Simak Penjelasan Ahli Pelabuhan soal Rencana Merger BUMN Transportasi Laut

idxchannel.com
1 hari lalu
Cover Berita

Bahkan, berpotensi mengalihkan tanggung jawab negara terhadap layanan publik kepada BUMN yang bergerak di sektor komersial.

Simak Penjelasan Ahli Pelabuhan soal Rencana Merger BUMN Transportasi Laut. (Foto Istimewa)

IDXChannel - Himpunan Ahli Pelabuhan Indonesia (HAPI) menilai kebijakan penggabungan usaha atau merger BUMN transportasi laut yakni PT Pelayaran Nasional Indonesia (Pelni), PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo), dan PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) tidak menyentuh akar persoalan transportasi laut nasional.

Bahkan, berpotensi mengalihkan tanggung jawab negara terhadap layanan publik kepada BUMN yang bergerak di sektor komersial.

Baca Juga:
Danantara Targetkan 350 Aksi Merger dan Akuisisi BUMN hingga 2027

Ketua Umum HAPI Wahyono Bimarso mangatakan, pemerintah saat ini menghadapi kesulitan dalam menanggung pembiayaan operasional dan investasi kapal yang dibutuhkan oleh Pelni dan ASDP. Sebab, kedua perusahaan tersebut menjalankan fungsi pelayanan publik (public service obligation/PSO) yang tidak selalu menguntungkan secara bisnis.

Alih-alih memperkuat skema subsidi dan dukungan fiskal, pemerintah justru dinilai memilih jalan pintas dengan mendorong penggabungan ke Pelindo yang memiliki lini usaha lebih menguntungkan.

Baca Juga:
Menhub Dorong Pelindo Bikin Anak Usaha Khusus Kelola Pelabuhan Penumpang

"Seharusnya itu tidak boleh, karena pemerintah seperti mau melarikan diri dari tanggung jawab. Dia tidak sanggup lagi menanggung Pelni dan ASDP," ujar Wahyono saat ditemui usai acara Konferensi Pers Awal Tahun The National Maritime Institute (Namarin) di Jakarta, Rabu (7/1/2025).

Baca Juga:
Pelindo Diminta Tak Hanya Fokus Bisnis Kargo

Sejak awal, kata dia, negara memang berkewajiban hadir melalui subsidi karena layanan tersebut bertujuan membuka akses transportasi hingga wilayah terpencil, bukan semata mengejar profit. Apalagi, Indonesia juga sebagai negara kepulauan yang perlu dihubungkan lewat transportasi kapal laut.

Lebih lanjut, Wahyono menjelaskan, secara model bisnis dan kompetensi inti, Pelni, ASDP, dan Pelindo berada pada spektrum usaha yang berbeda. Pelni dan ASDP fokus pada angkutan penumpang dan penyeberangan yang sangat bergantung pada penugasan negara, sementara Pelindo bergerak di sektor kepelabuhanan dengan basis pendapatan utama dari jasa logistik dan terminal peti kemas yang relatif stabil dan menguntungkan.

"Memang tidak bisa digabung, memang beda ilmu. tidak boleh seharusnya digabung. Karena pemerintah mengalami kesulitan untuk mengembangkan kelanjutan keberlangsungan angkutan laut khususnya Pelni," kata dia.

Dalam pandangannya, jika merger tetap dipaksakan, maka beban subsidi yang sebelumnya menjadi tanggung jawab negara secara tidak langsung akan dipindahkan ke Pelindo melalui skema cross-subsidy. Hal ini berpotensi menekan kinerja keuangan Pelindo dan pada saat yang sama bisa mengganggu fokus perusahaan dalam memperkuat infrastruktur pelabuhan dan logistik nasional yang justru menjadi kunci daya saing ekonomi Indonesia.

Wahyono juga mengingatkan keberlanjutan angkutan laut, khususnya Pelni, seharusnya ditempatkan sebagai kebijakan strategis nasional, bukan sekadar persoalan efisiensi korporasi.

Menurutnya, rute-rute perintis yang dilayani Pelni memiliki fungsi vital dalam menjaga konektivitas antar wilayah, distribusi barang, serta mobilitas masyarakat di kawasan tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), sehingga logika bisnis murni tidak bisa dijadikan dasar utama dalam pengambilan keputusan.

Karena itu, dia menilai solusi yang lebih tepat adalah memperkuat komitmen negara melalui subsidi yang berkelanjutan, peremajaan armada, serta perbaikan tata kelola BUMN sektor transportasi laut secara terpisah sesuai dengan fungsi masing-masing. 

"Dengan begitu, tujuan pelayanan publik tetap terjaga tanpa harus mengorbankan kinerja BUMN lain yang beroperasi di sektor komersial," ujar dia.

(Dhera Arizona)


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
IHSG Menguat 0,44 Persen ke Level 8.984 di Penutupan Sesi I
• 16 jam lalukumparan.com
thumb
Harga Memori Naik Tajam, Laba Samsung Melonjak 200 Persen
• 16 jam laluidxchannel.com
thumb
Bantah Gaya Orde Baru, Golkar Tegaskan Pemilih Tetap Dilibatkan di Pilkada via DPRD
• 7 jam laludisway.id
thumb
Gaji PPPK Paruh Waktu Ada yang Hanya Rp250 Ribu Rp500 Ribu, BKN Ungkap Hal Ini
• 4 jam lalufajar.co.id
thumb
5 Kebiasaan Sepele ini Bisa Merusak Ginjal Anak di Masa Depan
• 17 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.