Ramai di Luar, Sepi di Dalam

kumparan.com
1 hari lalu
Cover Berita

Ada momen ketika kita berdiri di tengah keramaian—lampu kota berpendar, suara tawa bersahutan, musik mengalun—namun hati terasa sunyi. Seolah-olah dunia berputar begitu cepat, sementara diri kita berhenti di satu titik, hanya menjadi penonton dari hiruk pikuk yang tak pernah benar-benar menyapa. Kesendirian dalam keramaian bukan sekadar perasaan asing di antara orang-orang, melainkan cermin yang memperlihatkan betapa rapuhnya koneksi yang kita miliki.

Fenomena ini semakin nyata di zaman modern. Di media sosial, kita dikelilingi ribuan “teman” dan “pengikut”, tetapi koneksi yang tercipta sering kali dangkal. Kita berbagi foto, status, atau komentar, namun jarang benar-benar berbagi keintiman. Keramaian digital ini menciptakan ilusi kedekatan, padahal yang kita rasakan justru keterasingan. Begitu pula di ruang publik: mall, kafe, atau transportasi umum penuh orang, tetapi interaksi nyata semakin jarang terjadi. Semua sibuk dengan layar masing-masing.

“Keramaian bisa menipu, tetapi kesendirian mengajarkan kejujuran.”

Kesendirian dalam keramaian menunjukkan paradoks zaman modern: kita semakin terhubung secara teknologi, tetapi semakin kehilangan koneksi emosional. Ada tekanan sosial untuk selalu terlihat bahagia, aktif, dan produktif. Akibatnya, banyak orang memilih menyembunyikan kesepian mereka, hingga akhirnya merasa asing di tengah keramaian yang seharusnya memberi kehangatan.

Namun, kesepian ini juga bisa menjadi ruang refleksi. Di tengah riuh, kita belajar mendengar suara hati yang sering tenggelam. Kita menemukan bahwa kehadiran orang lain tidak selalu menjamin kehangatan, dan keheningan bisa menjadi teman yang paling jujur. Kesendirian mengingatkan bahwa manusia butuh lebih dari sekadar kehadiran fisik atau interaksi digital. Kita butuh percakapan yang tulus, relasi yang sederhana, dan ruang untuk benar-benar hadir bersama orang lain.

Keramaian bisa menipu, tetapi kesendirian mengajarkan kejujuran. Dan mungkin, dari rasa asing itu, kita mulai berani mencari hubungan yang lebih nyata—yang tidak sekadar hadir di layar, tetapi hadir di hati. Karena pada akhirnya, keramaian hanyalah gema; kesendirianlah yang mengajarkan arti kehadiran.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Usai Bitcoin, Morgan Stanley Ajukan Ethereum Trust
• 4 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Bantah Terbelah! Ketua KPK Tegaskan Pimpinan Solid Tangani Kasus Kuota Haji 2024
• 13 jam laludisway.id
thumb
Trump Ngotot Rebut Greenland, 6 Negara NATO Pasang Badan
• 49 menit laludetik.com
thumb
Mensesneg Pastikan Konflik AS-Venezuela tak Ganggu Negosiasi Tarif Impor RI
• 22 jam lalumerahputih.com
thumb
Anggota TNI Kawal Penggeledahan Kasus Korupsi Nikel Konawe Utara di Kemenhut
• 13 jam lalurepublika.co.id
Berhasil disimpan.