Penulis: Fityan
TVRINews – Cucuta, Kolombia
Pemerintah siagakan 30.000 tentara dan siapkan pusat bantuan kemanusiaan di perbatasan Venezuela.
Pemerintah Kolombia kini dalam kondisi siaga tinggi mengantisipasi potensi krisis pengungsi besar-besaran menyusul serangan militer Amerika Serikat di Venezuela dan penahanan Presiden Nicolas Maduro .
Negara yang telah menampung tiga juta warga Venezuela ini mengkhawatirkan adanya tambahan gelombang migrasi hingga 1,7 juta orang yang akan melintasi perbatasan dalam waktu dekat.
Menteri Pertahanan Kolombia, Pedro Sanchez, Selasa 6 Januari 2026 mengumumkan pengerahan 30.000 personel militer ke wilayah perbatasan guna memperkuat keamanan nasional. Langkah darurat ini diambil seiring dengan meningkatnya ketegangan di kawasan tersebut.
Di Jembatan Internasional Simon Bolivar yang menghubungkan kedua negara, arus lalu lintas kendaraan dan pejalan kaki terpantau masih normal pada Senin (5/1). Meski demikian, kehadiran militer Kolombia terlihat mencolok dengan penempatan kendaraan lapis baja M1117 di titik-titik strategis.
"Pasukan keamanan telah diaktivasi untuk mencegah tindakan pembalasan dari kelompok bersenjata," ujar Sanchez. Ia merujuk pada kelompok gerilya seperti ELN dan faksi pemberontak FARC yang selama ini beroperasi di wilayah perbatasan.
Strategi Penanganan Kemanusiaan
Presiden Gustavo Petro telah mengutus Menteri Kesetaraan dan Ekuitas, Juan Carlos Florian, ke kota perbatasan Cucuta untuk memimpin respons kemanusiaan. Pemerintah meluncurkan apa yang disebut sebagai "Rencana Perbatasan" untuk mengoordinasikan bantuan logistik.
"Kami menyiapkan langkah koordinasi permanen untuk tindakan kemanusiaan dan kontrol teritorial di area paling sensitif," kata Florian dalam wawancaranya.
Bekerja sama dengan Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) PBB, Kolombia mengaktifkan 17 pusat bantuan di seluruh negeri. Fasilitas ini dirancang untuk menyediakan:
- Pasokan pangan dan layanan kesehatan.
- Akses pendidikan dan pelatihan kerja bagi pengungsi.
- Program pencegahan kekerasan.
Respons Organisasi Internasional
Palang Merah Kolombia di wilayah Santander Utara juga telah mengaktifkan rencana tanggap darurat. Dengan dukungan dana awal dari Central Emergency Response Fund (CERF) PBB sebesar 88.000 franc Swiss, mereka memperkuat kapasitas layanan dasar di perbatasan.
"Saat ini situasi masih tergolong normal, namun dalam beberapa hari ke depan kondisi bisa berubah drastis," ungkap Juan Carlos Torres, Direktur Manajemen Risiko Bencana Palang Merah setempat.
Di tengah ketidakpastian politik setelah pelantikan pemimpin interim Delcy Rodriguez, warga di perbatasan dilingkupi rasa cemas. Mary Esperaza (50), seorang warga yang melintasi jembatan pada Senin sore, mengungkapkan suasana kebatinan di lapangan.
"Kami hanya bisa menunggu dan melihat apa yang terjadi. Saat ini tampak tenang, tapi kami tidak tahu apa yang akan terjadi esok hari," pungkasnya.
Editor: Redaktur TVRINews




