Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen memperingatkan NATO dapat berakhir jika Amerika Serikat melakukan serangan militer terhadap Greenland.
Hal itu disampaikannya menyusul Presiden AS Donald Trump yang ingin mengambil alih Greenland. Kekhawatiran global kini tengah meningkat setelah operasi militer AS di Venezuela dan penangkapan Presiden Nicolas Maduro.
Trump telah berulang kali menyatakan ambisinya untuk menguasai wilayah itu karena strategis di kawasan Arktik. Namun, Frederiksen menyebut Greenland merupakan wilayah otonom Denmark dan berada dalam lingkup pertahanan NATO.
“Jika Amerika Serikat memilih untuk menyerang negara NATO lain secara militer, maka semuanya berhenti,” kata Frederiksen, dikutip dari Al Jazeera, Selasa (6/1).
“Termasuk NATO kita, dan dengan demikian keamanan yang telah diberikan sejak berakhirnya Perang Dunia Kedua,” lanjutnya.
Trump sebelumnya mengatakan kepada wartawan bahwa ia akan “membicarakan Greenland dalam 20 hari”. Ia menegaskan Greenland seharusnya berada di bawah yurisdiksi AS.
Greenland memiliki posisi strategis di antara Eropa dan Amerika Utara, sehingga menjadi lokasi penting bagi sistem pertahanan rudal balistik AS. Selain itu, kekayaan mineralnya menarik minat AS yang ingin mengurangi ketergantungan pada ekspor dari China.
“Greenland dipenuhi kapal-kapal Rusia dan China di mana-mana,” kata Trump.
“Kami membutuhkan Greenland dari sudut pandang keamanan nasional, dan Denmark tidak akan mampu melakukannya,” tambahnya.
Trump juga tidak menutup kemungkinan penggunaan kekuatan militer untuk mengambil alih Greenland. Bulan lalu, Gubernur Louisiana Jeff Landry, yang secara terbuka mendukung aneksasi Greenland, ditunjuk sebagai utusan khusus AS untuk wilayah Arktik yang kaya sumber daya mineral itu.
Ketegangan semakin meningkat setelah Katie Miller, istri Wakil Kepala Staf Trump Stephen Miller, mengunggah gambar Greenland berwarna bendera Amerika Serikat di akun X miliknya. Unggahan itu hanya disertai satu kata: “Segera”.
Perdana Menteri Greenland, Jens-Frederik Nielsen mengecam unggahan tersebut dan menyebutnya tidak pantas.
“Hubungan antarnegara dan antarbangsa dibangun atas dasar saling menghormati dan hukum internasional, bukan melalui gestur simbolik yang mengabaikan status dan hak kami,” tulis Nielsen di X.
Meski demikian, Nielsen menegaskan warga Greenland tidak perlu panik.
“Tidak ada alasan untuk panik ataupun khawatir. Negara kami tidak untuk dijual, dan masa depan kami tidak ditentukan oleh unggahan media sosial,” ujarnya.
Nielsen pun kembali berupaya meredam kekhawatiran publik dalam konferensi pers pada Senin (5/1).
“Kami tidak berada dalam situasi di mana kami berpikir akan terjadi pengambilalihan negara secara tiba-tiba, dan itulah sebabnya kami menekankan bahwa kami menginginkan kerja sama yang baik,” katanya.
“Situasinya tidak sedemikian rupa, sehingga Amerika Serikat bisa begitu saja menaklukkan Greenland,” pungkas Nielsen.





