Bukan Minyak, Bukan Politik: Apa Sebenarnya di Balik Penangkapan Maduro, Apa Pesan AS Untuk PKT?

erabaru.net
1 hari lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Penangkapan Presiden Venezuela, Nicolás Maduro oleh militer Amerika Serikat tidak hanya mengguncang Amerika Latin, tetapi juga memicu pertanyaan mendasar di tingkat global: siapa yang kini benar-benar memegang kendali atas Venezuela?

Washington: Pemerintah Baru Venezuela “100 Persen Tunduk”

Pada 5 Januari 2026, Wakil Kepala Staf Gedung Putih, Stephen Miller tampil dalam wawancara di CNN. Dalam pernyataannya, Miller menegaskan bahwa meskipun Venezuela telah melantik presiden baru dan secara lahiriah tampak menjalankan pemerintahan sendiri, kenyataannya pemerintahan tersebut sepenuhnya berada di bawah kendali Presiden AS, Donald Trump.

Menurut Miller, dominasi Washington bukan sekadar pengawasan administratif, melainkan kontrol strategis penuh. Pemerintah baru Venezuela, kata dia, telah menyatakan kesediaannya untuk mematuhi seluruh syarat politik, keamanan, dan ekonomi yang diajukan Amerika Serikat.

Lebih dari Sekadar Ganti Presiden: “Harta Karun” Militer

Namun, dampak terbesar operasi militer AS kali ini dinilai jauh melampaui pergantian rezim. Analis perang perkotaan di platform X, Thor Shaoxiao, menyebut keberhasilan utama operasi tersebut adalah pembongkaran menyeluruh sistem pertahanan udara buatan Tiongkok dan Rusia yang selama ini digunakan Venezuela.

Dia menekankan bahwa kekuatan sistem pertahanan udara modern bukan terletak pada jumlah misil, melainkan pada:

Begitu “otak” sistem ini dipahami, maka seluruh sistem sejenis di dunia praktis kehilangan keunggulan strategisnya. Dalam doktrin perang modern, untuk mengalahkan pertahanan udara, tidak perlu menghancurkannya—cukup memahaminya.

Kini, menurut para analis, rahasia inti tersebut telah “diserahkan” kepada militer AS. Pentagon hanya perlu mengamati, mencatat, mensimulasikan, lalu membagikan hasilnya ke jaringan NATO dan komando Indo-Pasifik.

Implikasinya sangat besar: sistem S-300 versi tiruan Rusia maupun HQ-9 kebanggaan Tiongkok kini dianggap sepenuhnya transparan di mata militer AS. Bagi Beijing, ini setara dengan Amerika telah memperoleh “kunci pintu belakang” pertahanan udara Zhongnanhai.

Operasi Militer yang Membuat Beijing Merinding

Kengerian Beijing tidak berhenti di situ. Pengamat politik Taiwan Liu Baojie, dalam analisisnya di ETtoday News, menilai pola operasi militer AS kali ini mematahkan hukum perang konvensional.

Sebanyak 150 pesawat tempur lintas matra—darat, laut, dan udara—dilaporkan lepas landas dari 20 pangkalan berbeda, dekat maupun jauh, namun mampu tiba secara serentak dan presisi di wilayah Venezuela. Operasi ini membuka jalan bagi Pasukan Delta tanpa adanya tanda-tanda pengerahan pasukan yang bisa dideteksi lebih awal.

Bagi intelijen Tiongkok, ini adalah mimpi buruk strategis. Tanpa konsentrasi pasukan yang terlihat, tidak ada waktu peringatan. Bahkan, AS dinilai tidak lagi perlu mengerahkan kapal induk secara perlahan ke Selat Taiwan—serangan bisa diluncurkan serentak dari Korea Selatan, Jepang, hingga Guam.

Reaksi Media Partai dan Gejolak Internal PKT

Sinyal dari Washington tampaknya ditangkap jelas oleh Beijing. Media resmi Partai seperti Xinhua dan Liga Pemuda Komunis secara serempak menerbitkan artikel bertajuk: “Hari ini Venezuela, besok bisa negara mana pun.”

Di permukaan, ini tampak sebagai kritik terhadap AS. Namun di balik layar, muncul spekulasi bahwa pernyataan tersebut bisa dibaca sebagai isyarat dari faksi anti-Xi di dalam Partai Komunis Tiongkok (PKT): lebih baik mengorbankan satu figur demi menyelamatkan sistem.

Kebetulan, pada 5 Januari 2026, otoritas Tiongkok mengumumkan jatuhnya “harimau besar pertama” tahun ini: mantan Wakil Menteri Sumber Daya Air Tian Xuebin, yang pernah menjadi sekretaris kedua mantan Perdana Menteri, Wen Jiabao. Media daratan bahkan sengaja menampilkan foto Wen berdampingan dengan Tian—sebuah sinyal klasik politik internal Tiongkok.

Kartu Truf Kedua Trump: Greenland

Di tengah kepanikan Beijing, tim Trump melontarkan tekanan baru. Isu Greenland kembali mencuat setelah pernyataan keras yang mempertanyakan dasar Denmark menguasai wilayah tersebut.

Miller menegaskan bahwa demi melindungi NATO, Greenland harus berada di bawah kendali AS. Trump sebelumnya memberikan tenggat waktu dua bulan—menunjukkan bahwa ini bukan sekadar tekanan diplomatik, melainkan bagian dari penutupan lingkaran strategis global.

Secara militer, Kutub Utara merupakan jalur terpendek misil nuklir Tiongkok–Rusia menuju AS. Pangkalan Pituffik di Greenland adalah stasiun radar peringatan dini paling utara Amerika. Gangguan pada sistem ini bisa memangkas waktu peringatan nuklir AS dari 30 menit menjadi hanya beberapa menit.

Detik-fetik Penangkapan: Tiga Kejanggalan Besar

Kembali ke Venezuela. Pada dini hari 3 Januari 2026 sekitar pukul 02:00, Caracas diguncang ledakan beruntun, disusul pemadaman listrik berskala besar. Deru pesawat tempur terdengar selama belasan menit. Saat warga masih menyaksikan siaran langsung melalui ponsel, pasangan Maduro telah diterbangkan ke New York untuk diadili.

Operasi berkode “Absolute Resolve” ini dinilai hampir sempurna, namun menyisakan tiga kejanggalan:

  1. Tidak adanya tembakan pertahanan udara, meski Venezuela diklaim memiliki ribuan rudal.
  2. Pemadaman listrik yang sangat presisi, mengindikasikan kemungkinan keterlibatan pihak internal.
  3. Pesawat Wakil Presiden Delcy Rodríguez yang melintas dan mendarat aman, meski wilayah udara ditutup.

Hal ini memunculkan dugaan bahwa penangkapan Maduro mungkin merupakan kudeta internal yang dibungkus operasi militer AS.

Dampak Regional dan Penutup

Runtuhnya rezim pro-PKT Maduro turut membuka kembali luka lama diplomasi Taiwan di Venezuela. Di saat yang sama, pada 5 Januari, Presiden Korea Selatan, Lee Jae-myung bertemu Xi Jinping di Beijing, memicu kekhawatiran baru di Indo-Pasifik.

Sementara itu, di ranah budaya, aktris legendaris Wang Zuxian akhirnya muncul ke publik pada 4 Januari 2026, mengungkap alasan pensiunnya dini demi menjaga kesehatan mental dan spiritual.

Kesimpulan: Peristiwa Venezuela kini bukan lagi isu regional, melainkan simbol perubahan besar dalam peta kekuatan global. Pertanyaan besarnya bukan apakah dunia sedang bergerak menuju konfrontasi besar—melainkan kapan dan dengan pola seperti apa.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Masih Pegang Girik, ATR/BPN Imbau Masyarakat Tak Perlu Khawatir 
• 1 jam lalueranasional.com
thumb
Pengusaha Investasi Rp 300 Juta ke Suami Boiyen, Cuma Terima Keuntungan 4 Bulan
• 16 jam lalugenpi.co
thumb
Enggak Cuma ITB, Ini Daftar 25 Universitas Terbaik di Bandung yang Bisa Dilirik
• 23 jam lalumedcom.id
thumb
Keseimbangan Hukum Konservasi dan Kemanusiaan dalam Putusan Kakek Masir
• 39 menit lalumediaindonesia.com
thumb
Fantastis! Bareskrim Polri Sita Ratusan Miliar dari Jaringan Judol Sepanjang 2025
• 44 menit laludisway.id
Berhasil disimpan.