Pascabanjir bandang dan tanah longsor di Kabupaten Aceh Tamiang, krisis air bersih masih menjadi persoalan serius bagi warga terdampak. Sejumlah relawan menghadirkan instalasi pengolahan air atau water treatment plan di Kecamatan Bandar Pusaka untuk memenuhi kebutuhan dasar ribuan warga, terutama anak-anak.
Kecamatan Bandar Pusaka dipilih karena menjadi salah satu lokasi yang terisolir. Rusaknya jaringan PDAM membuat warga kesulitan memenuhi kebutuhan air bersih harian. Menjawab kondisi darurat tersebut, Save The Children membangun water treatment plan di Desa Babo.
Instalasi ini mengolah air baku dari sungai agar aman digunakan untuk konsumsi dan kebutuhan sehari-hari. Setiap harinya hingga 48 ribu liter air bersih diproduksi untuk memenuhi kebutuhan sekitar 3.200 jiwa sesuai dengan standar minimum 15 liter per orang per harinya.
Baca Juga :
Air tersebut nantinya akan dimanfaatkan untuk membersihkan fasilitas pendidikan dan layanan kesehatan sebagai bagian dari upaya pemulihan pasca bencana. Pembuatan water treatment plan atau instalasi pengolahan air.
"Kami mengolah air baku dari sumber mata air seperti sungai untuk diolah agar bisa aman dikonsumsi untuk anak dan keluarga. Seperti kita ketahui bersama, kekurangan air bersih akan menyebabkan atau meningkatnya risiko kesehatan khususnya bagi anak-anak dan menghambat pemulihan fasilitas pendidikan dan juga kesehatan," ungkap CEO Save The Children Indonesia Dessy Kuriany Ukar dikutip dari Metro Pagi Primetime, Metro TV, Selasa, 6 Januari 2026.


