Seekor bayi panda yang kemudian dinamakan Satrio Wiratama lahir di Taman Safari Indonesia, Bogor, Jawa Barat. Satrio atau dipanggil Rio merupakan bayi panda pertama yang lahir di Indonesia dari pasangan indukan yang dibawa langsung dari China.
Pengumuman kelahiran bayi panda itu disampaikan Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni dalam acara "Public Annnouncement The 1st Giant Panda Cub Born in Indonesia" di Taman Safari Indonesia (TSI), Bogor, pada Selasa (6/1/2025). Acara itu juga dihadiri Duta Besar Republik Rakyat China untuk Indonesia Wang Lutong dan Pendiri TSI Jansen Manansang.
Raja Juli menyebut bahwa bayi panda pertama yang lahir di Indonesia itu telah memasuki hari ke-40 atau tepatnya lahir pada Rabu (27/11/2025) pukul 17.31 WIB. Pada usia lima hari, berat tubuhnya tercatat 228 gram dan saat pemeriksaan awal berjenis kelamin jantan.
Menurut Raja Juli, kehadiran bayi panda ini bukan sekedar kelahiran satwa, tetapi menjadi bukti nyata kerja sama diplomasi lingkungan dan kolaborasi ilmiah internasional yang telah dibangun secara berkelanjutan antara Indonesia dan China.
“Kelahiran bayi panda ini bukan hanya kabar baik bagi Indonesia, tetapi juga bagi dunia. Ini menegaskan bahwa konservasi dapat berjalan seiring dengan diplomasi, persahabatan antarnegara, serta kemajuan ilmu pengetahuan," ujar Raja Juli, dalam keterangannya, yang diterima pada Rabu (7/1/2026).
Presiden Prabowo Subianto kemudian memberikan langsung nama Satrio Wiratama kepada bayi panda tersebut dengan penulisan dalam bahasa Mandarin Li Ao dari nama panggilan Rio. Nama tersebut dipilih karena bermakna kesatria, pemberani, mulia, dan berbudi luhur.
Rio lahir dari pasangan Cai To (jantan) dan Hu Chun (betina). Nama mereka juga menyimpan makna. Cai Tao berarti porselen yang indah, halus, dan berharga. Adapun Hu Chun bermakna danau musim semi, sosok yang tenang dan penuh kehidupan.
Kelahiran bayi panda ini bukan hanya kabar baik bagi Indonesia, tetapi juga bagi dunia. Ini menegaskan bahwa konservasi dapat berjalan seiring dengan diplomasi, persahabatan antarnegara, serta kemajuan ilmu pengetahuan.
Raja Juli menuturkan, kehadiran panda di Indonesia merupakan hasil usaha dari tiga kepemimpinan presiden RI, yakni Susilo Bambang Yudhoyoni, Joko Widodo, dan Prabowo. Usaha untuk mendatangkan indukan dari Rio ini telah dilakukan sejak zaman Presiden Yudhoyono dan diterima pada tahun 2017 oleh Presiden Jokowi.
Wang Lutong menuturkan, kelahiran Rio merupakan sebuah pencapaian dan kabar ini telah disampaikan ke Presiden China. "Rio akan membawa lebih banyak keberhasilan dan keberuntungan bagi Presiden serta rakyat Indonesia," tuturnya.
Sementara Jansen Manansang menyebut kelahiran Rio menjadi simbol keberhasilan konservasi di Indonesia. Selama ini TSI memprioritaskan empat aspek yakni memperdalam kerja sama ekologi internasional, integrasi lintas budaya, mendorong riset ilmiah dan teknologi lintas negara, serta pengembangan industri.
Panda (Ailuropoda melanoleuca) termasuk kategori Appendiks I CITES dan satwa endemik sekaligus ikon bagi negara asalnya, China. Masyarakat China meyakini, fitur bulu berwarna hitam dan putih yang kontras pada panda terkait filosofi mengenai keseimbangan yaitu Yin dan Yang.
Adanya filosofi tersebut membuat satwa ini seringkali digunakan sebagai hadiah persahabatan dari China kepada negara lainnya. Hadiah ini juga merupakan sebuah upaya pelestarian panda di luar habitat aslinya atau konservasi eksitu.
Masuknya panda ke Indonesia bukan hadiah permanen, melainkan bagian dari kerja sama konservasi jangka panjang antara China dan Indonesia. Kehadiran mereka sekaligus menandai peringatan 60 tahun hubungan diplomatik kedua negara.
Indonesia menjadi negara ke-16 di dunia yang menerima panda melalui program ini. Adapun negara lain yang juga telah menjalin kerja sama konservasi panda China antara lain Thailand, Singapura, Malaysia, Jepang, Korea Selatan, Australia, Jerman, Austria, Spanyol, Inggris, Belgia, Perancis, Belanda, Amerika Serikat, dan Kanada.
Induk panda Cai Tao dan Hu Chun yang saat itu masih berusia 7 tahun dikirim langsung dari China pada Kamis (28/10/2017) dari Bandara Shuangliu, Chengdu, menggunakan kandang khusus di pesawat Garuda Indonesia Airbus 330-200. Dua panda itu merupakan pasangan hasil pengembangbiakan China Wildlife Coservation Association (CWCA).
Indonesia yang saat itu diwakili oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menetapkan PT TSI sebagai lokasi pengembangbiakan panda. Upaya pengembangbiakan ini harus dipantau mengacu Peraturan Menteri Kehutanan Nomor 83 Tahun 2014 tentang Peminjaman Satwa Liar Dilindungi ke Luar Negeri untuk Kepentingan Pengembangbiakan.
Sejak saat itu, TSI mulai membangun area pakan panda seluas 5 hektar yang dilengkapi dengan fasilitas pendukung sarana dan prasarana edukasi, ruang perawatan kesehatan hewan, serta riset medis. Pihak TSI juga memberikan pengalaman dan pelatihan pada tiap penjaga panda seperti pelatihan dan pengkondisian, peternakan, dan penelitian.
TSI kemudian berupaya mengawinkan kedua ekor panda itu secara alami meski belum bisa berhasil dengan cepat. Sebab, upaya pengembabiakan harus memahami karakter panda yang pemakan bambu sehingga mempengaruhi hormonnya. Panda juga harus di observasi terlebih dahulu guna mengetahui waktu yang tepat untuk dikawinkan.
Selama delapan tahun, akhirnya kelahiran bayi panda pertama di Indonesia berhasil diwujudkan dari hasil proses reproduksi alami yang dimulai sejak Agustus 2025. Tim medis melakukan pengawasan ketat melalui pemeriksaan hormon, analisis urine, dan observasi intensif.
Data dari berbagai sumber mencatat keberadaan satwa ini di alam bebas kian langka, hanya sekitar 1.800 ekor. Hal ini disebabkan keterbatasan habitat serta sifat alaminya memiliki masa berkembangbiak amat terbatas. Namun WWF melaporkan ada peningkatan populasi panda sebesar 16,8 persen sejak survei terakhir yang dirilis pada tahun 2003.





