Dalam beberapa bulan terakhir, jagat media sosial Indonesia diramaikan oleh kemunculan short drama atau micro drama asal Tiongkok. Potongan video berdurasi 1–3 menit ini muncul masif di Facebook, Instagram Reels, hingga TikTok, lengkap dengan iklan yang agresif dan cliffhanger yang menggoda. Platform seperti DramaBox, Melolo, hingga GoodShort menjadi kanal utama penyebarannya.
Menariknya, fenomena ini memperlihatkan pola yang tidak biasa. Jika drama Korea dan K-pop selama ini identik dengan basis penggemar perempuan muda, short drama China justru banyak dikonsumsi oleh laki-laki dewasa. Bahkan, fenomena ini sempat mencuri perhatian publik ketika sejumlah tokoh publik—termasuk pejabat negara—mengakui kegemarannya menonton short drama China di sela aktivitas kerja.
Pertanyaannya, mengapa hiburan yang sekilas tampak sederhana ini justru menemukan audiens paling loyal di kalangan laki-laki dewasa?
1Waktu Singkat yang Selaras dengan Ritme Hidup Laki-lakiAlasan pertama yang paling mendasar adalah soal waktu. Laki-laki dewasa—terutama yang sudah bekerja dan berkeluarga—umumnya memiliki waktu istirahat yang terbatas. Hiburan panjang seperti drama 16 episode dengan durasi satu jam per episode jelas membutuhkan komitmen waktu dan fokus yang tidak kecil.
Short drama China hadir sebagai solusi instan. Ceritanya singkat, konflik cepat, dan bisa dinikmati dalam sela waktu istirahat siang, perjalanan pulang kerja, atau beberapa menit sebelum tidur. Tidak perlu mengingat detail rumit atau mengikuti alur panjang. Cukup satu episode pendek, emosi sudah “terpancing”.
Dalam konteks ini, short drama menjadi bentuk hiburan yang kompatibel dengan ritme hidup laki-laki modern: cepat, praktis, dan tidak menuntut perhatian jangka panjang.
Efek Iklan dan Rasa Penasaran yang Terus DipancingHampir semua penonton short drama China berangkat dari satu pintu masuk yang sama: iklan. Potongan adegan yang dramatis—istri berselingkuh, suami dihina, tokoh utama jatuh miskin lalu bangkit—ditampilkan tanpa resolusi. Penonton dipaksa penasaran.
Strategi ini sangat efektif. Algoritma media sosial memperkuat paparan iklan, sementara otak manusia secara alami terdorong untuk mencari kepuasan naratif. Rasa penasaran itu akhirnya berujung pada instalasi aplikasi, lalu berlanjut menjadi kebiasaan menonton.
Bagi laki-laki dewasa yang sehari-harinya terbiasa mengambil keputusan cepat, mekanisme ini terasa “ringan”: sekali klik, cerita berlanjut.
Cerita yang Sangat Relate dengan Pengalaman Laki-lakiInilah faktor kunci yang membedakan short drama China dengan drama Asia lainnya. Mayoritas cerita menempatkan laki-laki sebagai tokoh utama dengan latar konflik yang sangat maskulin: perjuangan ekonomi, tekanan kerja, penghinaan sosial, pengkhianatan pasangan, hingga konflik keluarga.
Tokoh laki-laki sering digambarkan sebagai sosok yang diremehkan, jatuh miskin, atau gagal, sebelum akhirnya bangkit dan membalikkan keadaan. Narasi ini secara emosional sangat dekat dengan pengalaman banyak laki-laki dewasa yang hidupnya diwarnai tuntutan sebagai pencari nafkah, kepala keluarga, dan simbol keberhasilan.
Fantasi menjadi CEO, menemukan batu giok sakti, atau tiba-tiba kaya raya bukan sekadar bumbu cerita. Ia bekerja sebagai katarsis—pelampiasan emosional atas tekanan hidup nyata.
Drama Emosional yang Memberi Dopamin Instan
Short drama China sangat piawai memainkan emosi. Konflik dibuat padat, berulang, dan mudah ditebak, namun justru di situlah letak kekuatannya. Penonton tidak menonton untuk kejutan intelektual, melainkan untuk sensasi emosional.
Setiap episode memberikan “hadiah dopamin”: kemarahan, kepuasan, harapan, atau pembalasan. Bagi laki-laki yang jarang mengekspresikan emosi secara verbal, tontonan ini menjadi ruang aman untuk merasakan dan meluapkan perasaan—meski secara pasif.
Kesederhanaan Alur dan Minim Tuntutan FokusBerbeda dengan drama panjang yang menuntut konsentrasi dan ingatan alur, short drama China justru menawarkan kesederhanaan ekstrem. Pola ceritanya hampir seragam, ending mudah ditebak, dan konflik diselesaikan dengan cepat.
Kesederhanaan ini bukan kelemahan, melainkan daya tarik. Penonton tidak perlu berpikir keras. Di tengah kelelahan mental akibat pekerjaan dan tanggung jawab hidup, hiburan seperti ini terasa menenangkan.
Kritik: Ketika Hiburan Berubah Menjadi CanduanNamun, di balik popularitasnya, short drama China juga menyimpan sisi problematis. Format yang singkat dan adiktif membuat banyak penonton—termasuk laki-laki dewasa—terjebak dalam binge watching tanpa sadar.
Waktu istirahat yang seharusnya digunakan untuk pemulihan fisik atau interaksi sosial justru habis untuk menonton episode demi episode. Dalam jangka panjang, hal ini berpotensi menurunkan produktivitas kerja, mengganggu kualitas tidur, bahkan merusak komunikasi dalam rumah tangga.
Tidak sedikit pasangan yang mulai mengalami “jarak emosional” karena salah satu pihak lebih sibuk dengan layar ponsel dibandingkan percakapan nyata. Hiburan yang awalnya menjadi pelarian stres, perlahan berubah menjadi sumber masalah baru.
Refleksi: Cermin Kehidupan Laki-laki ModernFenomena short drama China sejatinya bukan sekadar tren hiburan. Ia adalah cermin dari kondisi psikologis laki-laki dewasa hari ini: lelah, tertekan, jarang didengar, namun tetap dituntut kuat dan sukses.
Short drama menawarkan ilusi kemenangan cepat di tengah realitas hidup yang keras dan penuh kompromi. Ia bukan solusi, tetapi jeda. Bukan jawaban, tetapi pelarian. Karena itu, mungkin pertanyaannya bukan lagi mengapa laki-laki dewasa menyukai short drama China, melainkan apa yang sebenarnya mereka cari dari sana.
Jika jawabannya adalah pengakuan, kelegaan, dan harapan, maka tugas kita bukan sekadar mengkritik tontonan tersebut, melainkan juga membangun ruang hidup yang lebih manusiawi bagi laki-laki untuk didengar dan dipahami.
Hiburan boleh dinikmati. Namun, kesadaran untuk tetap mengendalikan diri menjadi kunci agar layar tidak mengambil alih kehidupan nyata.





