27 Grup Penyebar Ideologi Kekerasan pada Anak Ditemukan Densus 88, Ini Daftarnya!

mediaindonesia.com
1 hari lalu
Cover Berita

DETASEMEN Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri secara resmi membeberkan nama-nama 27 grup atau saluran percakapan yang teridentifikasi menyebarkan ideologi kekerasan ekstrem kepada anak-anak. Grup-grup ini beroperasi secara sporadis di berbagai platform media sosial, mulai dari WhatsApp, Telegram, hingga Facebook.

Juru Bicara Densus 88 Antiteror Polri, Kombes Pol. Mayndra Eka Wardhana, menyebutkan bahwa puluhan grup ini menjadi wadah penyebaran paham seperti Neo Nazi dan White Supremacy. Fenomena ini tumbuh seiring perkembangan media digital tanpa adanya tokoh sentral atau organisasi induk yang terstruktur.

"Komunitas ini tidak didirikan oleh tokoh, organisasi, atau institusi, tetapi dia tumbuh secara sporadis seiring dengan perkembangan media digital," ujar Mayndra dalam konferensi pers di Bareskrim Polri, Jakarta, Rabu (7/1).

Daftar 27 Grup Terpapar Ideologi Ekstrem

Berdasarkan data Densus 88, berikut adalah perincian nama-nama grup yang patut diwaspadai oleh orang tua dan masyarakat:

  1. TCC Community
  2. True Crime Community
  3. TCCland Under Akmal
  4. Fuck TCC
  5. TCC
  6. WAG TCC Reborn
  7. WAG TCC Universe
  8. WAG Area TCC
  9. Tanah Suci TCC
  10. TCC Universe V2
  11. TCC City Nueva Revolucion
  12. [tccland]
  13. FTCI Film True Crime Indonesia
  14. Indonesia Headhunter
  15. Meinchat
  16. Group Kasih Sayang
  17. Nuapf
  18. Medenist Brigade
  19. Legion Devision
  20. FSP-NB (80 member)
  21. AZW Ragebait
  22. Saranjana
  23. Medenism Under Boris
  24. Anarko Libertarian Maoist
  25. Army of Legion
  26. Have Sex With Your Gun
Motif dan Dampak pada Anak

Hingga saat ini, Densus 88 mencatat sebanyak 70 anak yang tersebar di 19 provinsi telah terpapar ideologi dari grup-grup tersebut. Mayoritas anak yang terpapar berasal dari Pulau Jawa, khususnya Jakarta, Jawa Barat, dan Jawa Timur.

Mayndra menjelaskan, faktor utama anak-anak bergabung ke dalam grup tersebut adalah perundungan (bullying), kondisi keluarga yang tidak harmonis, serta kurangnya perhatian lingkungan. Di dalam grup tersebut, anak-anak merasa mendapatkan "rumah kedua" di mana aspirasi mereka didengar melalui interaksi yang salah arah.

"Anak-anak kita ini, mereka tidak menganut paham ini secara penuh atau total. Mereka hanya menjadikan ini sebagai inspirasi, dan tadi, rumah kedua bagi mereka untuk menyelesaikan solusi masing-masing, tentunya dengan kekerasan," pungkas Mayndra. (Yon)


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Hadapi Rute Ekstrem SS 4 dan 5 Rally Dakar, Julian Johan Pilih Main Aman
• 14 jam lalumedcom.id
thumb
Perdana Jadi Presiden Dewan HAM PBB, RI Tidak Bawa Isu Titipan
• 12 jam laluidntimes.com
thumb
Media Belanda Ingatkan Timnas Indonesia soal Masa Kelam John Herdman, Pernah Alami Kekerasan hingga Nyaris Kehilangan Nyawa
• 23 jam lalutvonenews.com
thumb
MUI Nilai Pilkada Lewat DPRD Perlu Dikaji Ulang Demi Kemaslahatan Publik
• 22 jam laluokezone.com
thumb
McTominay Kembali ke Manchester United bersama Ole Gunnar Solskjaer?
• 7 jam laluviva.co.id
Berhasil disimpan.