Ponorogo (beritajatim.com) – Banjir yang menyergap sejumlah wilayah di Kabupaten Ponorogo pada awal tahun ini, mulai menampakkan dampak paling nyata. Yakni tanaman padi yang tak lagi bisa diselamatkan.
Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan (Dispertahankan) Ponorogo mencatat, sedikitnya 28 hektare tanaman padi dipastikan puso atau gagal panen akibat terendam banjir terlalu lama.
Lahan yang puso tersebut tersebar di 2 kecamatan, yakni Kecamatan Siman dan Kecamatan Jetis. Di Kecamatan Siman, tanaman padi yang rusak berada di Desa Madusari seluas 11 hektare dan Desa Josari sekitar 2,7 hektare. Sementara di Kecamatan Jetis, puso terjadi di Desa Winong dengan luasan mencapai 9,8 hektare.
Koordinator Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) Dispertahankan Ponorogo, Suwarni, menyebut angka tersebut masih berpotensi bertambah. Pasalnya, hingga saat ini genangan air di sejumlah wilayah belum sepenuhnya surut, khususnya di Kecamatan Balong.
“Kalau tanaman padi terendam banjir lebih dari lima hari, bisa dipastikan akan mati. Itu yang sekarang kami waspadai, karena masih ada laporan sawah yang tergenang,” kata Suwarni, Selasa (6/1/2026).
Berdasarkan pendataan sementara, area persawahan yang terdampak banjir pascahujan deras awal tahun ini, tersebar di 7 kecamatan. Yakni di Kecamata Bungkal, Kecamatan Balong, Kecamatan Siman, Kecamatan Slahung, Kecamatan Jetis, dan Kecamatan Kauman. Total luasan lahan yang terdampak mencapai sekitar 538 hektare, dengan usia tanaman padi bervariasi antara 7 hingga 35 hari
Di tengah ancaman gagal panen, masih ada sedikit ruang lega bagi sebagian petani. Di wilayah Madusari, Siman, serta Jetis, banyak petani yang telah mendaftarkan tanamannya dalam program asuransi pertanian. Skema ini diharapkan mampu menekan kerugian saat bencana alam datang tanpa bisa dicegah.
“Harapannya petani mau ikut asuransi. Jadi ketika terjadi bencana alam seperti banjir, beban kerugian tidak sepenuhnya ditanggung petani,” kata Suwarni.
Selain asuransi, Dispertahankan Ponorogo juga mengupayakan agar petani yang tanamannya mati akibat banjir, bisa memperoleh bantuan cadangan benih dari pemerintah. Sehingga proses tanam ulang dapat segera dilakukan setelah kondisi memungkinkan.
Namun, banjir bukan satu-satunya ancaman yang kini menghantui petani. Serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT), khususnya wereng, juga menjadi kewaspadaan serius. Petani diminta rutin melakukan pengamatan dini terhadap kondisi tanaman di sawah.
“Semakin cepat diketahui, semakin mudah pengendaliannya. Jangan menunggu serangan meluas,” tegas Suwarni.(end/ted)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5421544/original/049123500_1763947686-7289266c-a47a-4e59-aecb-5816d438a3e0.jpeg)

