FAJAR, MAJENE — Upaya kolaboratif lintas sektor di lingkup Pemerintahan Kabupaten Majene dalam mengendalikan inflasi berbuah manis. Inflasi tahunan Kabupaten Majene tahun 2025 terkendali, bahkan berada di bawah angka nasional.
Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Majene meluncurkan Berita Resmi Statistik (BRS) perkembangan Indeks Harga Konsumen (IHK) untuk Desember 2025, pada Senin, 5 Januari lalu.
Rilis tersebut disampaikan secara virtual melalui siaran langsung di kanal YouTube resmi BPS setempat.
Dalam pemaparannya, Kepala BPS Kabupaten Majene, Dina Srikandi, menyampaikan bahwa pada Desember 2025 terjadi kenaikan harga secara umum dibandingkan bulan sebelumnya (November 2025).
Hal ini tercermin dari meningkatnya Indeks Harga Konsumen (IHK) yang mengakibatkan inflasi pada tiga ukuran: inflasi bulanan (month-to-month/mtm) sebesar 0,21 persen, inflasi tahun kalender (year-to-date/ytd) sebesar 1,59 persen, dan inflasi tahunan (year-on-year/yoy) sebesar 1,59 persen.
Inflasi tahunan (yoy) ini menggambarkan bahwa harga pada Desember 2025 secara umum 1,59 persen lebih tinggi dibandingkan harga pada Desember 2024.
Dina Srikandi menjelaskan bahwa pada inflasi bulanan Desember, sektor penyumbang didominasi oleh harga pada kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau.
Beberapa komoditas yang menjadi pendorong utama (driver inflation) adalah bawang merah, ikan tuna, dan cabai rawit.
“Meskipun terjadi inflasi bulanan, secara tahunan, perkembangan inflasi dapat dikatakan lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya dan masih berada dalam kisaran yang terkendali,” jelas Dina.
Dina menambahkan bahwa capaian inflasi tahunan Kabupaten Majene sebesar 1,59 persen tersebut masih berada dalam rentang target inflasi nasional pemerintah sebesar 2,5 ± 1 persen, atau antara 1,5 hingga 3,5 persen.
Inflasi tahunan Kabupaten Majene bahkan lebih rendah dibandingkan dengan inflasi nasional. Data dari BPS Pusat, inflasi tahunan Indonesia pada Desember 2025 sebesar 2,92 persen.
Di sisi lain, rilis BPS juga mencatat bahwa tidak semua kelompok pengeluaran mengalami kenaikan harga. Beberapa kelompok justru memberikan efek penahan inflasi (deflasi), yang membantu menekan kenaikan harga secara keseluruhan sehingga inflasi umum tetap terkendali. (uca)




