulangan Maduro. Namun sehari sebelum penangkapan, Trump telah memperingatkan Rodríguez secara terbuka agar “melakukan hal yang benar,” dengan konsekuensi lebih berat bila menolak bekerja sama.
Trump juga mengumumkan bahwa AS akan mengambil alih sementara pengelolaan transisi Venezuela, dengan mengirim tim pejabat Amerika. Sekitar 15.000 pasukan AS masih dikerahkan di kawasan Karibia, dan opsi militer tetap terbuka jika pemerintah sementara tidak kooperatif.
Trump mengungkapkan bahwa Rodríguez menyampaikan kepada Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio: “Kami akan melakukan apa pun yang Anda butuhkan.”
Komentar Trump singkat namun tajam: “Sikapnya sopan, tetapi sebenarnya dia tidak punya pilihan.”
Rubio kemudian menegaskan dalam wawancara NBC bahwa: “Ini bukan perang. Kami sedang memerangi kartel narkoba, bukan berperang melawan Venezuela.”
Dia menambahkan bahwa pasukan AS hanya berada di Caracas sekitar dua jam, menjalankan misi penegakan hukum, bukan invasi atau operasi militer jangka panjang.
Guncangan Psikologis di Kalangan Nasionalis Tiongkok
Penangkapan Maduro juga memicu reaksi emosional di Tiongkok. Akademisi pro-penyatuan paksa Taiwan, Li Yi, yang dikenal luas sebagai figur nasionalis keras, mengalami ledakan emosi dalam siaran langsung YouTube.
Dalam kondisi emosional, dia menampar dirinya sendiri, tubuhnya gemetar, dan berteriak: “Aku bahkan merasa bukan manusia lagi!”
Video tersebut segera viral. Pengacara Taiwan, Lin Zhiquan menilai bahwa kehancuran mental Li Yi disebabkan runtuhnya keyakinan lama bahwa kekuatan militer Tiongkok hanya tertinggal sedikit dari AS, padahal kenyataannya terpaut beberapa generasi.
Pengamat X Sanfeng menilai, figur seperti Li Yi bertahan hidup secara politik berdasarkan asumsi bahwa Amerika telah melemah. Ketika AS mampu “menangkap seorang presiden layaknya elang mencengkeram anak ayam”, seluruh fondasi narasi itu runtuh seketika.
Tokoh anti-Amerika lainnya, Jin Canrong, juga mengakui bahwa penangkapan Maduro berdampak besar bagi kepentingan Tiongkok, terutama investasi ekonomi di Amerika Latin, yang kini menghadapi risiko politik meningkat.
Gerakan Politik Tiongkok di Pengasingan Menguat
Perubahan drastis situasi global sejak awal 2026 turut memicu geliat politik di kalangan diaspora Tiongkok. Pada 4 Januari 2026, Panitia Persiapan Sementara Parlemen Tiongkok resmi dibentuk di Museum Peringatan 4 Juni, Los Angeles.
Menurut laporan Epoch Times, sejumlah tokoh veteran gerakan demokrasi Tiongkok hadir secara langsung maupun daring. Dalam deklarasinya, panitia menegaskan tujuan mengakhiri sistem satu partai dan mendorong demokrasi konstitusional, dengan menekankan keselamatan dan profesionalisme.
Tokoh demokrasi Wang Dan menegaskan bahwa membangun parlemen bukan lari cepat, melainkan maraton panjang, sementara Wakil Sekretaris Jenderal Yuan Jue berharap platform ini menjadi ruang terbuka dialog lintas pandangan politik serta sarana peningkatan literasi demokrasi.
Kesimpulan:
Memasuki awal 2026, dunia tampak bergerak dalam fase transisi geopolitik yang cepat dan saling terhubung. Dari gerak senyap militer AS, kejatuhan rezim Venezuela, efek psikologis di Tiongkok, hingga manuver politik di pengasingan, satu benang merah terlihat jelas: struktur kekuatan global sedang bergeser, dan dampaknya menjalar jauh melampaui satu negara atau satu kawasan.





