Peraih Hadiah Nobel Perdamaian itu mengatakan bahwa penangkapan Maduro menandai runtuhnya rezim sosialis dan dimulainya transisi menuju demokrasi.
Kimberly Hayek
Pemimpin oposisi Venezuela, Maria Corina Machado, memuji Presiden Donald Trump atas keputusan menangkap Nicolás Maduro, dalam penampilannya di acara “Hannity” di Fox News pada Senin (5/1/2026).
“Tanggal 3 Januari akan tercatat dalam sejarah sebagai hari ketika keadilan mengalahkan tirani,” kata Machado kepada pembawa acara Sean Hannity. “Ini adalah tonggak sejarah, dan ini bukan hanya sangat besar artinya bagi rakyat Venezuela dan masa depan kami, saya pikir ini adalah langkah besar bagi kemanusiaan, bagi kebebasan, dan martabat manusia,” ujarnya.
“Venezuela yang bebas berarti, pertama, menjadi sekutu keamanan, membongkar pusat kejahatan di benua Amerika dan mengubahnya menjadi perisai keamanan, sekutu terkuat untuk membongkar semua struktur kriminal yang telah menimbulkan begitu banyak kerusakan dan penderitaan bagi rakyat kami dan juga rakyat Amerika Serikat.”
Perempuan berusia 58 tahun itu berjanji akan menjadikan Venezuela “sekutu utama Amerika Serikat di Amerika Latin.”
“Kami akan menegakkan supremasi hukum. Kami akan membuka pasar. Kami akan memberikan keamanan bagi investasi asing,” katanya.
Machado mengatakan bahwa ia akan membantu memulangkan jutaan warga Venezuela yang terpaksa mengungsi, untuk membangun kembali sebuah bangsa yang kuat, makmur, dan masyarakat yang terbuka.
“Kami akan meninggalkan semua kehancuran yang dibawa rezim sosialis, rezim kriminal ini, kepada rakyat kami, dan mengubah Venezuela menjadi sekutu utama Amerika Serikat di Amerika Latin,” ujarnya.
Sebelum penggerebekan 3 Januari yang mengakhiri rezim Maduro, Machado dianugerahi Hadiah Nobel Perdamaian 2025 pada 10 Oktober dan mendedikasikannya kepada Trump karena “ia pantas menerimanya.”
“Saya mendedikasikan hadiah ini kepada rakyat Venezuela yang menderita dan kepada Presiden Trump atas dukungannya yang tegas terhadap perjuangan kami,” tulisnya dalam unggahan di X pada hari ia menerima penghargaan tersebut.
Machado mengatakan ia berbicara dengan Trump pada hari penghargaan itu diumumkan, tetapi tidak setelahnya. Ia menyampaikan rasa terima kasih “atas nama rakyat Venezuela atas keberanian dan visi Trump” dalam mengambil “tindakan bersejarah” melawan “rezim narco-teroris.”
Ia mengatakan bahwa keputusan Trump untuk menangkap Maduro telah membawa 30 juta rakyat Venezuela semakin dekat kepada kebebasan dan membuat Amerika Serikat lebih aman.
Trump mengatakan bahwa Amerika Serikat akan menjalankan Venezuela menjelang transisi kekuasaan yang damai.
“Kami akan menjalankan negara itu sampai pada saat kami bisa melakukan transisi yang aman, layak, dan bijaksana. Jadi, kami tidak ingin terlibat dengan menyerahkan kepada orang lain untuk mengambil alih,” kata Trump.
Machado menyatakan bahwa ia “sangat ingin” secara pribadi menyerahkan Hadiah Nobel Perdamaian itu kepada Trump, dengan mengatakan bahwa “rakyat Venezuela tentu ingin memberikannya kepadanya dan membaginya dengannya.”
Machado memperoleh lebih dari 92 persen suara dalam pemilihan pendahuluan oposisi tahun 2023 yang diselenggarakan oleh masyarakat sipil. Namun, Maduro melarangnya ikut serta dalam pemungutan suara. Ia kemudian digantikan oleh sekutunya Edmundo Gonzalez, yang mengalahkan Maduro secara telak meskipun pemilu berlangsung dalam kondisi yang tidak adil.
Setelah pemilihan pendahuluan tersebut, Machado bersembunyi di Venezuela selama lebih dari 16 bulan, dan hanya muncul untuk upacara Nobel Perdamaian. Ia tidak langsung kembali karena khawatir terhadap keselamatannya, namun kini berencana untuk kembali “secepat mungkin.”
Ia juga mempertimbangkan pemberian kompensasi bagi keluarga Laken Riley dan orang-orang lain yang kehilangan orang tercinta akibat tindakan para migran Venezuela di bawah rezim Maduro.
Namun, sebuah perintah eksekutif yang ditandatangani Maduro pada hari penangkapannya mewajibkan “penganiayaan dan penahanan terhadap setiap warga Venezuela yang mendukung tindakan Presiden Trump.” Empat belas jurnalis ditahan hanya pada hari itu saja.
Machado menyebut pemimpin sementara Venezuela Delcy Rodriguez sebagai “salah satu arsitek utama penyiksaan, penganiayaan, korupsi, dan perdagangan narkoba” dengan keterkaitan dengan Rusia, Tiongkok, dan Iran.
Rodriguez, seorang sosialis yang pernah menjabat sebagai wakil pemimpin di bawah Maduro sebelum penangkapannya, “ditolak oleh rakyat Venezuela,” kata Machado kepada Hannity, seraya mendesak diadakannya pemilu bebas yang menurutnya akan dimenangkan oposisi dengan lebih dari 90 persen suara.
Sumber : Theepochtimes.com




