SETIAP hari, ketika hendak menuju Jakarta dari Pamulang dan melintasi kawasan Ciputat, Tangerang Selatan, kemacetan di ruas jalan tertentu sudah menjadi pemandangan lazim.
Namun, kemacetan yang terjadi belakangan ini terasa berbeda. Bukan disebabkan tingginya volume kendaraan atau putaran balik jalan yang memang kerap memicu antrean panjang, melainkan oleh tumpukan sampah di kawasan Pasar Cimanggis yang menutupi sebagian badan jalan.
Akibatnya, pengendara terpaksa bersabar melewati penyempitan jalan sambil “menikmati” aroma tak sedap dari sampah yang menggunung.
Pemandangan ini bukan sekadar persoalan kenyamanan berlalu lintas, melainkan cerminan krisis pengelolaan sampah yang sedang melanda Tangerang Selatan.
Krisis sampah tersebut telah menjadi perhatian—atau tepatnya, keprihatinan—banyak pihak. Selama hampir lebih dari satu bulan terakhir, sampah yang terlambat terangkut menumpuk di berbagai titik jalan dan permukiman.
Pemerintah Kota Tangerang Selatan menjelaskan bahwa kondisi ini dipicu keterbatasan daya tampung Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cipeucang yang telah mengalami kelebihan muatan (overload) dan tengah menjalani proses perbaikan.
var endpoint = 'https://api-x.kompas.id/article/v1/kompas.com/recommender-inbody?position=rekomendasi_inbody&post-tags=sampah, Tangsel&post-url=aHR0cHM6Ly9tZWdhcG9saXRhbi5rb21wYXMuY29tL3JlYWQvMjAyNi8wMS8wNy8xNzA1NTU3MS9rcmlzaXMtc2FtcGFoLXRhbmdlcmFuZy1zZWxhdGFuLWRhbi1wZXJzb2FsYW4tYWt1dC10YXRhLWtvdGE=&q=Krisis Sampah Tangerang Selatan dan Persoalan Akut Tata Kota§ion=Megapolitan' var xhr = new XMLHttpRequest(); xhr.addEventListener("readystatechange", function() { if (this.readyState == 4 && this.status == 200) { if (this.responseText != '') { const response = JSON.parse(this.responseText); if (response.url && response.judul && response.thumbnail) { const htmlString = `Baca juga: Selamatkan Bandara Soekarno-Hatta di Kota Kotor
Sempat muncul harapan ketika Pemkot Tangerang Selatan memperoleh akses pembuangan sampah ke TPA di wilayah Kota Serang, Banten.
Namun, solusi tersebut kembali menemui jalan buntu setelah muncul keberatan dari warga setempat.
Akibatnya, persoalan sampah di Tangerang Selatan kembali berulang: sampah menumpuk di luar tempat semestinya, sementara krisis penanganan belum juga menemukan titik terang.
Terlepas dari dinamika teknis pengelolaan sampah tersebut, krisis sampah di Tangerang Selatan sejatinya menunjukkan persoalan yang lebih mendasar, yakni tata kelola dan tata ruang kota yang belum sepenuhnya berpijak pada daya dukung lingkungan dan prinsip pembangunan berkelanjutan.
Masalah ini bukan hanya dialami Tangerang Selatan, tapi juga banyak kota dan daerah lain di Indonesia.
Bahkan, Kota Depok—yang bertetangga langsung dengan Tangerang Selatan—kini mulai menghadapi persoalan serupa.
Sebagai kota penyangga Jakarta, Tangerang Selatan mengalami pertumbuhan yang sangat pesat dalam dua dekade terakhir. Ekspansi kawasan permukiman, pusat komersial, dan aktivitas ekonomi berlangsung cepat.
Namun, laju pembangunan tersebut tidak diimbangi penguatan infrastruktur lingkungan yang memadai, khususnya dalam pengelolaan sampah.
Ketimpangan inilah yang kemudian menjelma menjadi persoalan struktural dan berulang, bukan sekadar masalah teknis sesaat.



