Tidak ada momen besar yang menandai kapan manusia mulai tertinggal. Tidak ada hari khusus ketika kita bisa menunjuk kalender dan berkata, “di sinilah semuanya berubah.” Yang ada hanyalah kebiasaan kecil yang berlangsung terus-menerus: membiarkan sistem merekomendasikan, membiarkan mesin memutuskan, membiarkan algoritma memilihkan apa yang dianggap paling relevan. Perlahan, nyaris tak terasa, posisi manusia bergeser dari pengambil keputusan menjadi penerima keputusan.
Perubahan ini tidak datang dengan paksaan. Justru sebaliknya. Ia datang dalam bentuk kemudahan. Kita merasa tetap berdaulat karena masih diberi pilihan, padahal pilihan itu sudah disaring jauh sebelum sampai ke tangan kita. Manusia tidak kehilangan kendali secara tiba-tiba. Ia menyerahkannya sedikit demi sedikit, atas nama efisiensi.
Kecerdasan buatan hadir dengan janji yang terdengar rasional: kecepatan, akurasi, dan optimalisasi. Dalam narasi ini, manusia diposisikan sebagai entitas yang bermasalah terlalu lambat, terlalu emosional, terlalu subjektif. Maka teknologi tidak lagi sekadar membantu, tetapi mulai mengoreksi cara manusia berpikir dan bertindak. Yang dianggap ideal bukan pertimbangan matang, melainkan keputusan tercepat.
Masalahnya bukan pada kecanggihan AI, melainkan pada logika yang menyertainya. AI tidak bekerja di ruang hampa. Ia dibangun dari data, dan data tidak pernah netral. Data dikumpulkan, dipilih, dan diolah oleh institusi yang memiliki kepentingan. Algoritma dilatih oleh perusahaan, diarahkan oleh tujuan ekonomi, dan dioptimalkan untuk keuntungan. Namun hasilnya disajikan seolah objektif dan ilmiah, seakan bebas nilai.
Di titik ini, terjadi pemindahan kuasa yang jarang disadari. Keputusan yang sebelumnya bisa diperdebatkan kini tampil sebagai hasil kalkulasi. Kritik dianggap tidak relevan karena “data berkata lain.” Rasionalitas berubah fungsi: bukan lagi alat untuk mempertanyakan kekuasaan, melainkan pembenaran atasnya.
Dampaknya paling terasa di dunia kerja. Produktivitas dijadikan ukuran utama nilai manusia. AI mempercepat proses dan memangkas waktu berpikir, sementara manusia dituntut menyesuaikan diri dengan ritme sistem. Mereka yang tidak mampu mengikuti kecepatan ini dianggap tidak adaptif. Padahal persoalannya bukan pada individu, melainkan pada standar keberhargaan yang ditentukan oleh logika mesin.
Kreativitas pun ikut tereduksi. Ia dinilai dari seberapa cepat bisa diproduksi dan seberapa mudah direplikasi. Proses panjang, keraguan, dan pencarian makna dianggap tidak efisien. Dalam sistem seperti ini, manusia tidak kalah karena tidak mampu, tetapi karena aturan mainnya diubah sepihak.
Ketertinggalan manusia tidak berhenti di ranah ekonomi. Ia merembes ke ranah pengetahuan. Algoritma menentukan informasi apa yang muncul, opini mana yang mendapat sorotan, dan wacana mana yang tenggelam. Publik merasa bebas memilih, padahal pilihannya sudah disaring. Ruang berpikir menyempit tanpa disadari. Yang sering muncul dianggap penting. Yang jarang terlihat dianggap tidak ada.
Di sinilah kebebasan berpikir berubah menjadi ilusi yang rapi. Kita tidak lagi menjelajah gagasan secara aktif, tetapi mengonsumsi apa yang dianggap relevan oleh sistem. Perdebatan publik tidak ditentukan oleh kekuatan argumen, melainkan oleh visibilitas algoritmik.
Masalah utamanya bukan karena AI lebih pintar daripada manusia. Masalahnya karena manusia berhenti mempertanyakan otoritas. Rekomendasi mesin dipercaya lebih dari pertimbangan moral. Skor lebih dipercaya daripada pengalaman. Prediksi lebih dipercaya daripada empati. Ketika terjadi kesalahan, kita kesulitan mencari siapa yang bertanggung jawab. Keputusan tidak lagi diambil oleh subjek manusia yang jelas, melainkan oleh sistem yang kompleks dan tak berwajah.
Di titik ini, kekuasaan menjadi kabur. Tidak ada pihak yang bisa dimintai pertanggungjawaban secara langsung. Kesalahan dianggap sebagai kegagalan sistem, bukan pilihan manusia. Etika melemah karena tidak ada subjek yang benar-benar bertanggung jawab.
Sering kali kita dihibur dengan argumen bahwa manusia akan selalu beradaptasi. Bahwa ini hanyalah fase awal revolusi teknologi. Namun argumen ini mengabaikan satu hal penting: adaptasi terhadap sistem yang tidak adil bukanlah kemajuan. Menyesuaikan diri tanpa ikut menentukan arah hanya akan mengukuhkan ketimpangan kuasa.
Sejarah menunjukkan bahwa teknologi selalu berpihak pada mereka yang memiliki akses dan kendali. Jika manusia hanya berperan sebagai pengguna pasif, maka masa depan akan ditentukan oleh segelintir pihak yang menguasai sistem. Dalam kondisi ini, manusia tidak tertinggal karena kalah cerdas, tetapi karena kehilangan posisi tawar.
Manusia yang mulai tertinggal bukanlah mereka yang kalah cepat dari mesin. Mereka adalah mereka yang kehilangan ruang untuk menentukan nilai hidupnya sendiri. Ketika kecepatan dijadikan standar kebenaran, ketika efisiensi dianggap lebih penting daripada keadilan, maka yang tertinggal adalah inti kemanusiaan: kemampuan untuk berpikir kritis, ragu, dan menolak.
Di era AI, pertanyaannya bukan lagi apakah mesin akan menggantikan manusia. Pertanyaan yang lebih mendesak adalah: apakah manusia masih ingin memegang kendali atas masa depannya sendiri, atau rela menyerahkannya demi kenyamanan yang tampak rasional. Jika kita terus memilih yang tercepat tanpa mempertanyakan arahnya, maka ketertinggalan ini bukan kecelakaan sejarah melainkan pilihan kolektif yang kita buat dengan sadar.





