Parpol Ramai-ramai Dukung Pilkada melalui DPRD, Bivitri Susanti Curiga Pemerintah Juga Ingin Pilpres melalui MPR

fajar.co.id
1 hari lalu
Cover Berita

FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Wacana pilkada melalui DPRD tampaknya semakin menarik jadi pembahasan luas masyarakat. Terlebih, mayoritas partai yang memiliki kursi di senayan menyatakan setuju dengan ide tersebut.

Di tengah masifnya dukungan elite politik di pusat agar pilkada dikembalikan melalui DPRD seperti sebelum reformasi, menuair keprihatinan sejumlah pihak. Terutama mereka yang selama ini memang vokal memperjuangkan reformasi tetap tegak, sebagaimana keinginan elemen bangsa pada tahun 1998 lalu.

Sebagaimana diketahui, salah satu alasan pemerintah mewacanakan pilkada melalui DPRD karena praktik politik uang melalui pilkada langsung marak. Selain itu, biaya yang harus dikeluarkan negara untuk melaksanakan pilkada tersebut juga tidak sedikit.

Merespons hal itu, Pakar Hukum Tata Negara, Bivitri Susanti menyorot tajam keinginan pemerintah dan elite politik untuk mengembalikan sistem pemilihan kepala daerah melalui DPRD. Dia bahkan menuding, pengembalian tersebut sebagai wujud mengembalikan pola pemerintahan orde baru.

Karena itu, Bivitri menyebut jika wacana tersebut diwujudkan, maka pemerintahan Indonesia disebutnya masuk ke orde baru paling baru.

“Saya setuju, kalau dibilang kita nih seperti menghadapi orde baru yang paling baru gitu ya. New orde baru,” kata Bivtri dikutip dari YouTube Abraham Samad SPEAK UP, Selasa (6/1/2026).

DIa menebut, kalau nanti situasi ini benar terjadi, kepala daerah dipilih oleh DPRD lagi, dia memastikan suara rakyat tidak berguna sama sekali. Tidak punya kontrol dan tidak bisa minta akuntabilitas dengan baik, dalan konteks demokrasi.

Itulah, kata dia, yang dia maksud orde baru paling baru.

“Itu yang saya katakan sebagai orde baru yang paling baru. Karena pda masa lalu, persis begitu. Ruang politik kita sangat tertutup. Tidak ada saluran antara kita warga dengan siapapun yang memegang kekuasaan di atas sana,” terangnya.

Bivitri bahkan khawatir, wacana memilih pemimpin melalui DPRD itu tidak akan berhenti pada tingkat kepala daerah saja. Namun ada kemungkinan juga akan berlanjut pada tingkat pemimpin paling atas atau Presiden dan Wakil Presiden.

“Nah, yang harus kita khawatirkan adalah kalau logika itu digunakan, bahwa dipilihkan oleh DPRD adalah juga demorastis, maka nanti akan berlanjutlah logika itu, untuk bilang bahwa kalau begitu yang memilih presiden juga, seperti masa lalu saja. MPR,” jelas Bivitri. (Arya/Fajar)


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Trump Wajibkan Venezuela Pakai Dana Hasil Minyak untuk Beli Produk AS
• 18 jam lalubisnis.com
thumb
Trump: Uang Penjualan Minyak Venezuela Hanya Boleh untuk Beli Produk AS
• 22 jam laluviva.co.id
thumb
Terkendali, Inflasi Majene di Bawah Angka Nasional
• 17 jam laluharianfajar
thumb
United Tractors (UNTR) Bidik Penjualan Alat Berat hingga 4.500 Unit 2026
• 11 jam lalubisnis.com
thumb
Sepanjang 2025, Sudinhub Jakarta Utara Tindak 5.572 Kendaraan Pelanggar Lalu Lintas
• 14 jam lalupantau.com
Berhasil disimpan.