Dibalik Penangkapan Nicolas Maduro: Mengapa AS Pilih 'Surgical Strike' Ketimbang Invasi Total?

suara.com
1 hari lalu
Cover Berita
Baca 10 detik
  • Operasi militer Amerika Serikat pada Sabtu (3/1/2026) bertujuan menangkap Presiden Nicolas Maduro, memicu kecaman dan ketegangan geopolitik.
  • AS membatasi invasi skala penuh karena mobilisasi massa Venezuela yang mempersenjatai diri dan penolakan domestik di AS.
  • AS beralih ke operasi "surgical strike" untuk pemenggalan kepala negara, mengindikasikan kelemahan politik imperialisme mereka.

Suara.com - Operasi militer dilakukan oleh Amerika Serikat untuk menangkap Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, dan istrinya Cilia Flores pada Sabtu (3/1/2026).

Intervensi Amerika Serikat terhadap Venezuela menimbulkan kecaman internasional.

Serangan rangkaian bom dan penangkapan ini menimbulkan ketegangan geopolitik, serta mengguncang Venezuela.

Amerika Serikat yang melakukan operasi penangkapan terhadap Presiden Venezuela menunjukkan rapuhnya kekuatan politik imperialisme Venezuela.

Operasi tersebut juga memunculkan ketidakstabilan politik di Venezuela, baik secara internasional maupun domestik.

“Fakta bahwa pemerintahan Trump harus melakukan operasi dengan cara ini juga merupakan bukti kelemahan politik imperialisme – di Venezuela, secara internasional, dan di dalam negeri,” tulis Direktur Eksekutif The People’s Forum dan peneliti di Tricontinental, Manolo De Los Santos, seperti dikutip dari People Dispatch pada Rabu (7/1/2026).

Alih-alih invasi skala penuh, keputusan rezim Trump untuk melaksanakan operasi ini menjadi bukti nyata kekuatan perlawanan rakyat yang terorganisir.

Dalam artikelnya, Manolo menjelaskan ada dua faktor utama yang membatasi Amerika Serikat dalam melakukan intervensi militer di Venezuela.

Faktor pertama, mobilisasi massa di Venezuela. Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, menyerukan untuk memperluas Milisi Bolivarian.

Baca Juga: Aksi Solidaritas untuk Venezuela di Kedubes Amerika

Hal tersebut menyebabkan 8 juta warga mempersenjatai diri.

Tidak hanya itu, dengan militer profesional Venezuela yang tetap solid dan tidak terpecah, kondisi tersebut menciptakan ancaman bahwa setiap invasi darat akan berubah menjadi perang rakyat berkepanjangan dan memakan biaya yang besar.

“Hal ini menciptakan skenario di mana invasi darat apa pun akan berubah menjadi perang rakyat yang berkepanjangan, dengan biaya politik dan material yang tidak dapat diterima bagi Amerika Serikat,” kata Manolo.

Manolo menilai pemerintah Trump juga secara diam-diam mengakui basis dukungan kuat Chavismo dan Revolusi Bolivarian yang masih ada.

Bahkan mereka mengakui bahwa oposisi kanan Venezuela tidak memiliki dukungan cukup untuk memimpin negaranya.

Manolo juga menegaskan bahwa AS mengakui bahwa oposisi kanan Venezuela tidak memiliki dukungan cukup untuk memimpin negara.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Ahn Bo-hyun Ungkap Alasan Mengejutkan Tak Pernah Lagi jadi Pembawa Acara
• 3 jam lalutabloidbintang.com
thumb
Keseimbangan Hukum Konservasi dan Kemanusiaan dalam Putusan Kakek Masir
• 16 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Fakta-Fakta RI Swasembada Pangan hingga Mentan Dapat Penghargaan
• 20 jam lalukumparan.com
thumb
Solusi Login MyASN Digital Bermasalah Usai Ganti Hp
• 20 jam lalusuara.com
thumb
Satgas PKH: 12 Perusahaan Diduga Jadi Penyebab Bencana di Aceh, Sumut, dan Sumbar
• 13 jam lalukompas.com
Berhasil disimpan.